Follow by Email

Jumat, 13 April 2012

Sekelumit Kisah Sang Wayang Golek

Wayang adalah salah satu seni pertunjukan teater rakyat yang sangat dikenal meski penggemarnya dari hari ke hari kian tergerus. Jika di daerah Jawa bagian tengah dikenal wayang kulit, masyarakat Sunda pun memiliki wayang yang cukup popular dan dinamai dengan wayang golek. Menurut C.M Pleyte, masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal wayang pada tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi dalam Prasasti Batutulis. Pada awalnya, wayang golek dipertunjukkan berdasarkan pesanan kaum bangsawan, namun pada perkembangannya, ia menyebar dan kerap dipertunjukkan di tengah masyarakat dari berbagai lapisan.


Adapun asal-muasal wayang golek sendiri tidaklah begitu terang. Sebagian pihak ada yang mengatakan bahwa wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit, sebagian lainnya berujar bahwa ia diciptakan oleh Sunan Muria, seorang wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Konon, sang Sunan membuat wayang golek agar pertunjukan wayang dapat ditonton di siang hari. Wayang sendiri memiliki arti “bayangan”, atau dalam ranah tradisi, bayangan tersebut merupakan bayangan roh yang di dalam pengertian ini bayangan roh yang ditasbihkan dalam diri boneka kayu yang dinamai dengan wayang golek.

foto diambil dari id.wikipedia.org
Pada saat ini, dikenal tiga jenis wayang golek, Pertama yakni wayang golek papak (cepak) yang popular di daerah Indramayu, Cirebon. Wayang golek jenis ini mengangkat cerita babad dan legenda dalam pertunjukannya serta menggunakan bahasa kas Cirebon sebagai pengantarnya. Selanjutnya adalah wayang golek purwa. Wayang ini mengangkat cerita-cerita Ramayana dan Mahabrata dalam pertunjukannya serta menggunakan bahasa Sunda sebagai pengiringnya. Sedangkan yang terakhir adalah wayang golek modern. Mengangkat kisahan-kisahan yang berasal dari cerita Ramayana dan Mahabrata ataupun cerita karangan sang dalang, ia banyak menggunakan trik-trik untuk menonjolkan nuansa hiburan yang dimilikinya. Wayang golek modern sendiri dirintis oleh R.U. Partasuanda dan di masa kini dipopulerkan oleh dalang terkenal Asep Sunandar Sunarya.

Sama seperti pertunjukan wayang kulit, wayang golek pun kerap dijadikan sebagai salah satu sarana dakwah dalam kepentingannya untuk menyebarkan serta menanamkan ajaran agama. Meski demikian, wayang golek sendiri tak selalu menghadirkan unsur religius di dalam pertunjukannya, apalagi di masa sekarang, unsur hiburan menjadi penanda utama yang dimiliki oleh wayang golek, sebuah gerakan resistensi yang membuatnya menjadi lebih merakyat meski mungkin tak lagi mampu menyentuh masyarakat dari semua kalangan.
Google Twitter FaceBook

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails