9.3.12

Kisah Dari Gurat Pepohonan

Hitam adalah bukan putih namun keduanya kerap disandingkan dalam perbedaan yang dimilikinya. Tak akan ada hitam tanpa adanya putih, demikian mungkin sekelebat tangkapan visual yang berhasil saya cerna dalam pameran “Hikayat Sang Pohon” karya Risca Nogalesa Pratiwi (Icha) yang tengah digelar di IFI Bandung. Hal tersebut seolah ditegaskan dengan penggunaan media kertas berwarna putih dengan guratan bolpoin hitam di atasnya.


Pun demikian halnya dengan drawing yang disajikan oleh sang seniman, lengkak-lengkuk juntaian pepohonan menjadi tema tunggal yang diangkatnya. Sama seperti hitam dan putih pun demikian pula pohon, juntaian bagian tubuh yang dimilikinya saling berseberangan, satu menjuntai langit, dan satu lainnya menghujam tanah. Lalu, seperti yang dituangkan dalam kuratorial pameran, pohon kemudian menjadi penyeimbang dari kekontrasan yang terjadi pada tubuh sang pohon tersebut, sama seperti halnya sang seniman yang kemudian menjadi penyeimbang antara hitam dan putih.

Unsur-unsur kehidupan menjadi kuat manakala menilik Hikayat Sang Pohon. Tak bisa dimungkiri, scara klasik, pohon adalah ibu dari segala kehidupan yang ada dan hadir di muka bumi. Bagi saya, pohon adalah Androgyn, penyatuan dua gender kuat berada di dalamnya. Bagi saya apakah ia perlambang perempuan atau laki-laki memang tidak menjadi urgensi dalam karya-karyanya.

Sebagai perlambang kehidupan, pohon-pohon yang dihadirkan oleh Icha seolah hendak mengetengahkan bagaimana manusia pada dasarnya tak terbatas pada gender yang dimilikinya semata. Kehadiran keduanya justru menjadi penyeimbang paling mujarab yang semakin mengokohkan eksistensi dari diri manusia itu sendiri. Hal paling terlihat di dalamnya kemudian adalah bagaimana manusia dan lingkungannya, dalam hal ini alam, memiliki keterkaitan yang sangat kental.


Aura magis tentu kerap mengikuti percakapan-percakapan yang berkenaan dengan alam dan manusia. Pada dasarnya, ketika membicarakan mengenai alam dan manusia, ia berbicara mengenai pandangan dunia bahwa penghayatan terhadap masyarakat, alam, dan alam adikodrati sebagai kesatuan yang tidak terpecah belah di mana di dalamnya berbicara mengenai pengetahuan, asal-usul, dan juga tujuan. Dalam kerangka yang lebih jauh lagi, ia hakikinya berujar mengenai alam numinus dan keakuan. Manusia harus sampai pada sumber air hidupnya apabila ia mau mencapai kesempurnaan dan dengan demikian sampai pada realitasnya yang paling mendalam. Dalam pandangan paling realistis, Hikayat Sang Pohon adalah cerita yang mencoba menggugah kesadaran mengenai realitas tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails