4.5.12

Unyil Tak Pernah Habis

Sebuah berita cukup hangat meskipun tak terlalu panas hadir dari tokoh yang kerap memakai blangkon dan menggunakan kumis palsu nan baplang dalam setiap penampilannya. Ya, lelaki tua bernama Suyadi atau yang lebih akrab disapa Pak Raden menuntut hak-haknya terhadap 11 boneka Unyil yang sangat populer dalam sebuah serial boneka yang dahulu saban minggu menyapa di TVRI.

Apa dan siapa Unyil sebenarnya? Mengapa ia menjadi begitu maha penting untuk diperebutkan? Semua bermula Semenjak 5 April 1981. Ketika itu, minggu pagi selalu dinanti oleh ribuan anak Indonesia meski cerita drama boneka-boneka itu terkadang memiliki alur cerita yang membosankan. Film produksi PPFN ini memang cukup fenomenal di masanya, dengan teknologi yang dapat dikatakan sangat sederhana dan hanya berupa boneka tangan, Unyil menelusupkan pesan-pesannya, baik pesan untuk anak-anak maupun pesan yang dititipkan oleh pemerintah berkuasa di masa itu, sesuatu yang tak bisa dimungkiri.

Foto diambil dari id.wikipedia.org
Desa Sukamaju dengan “isinya” yang begitu beragam, baik perbedaan ras maupun agama sampai perbedaan sifat rajin dan pemalas seolah menjadi Indonesia mini, gambaran dari sebuah negara yang kala itu memang membutuhkan tokoh panutan bagi para generasi penerusnya. Satu gambaran ideal yang mungkin terlihat naïf namun justru memiliki nilai jual tinggi di tengah krisis identitas yang selalu menyerang semua lini kehidupan manusia-manusia yang tinggal di negara kepulauan ini. Melalui Unyil, kesantunan, keramahan, gemah ripah loh jinawi seolah menjadi gambaran nyata dari kondisi masyarakat Indonesia.

Jika beberapa waktu lalu serangan Upin Ipin merajalela menelusup ke kampung-kampung dan pasar-pasar becek, atau Doraemon tetap bertahan dengan baling-baling bambunya, Unyil justru jauh lebih hebat dari itu semua. Jika dikaitkan dengan kultur, Unyil bukanlah sekadar budaya pop semata. Ia mewakili kelompok masyarakat kecil sekaligus pula menjadi perwakilan dari kelompok penguasa dalam melakukan doktrinasi mengenai susunan ideal, tatanan  kelas-kelas dari struktur yang seharusnya ada di tengah masyarakat.


Tepikan sejenak mengenai Unyil dan tangan-tangan otoritas kala itu. Lupakan pula ucapan Harmoko, menteri paling nyentrik dengan kata-kata khas “atas petunjuk bapak presiden”, yang mengaitkan kepopuleran si Unyil dengan adanya kenyataan bahwa perilaku Unyil "sangat dekat dengan identitas dan martabat kebangsaan kita" yang begitu bermakna ambigu sekaligus sangat tendensius tersebut. Unyil dengan kesederhanaan yang dimilikinya adalah histeria paling hip yang mungkin hanya kalah dari gelaran Piala Dunia atau piala Uber Thomas.

Lokalitas yang diangkatnya begitu cult sekaligus menjadi tren bahkan hingga bertahun-tahun setelah awal kemunculannya. Unyil kemudian tak hanya menjadi sekadar drama boneka 30 menit semata. Ia dengan gilang-gemilang menjelma menjadi sebentuk kultur yang secara sadar maupun tidak sadar merasuk dan menghadirkan pandangan hidup dari masyarakat pada periode tertentu, bahkan dalam sebuah periodisasi yang sangat panjang jauh dari ekspektasi para penciptanya, tanpa peduli pada sisi mana ia berdiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails