16.3.12

Topeng Monyet Penghibur Jutaan Anak

Seringkali ketika melintas di jalan Djuanda, tepat di bawah jalan layang, saya selalu melihat sebuah pertunjukan sederhana tengah digelar. Pertunjukan yang dikenal dengan nama topeng monyet itu selalu begitu menggoda untuk dilirik. Sepintas, untuk beberapa detik, diantara deru dan debu kendaraan, saya selalu menyempatkan diri untuk menengok ke arah mereka. Namun kesibukan selalu menepikan hasrat untuk melihat pertunjukan itu berlama-lama. Sampai hari itu pun tiba. Ketika tengah mengaso di rumah seorang kerabat, sayup terdengar suara “tang ting tong” menyusup ke gendang telinga.


“ Ah, biasa. Paling juga topeng monyet,” ucap sang kerabat ketika saya menanyainya. “ Topeng monyet?!” ulang saya dengan cepat sedikit tergagap. Tanpa banyak bicara saya segera bergegas meninggalkan kerabat yang hanya bisa terlongo-longo itu.

Di salah satu sisi jalan tak jauh dari tempat saya mengaso tadi, segerombolan anak kecil tampak mengerubuti sesuatu.  Tepuk tangan ramai terdengar riuh-rendah. Benar adanya ucapan sang kerabat tadi. Pemandangan ajaib itu kini tersaji di hadapan saya, sebuah pertunjukan topeng monyet keliling tengah berlangsung. Kedatangan si topeng monyet memang tak dapat diduga. Ia kerap muncul di mana saja. Biasanya topeng monyet ini lewat dan diorder oleh warga untuk menghibur anaknya yang masih kecil.

Monyet yang menjadi pemeran utama dalam atraksi ini pasti dilatih terlebih dahulu sebelum pentas. Setiap atraksinya selalu diiringi gendang dari pawangnya. Rasa kasihan sempat muncul melihat monyet yang dirantai dalam atraksi topeng monyet tersebut, tapi setidaknya monyet itu sekarang tak perlu bersusah-susah untuk mencari makan meski kebebasan hidupnya kini dibatasi oleh sebuah rantai besi. Pertunjukan topeng monyet yang saya lihat hari itu sangat klasik, tak jauh beda dengan pertunjukan topeng monyet yang pernah saya lihat semasa kecil: monyet pergi ke pasar, naik motor-motoran, memikul dagangan, sampai atraksinya yang paling terkenal; pergi ke sawah sambil membawa pacul.

Entah mengapa, melihat keceriaan anak kecil yang tengah asyik melihat sang monyet beraksi, saya merasa seperti disuguhkan tawa lepas kesederhanaan penuh sahaja. Usai pertunjukan saya dekati pawang topeng monyet itu. Senyum mengembang ketika saya menyodorkan selembar lima ribuan. “ Sudah hampir empat tahun saya berkeliling,” jawabnya santai sembari membereskan peralatan pentas ketika ditanyai tentang profesi yang digelutinya itu.

Anto, pawang topeng monyet itu berkisah pula tentang bagaimana ia melatih sang monyet. Ia juga lalu menuturkan bahwa tak setiap pawang memiliki monyet. “Ya, ada juga yang menyewa. Kan, memang ada monyet-monyet yang disewakan untuk topeng monyet. Biasanya sih sehari sewanya sekitar tiga puluh ribu perak,” jelasnya kemudian.

“Kang Anto senang menjadi pawang topeng monyet?” Tanya saya perlahan. Lelaki muda itu terdiam sesaat.  “Ya, jaman sekarang mencari pekerjaan susah, jika memang hidup saya hanya bisa menjadi sebatas pawang, saya sih bersyukur saja,” ucapnya agak tertahan, “minimal saya bisa menghibur anak-anak,” ia lalu melanjutkan perkataannya.

Menghibur anak-anak. Ucapan Kang Anto terus terngiang, meminta untuk dipikirkan. Di sela kepasrahan nasibnya, pawang itu mungkin tak sadar berapa banyak jumlah anak-anak yang telah dihiburnya. Anak-anak yang orangtuanya mungkin tak mampu membelikan mainan-mainan mahal. Anak-abak yang tinggal di rumah-rumah mewah. Anak-anak yang belum paham benar tentang kerasnya hidup dan perjuangan yang menyelimutinya. Topeng monyet ternyata memang masih menjanjikan tawa bagi mereka yang hendak terhibur seperti yang telah saya lihat sore itu. Sebagai sebuah tradisi, topeng monyet telah berpuluh tahun berjalan, menyapa setiap anak yang dijumpainya. Pada wajah polos anak-anak yang tadi saya lihat, ada pancaran kegembiraan penuh ketulusan. Topeng monyet. Ya, ia adalah sebuah tradisi yang bisa jadi akan terus lestari di tengah anak-anak dan keceriaan yang melingkupinya.

2 komentar:

  1. Hmmm.. tapi kasihan juga sama monyetnya. apalagi topeng monyet yang suka ngamen di pinggir jalan, kasian... :(

    BalasHapus
  2. iya banget emng, tp ini yg d wawancarany mas2 yg benar2 ceesan ama monyetny kok, udh kyk pacaran berdua jg mrekany hihi

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails