23.3.12

Manisnya Gulali yang Kian Langka

Amir, demikian ia kerap disapa, dengan tekun memilin-milin cairan gula berwarna merah di tangannya tersebut. Cetakan beragam bentuk tersaji di kitaran kompor pemanas gula. Salah satu kotak tersebut ia ambil, lalu dengan cekatan ia masukkan gula panas tersebut ke dalam cetakan. Beberapa kali ia tiup sang cetakan, lalu, holaaa… gulali berbentuk mobil pun tercipta. Tak hanya mobil, berbagai jenis bentuk cetakan pun lengkap ia bawa, bahkan sampai bentuk-bentuk binatang pun tersedia, komplit, tinggal pilih sesuai pesanan!


Jajanan tradisional yang kian langka ditemui ini memang pernah populer di masanya ketika dahulu saya masih menggunakan celana pendek berwarna merah dalam menuntut ilmu, tapi tidak untuk hari ini. Adalah suatu hal yang cukup sulit menemuinya di tengah derap laju perkotaan yang kini makin menyisihkan penganan-penganan tradisional. Gulali sendiri terbuat dari gula pasir yang dipanaskan hingga mencair dan diberi pewarna makanan. Meski sangat sedergana, gulali merupakan favorit bagi banyak orang, namun, karena ia adalah jajanan jalanan, lambat laun popularitasnya merosot.

Harus diakui, pembuat gulali yang kian hari makin menipis itu, memang tak bisa sembarang orang. Diperlukan keahlian khusus, apalagi, adapula gulali yang dibuat dengan cara membentuknya dengan menggunakan tangan. Gulali berbentuk bunga contohnya, kreativitas sang pembuat sangat diperlukan ketika tangan-tangan terampil yang dimilikinya menarik-narik dan membentuk sang gula cair tersebut. 

Amir sendiri mengaku bahwa keahliannya membuat gulali itu didapatnya dari sang ayah yang sudah terlebih dahulu menghabiskan hari-harinya berdagang gulali. “Ya, ada yang turun-temurun, tapi ada juga yang belajar sendiri dengan bertanya ke temannya yang sudah terlebih dahulu berjualan, enggak susah, sih, sebenarnya, cuman ya… siapa, sih, yang mau berjualan gini kalau ada kesempatan lain,” lanjut lelaki muda ini kemudian menerangkan sembari mengelap bulir-bulir keringat di wajahnya yang tengah sengit bertarung dengan matahari.

Percakapan kami lalu terhenti karena serombongan bocah kemudian menghampirinya dan dengan asyik merecoki sang penjual muda tersebut dengan berbagai macam permintaan. Dengan cekatan ia ladeni beragam permintaan tersebut. Beberapa lembar uang ribuan kini telah berpindah ke tangannya. Lembaran-lembaran yang akan terus membuat gulali terus hadir meski dengan sedikit susah payah, melangkah dengan segenap keterbatasan yang dimilikinya,.

1 komentar:

  1. wah ini juga gulali ya? kalau permen kapas warna merah jambu ini pasti sudah gak asing lagi, yuk bisa kita buat usaha :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails