6.4.12

Menghirup Segarnya Taman Ganesha


Pagi baru saja menjelang di sebuah minggu yang terlihat begitu cerah. Sengaja hari itu saya sedikit memaksakan diri untuk terjaga ketika matahari masih sedikit malu-malu menampakkan keperkasaannya. Setipis kabut terlihat berpendar menemani langkah saya hari itu, menyisakan gigil yang mencoba melawan dingin.  Udara segar, itulah yang membuat saya mau sedikit bersusah payah membuka mata begitu cepat ketika justru banyak warga kota ini yang masih memeluk selimut dan menikmati hari liburnya. Menghirup udara segar bisa jadi merupakan hal yang cukup sulit ditemui kini. Kendaraan bermotor yang kian hari kian bertambah, belum lagi semakin sesaknya kota Bandung membuat ruang hijau kota semakin berkurang dari waktu ke waktu. 



Hari itu, tujuan langkah saya hanya satu, mengunjungi Taman Ganesha yang terletak tepat di depan Kampus ITB. Adalah kabar tentang keasrian taman ini yang membuat saya sangat bersemangat menyambanginya di pagi buta. Tak sampai 15 menit mengayuh sepeda dari daerah Suci, saya pun tiba di taman tersebut. Nuansa hijau segera menyambut kedatangan saya. Beberapa kepala terlihat tengah duduk di bangku taman yang masih sedikit basah oleh embun.

Seorang pengunjung bernama Jaka Setia kemudian menjadi teman bercakap-cakap. Jaka yang pagi itu terlihat sedang duduk-duduk santai di salah satu pojokan taman mengaku sering melepas penat di tempat ini bersama keluarga. Bermodalkan tikar yang dibawanya dari rumah, ia mengatakan bahwa menikmati kesejukan alam di tengah kota ini sudah dilakoninya selama satu tahun terakhir. Ia kemudian mengaku bahwa pilihan untuk berpiknik di Taman Ganesha, selain tempatnya yang rindang dan asri, faktor pengeluaran yang relatif ringan jika menikmati liburan di tempat ini adalah salah satu pertimbangan penting yang membuat keduanya memilih untuk menikmati hari minggu di tempat ini.

“Yah… lumayanlah, ngabtoram (piknik) di sini tidak mahal, murah-meriah serta tidak perlu membayar tiket masuk, dan yang penting anak-anak saya bisa bermain-main di alam terbuka.” Ujar ayah dua anak ini. “Lagipula, anak saya sekarang selalu ribut kepingin main ke sini jika hari minggu tiba. Sudah ketagihan, apalagi anak saya yang paling besar, bisa nangis-nangis kalau hari minggu tidak diajak ke sini, “tambahnya kemudian sambil tersenyum.


Setelah berbasa-basi barang beberapa jenak, saya lalu mengucapkan permisi kepada lelaki baik hati tersebut. Kaki saya kemudian bergerak menyusuri sudut-sudut taman. Taman ini memang selalu ramai dikunjungi masyarakat pada setiap hari minggu. Memang, melepas penat di bawah rindangnya pepohonan setelah satu minggu lamanya bekerja adalah kenikmatan yang sulit dicari tandingannya.

Selain tamannya yang sejuk, kolam yang berada tepat di tengah-tengah taman juga memberikan kesegaran tersendiri kepada para pengunjungnya. Bangku-bangku taman bercorak hijau juga memberi kesan kedamaian sehingga membuat masyarakat yang ingin menikmati kesegaran betah berlama-lama duduk di taman ini. Satu hal yang pasti, aroma oksigen tak berbau polusi menjadi hal yang membuat saya begitu senang bertegur sapa dengan taman Ganesha. Menghembuskan dan menarik nafas di taman ini seakan menjadi hal yang begitu langka, bagaimana tidak, udara bersih memang rasa-rasanya sudah cukup lama tidak saya jumpai dalam kehidupan saya. Atas nama teknologi dan peradaban, oksigen pun lalu seolah terperkosa oleh karbon dioksida.

Tanpa terasa, arloji di tangan telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Beberapa kendaraan mulai terlihat melintas di sekitaran taman Ganesha. Saya kini berada di bangku taman yang terletak tepat di sebuah pohon yang begitu rindang. Terduduk, menikmati alam yang tengah menawarkan kebaikannya. Menghabiskan kebersamaan kami untuk beberapa saat lagi sebelum pertemuan kami berakhir di sebuah pekan yang tiba-tiba menerangkan betapa berharganya tanah tempat saya selama ini berpijak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails