24.5.12

Adu Domba Babakan Siliwangi

Wasit tak henti memandang ke tengah arena. Sang petarung bertatapan dengan penuh siaga. Pemilik domba mengangkat sebelah tangan, sejurus kemudian perintah menyerang diteriakkannya dengan penuh semangat, bersamaan dengan itu, kedua domba berlari melaju menghantamkan tanduknya ke arah lawan, pergulatan pun terjadi sebelum akhirnya para petarung itu kembali menyiapkan diri untuk serangan berikutnya. Selang beberapa detik setelah kedua petarung saling mengadukan tanduknya, riuh tepuk, sorak, sekaligus gerutu penonton menggema.


Begitulah gambaran yang terjadi pada acara Liga Seni Ketangkasan Domba Garut (LSKDG) beberapa waktu lalu. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) bekerjasama dengan Deperindag Agro Jawa Barat. Kegiatan ini memang cukup dipadati oleh para penggemar seni ketangkasan domba. Dede Ahmad, misalnya. Warga Cihampelas, Bandung yang mengaku sering menyambangi acara-acara sejenis ini bahkan membawa istri dan anaknya ke arena pertandingan. “Lumayan, hiburan untuk mengisi hari libur,” ucapnya ramah.

Pertunjukan seni ketangkasan domba memang terbilang jarang digelar di kota Bandung. Hal itu pulalah yang sepertinya menjadi penyebab utama mengapa acara yang digelar sedari pagi ini tampak begitu ramai dikunjungi. Sebagai bentuk dari sebuah tradisi dan budaya, adu domba memang menakjubkan sekaligus mencekam. Pertarungan demi pertarungan yang disajikan begitu seru serta menarik sehingga mata para penggemarnya terlihat begitu enggan memalingkan mukanya dari arena pertandingan walaupun hanya sesaat.

Peraturan pertandingan adu domba ini sendiri cukup unik. Dibagi ke dalam 3 kelas berdasarkan beratnya, Domba-domba yang bertanding diberikan kesempatan untuk saling silih pukul (menanduk) sebanyak 20 kali. Juri sendiri memberikan penilaian setelah tandukan yang ke-7. Penilaian yang dilakukan oleh tim juri didasarkan pada keberanian, ajeg-ajeg (kuda-kuda), serta penampilan domba yang tengah bertanding.

Peserta pertandingan pun datang dari berbagai penjuru Jawa Barat. Simak saja penuturan Nana Supriatna. Pria yang juga peserta lomba ini menyengajakan diri datang dari Banjaran dengan membawa 3 domba jagoannya. Ditemui di tengah-tengah keramaian acara, Nana yang tengah mempersiapkan dombanya berharap agar acara serupa semakin sering diadakan.


Hal senada diucapkan pula oleh R. Ondi. Anggota HPDKI yang berasal dari Rancaekek, Kab. Bandung ini telah 20 tahun menggeluti dunia seni ketangkasan domba. Bertarung di kelas A (di atas 75 Kg) dan B (65,5 Kg-75 Kg), Ondi sempat pula memamerkan domba kebanggaannya. “ Agar domba bisa jadi jawara (juara), ia harus dimandikan seminggu sekali. Domba juga tiap minggunya harus diajak berolahraga lari dan renang,” jelasnya singkat. Lelaki berusia 58 tahun ini juga memaparkan bahwa domba harus rajin diberi makan. Tidak sekadar rumput, domba petarung juga diberi makan sampeu (ubi), ampas tahu, jagung, serta berbagai suplemen dan obat-obatan khusus hewan.

Gelaran ini sendiri sebenarnya adalah sebuah gelaran yang telah dilaksanakan secara rutin, hanya saja, ia sempat vakum untuk beberapa saat dan barulah di tahun 2012 gelaran ini kembali diselenggarakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails