17.2.12

Menikmati Udara Tahura Juanda

Harum khas pinus dengan kicau sahut-sahutan burung yang berselimut kesejukan menjadi semacam “upacara penyambutan” siapapun yang mengunjunginya. terletak di Kecamatan Cicadas dan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung, Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda atau yang lebih dikenal dengan nama Dago Pakar ini memang memiliki nilai eksotisme tersendiri yang sangat spektakuler.



Dahulu, Tahura bernama Wisata Alam Curug Dago, namun semenjak diresmikan pada tanggal 14 Januari 1985, ia pun berganti nama seperti yang dikenal sekarang. Di samping keindahan yang dimilikinya, Tahura juga merupakan salah satu penyangga resapan air untuk daerah Bandung dan sekitarnya.Tahura sendiri memiliki tipe vegetasi hutan alam sekunder yang didominasi oleh jenis pohon Pinus (Pinus merkusii), Kaliandra (Calliandra callothyrsus), Bambu (Bambusa sp), dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti tumbuhan Teklan (Euphatorium sp). Untuk fauna, Berdasarkan hasil inventarisasi tahun 2003 tercatat sedikitnya sembilan fauna khas di tempat ini, antara lain burung kacamata (Zosterops palpebrosus) dan bondol jawa (Lonchura leucogastroides). Keunikan itu kian bertambah pula ketika pada Januari 2010 silam, Bunga Bangkai Amor Pahepalus Titanum setinggi 163 cm yang ditanam di THR Juanda telah mekar. 

Tentu saja tak hanya keindahan flora dan fauna semata yang dapat ditemui di tempat ini. terdapat juga objek wisata yang cukup menarik seperti Monumen Ir.H. Juanda, gua-gua peninggalan jaman Belanda dan Jepang, terdapat juga Kolam Pakar buatan sekitar 1,15 Hektar milik PLN yang berfungsi sebagai tempat penampungan air yang berasal dari sungai Cikapundung untuk sumber pembangkit tenaga listrik, serta 2 buah curug (air terjun) yaitu Curug Dago dan Curug Omas yang tingginya 35 meter.

Menelusuri gua-gua yang lebih akrab disebut gua Jepang bisa jadi merupakan salah satu hal paling populer di Tahura Juanda. Di gua ini terdapat empat lorong untuk masuk, di mana konon katanya lorong ke dua dan ketiga sebagai lorong jebakan. Walau minim cahaya, tak perlu khawatir, karena penyewaan senter dapat dengan mudah ditemui di sini. Lembab, gelap, dan dingin adalah kesan awal yang langsung menerpa saat mulai melangkah ke dalam goa yang dibangun pada tahun 1942 tersebut. Meski demikian, aroma historis yang begitu kuat membuat rasa takjub akan gua tersebut kian menjadi-jadi. Gua yang dibangun dengan menggunakan tangan-tangan pribumi pada masa kerja paksa romusha. Lorong penuh liku dengan dinding berbatu dan berlantai tanah menjadi teman karib ketika menelusurinya. Konon, gua ini dahulu dijadikan sebagai tempat pertahanan tentara Jepang. Selain itu, di sini terdapat beberapa gundukan tanah yang lebih tinggi dari permukaan yang dijadikan sebagai tempat istirahat dan tidur para tentara Dai Nippon Jepang.

Hanya berjarak sekitar 500 meter dari gua Jepang, terdapat pula sebuah gua yang bernama gua Belanda yang dibangun pada tahun 1918. Awalnya,ia dibangun untuk dijadikan terowongan PLTA Bengkok. Namun, ketika akhirnya pecah perang dunia ke-2 yang melibatkan Belanda bersama tentara Sekutu, gua ini berubah fungsi menjadi Pusat Stasiun Radio Telekomunikasi Militer Hindia Belanda dan sebagai gudang senjata serta amunisi. Berbeda dengan guaa Jepang, gua Belanda lebih baik karena sudah direnovasi.. Dindingnya pun sudah menggunakan semen. Di dalam goa ini terdapat beberapa ruangan, seperti kamar untuk tidur bagi tentara Belanda. Selanjutnya adalah ruangan untuk interogasi para tahanan, berjalan beberapa menit kita akan tiba di sebuah ruangan yang digunakan sebagai penjara. Selain itu, di goa ini juga masih terdapat bekas rel roli yang digunakan untuk segala macam pengangkutan.

Rasa-rasanya, untaian kata-kata yang telah sedemikian panjang ini tak dapat mewakili secara utuh keindahan sekaligus keunikan Tahura Juanda. Sambangilah ia, dan sebuah pengalaman maha hebat mungkin akan ditemui. Pengalaman hebat dalam belaian udara sejuk khas Bandung Utara.
(Nunuw)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails