3.2.12

Memertahankan Reog Ala Sunda

Dikomandoi oleh dua orang instruktur, puluhan penabuh Dogdog itu serempak membunyikan alat yang dibawanya. Ketukan demi ketukan kemudian bergema saling sahut menyahut dalam susunan simphoni yang cukup sulit untuk diuraikan dengan kata-kata.


Mungkin sebagian besar dari kita lalu akan bertanya-tanya penuh kebingungan, alat musik apakah sebenarnya Dogdog? Dogdog adalah alat musik pukul yang biasa digunakan dalam pagelaran Reog Sunda. Reog? Ya, seperti halnya Jawa Timur yang dikenal dengan Reog Ponorogonya, tanah Pasundan pun sebenarnya memiliki Reog. Hanya saja, jika di Jawa Timur Reog yang dimilikinya menggunakan Barongsai, tidak demikian halnya dengan Reog yang dimiliki oleh Jawa Barat. Reog ala sunda hanya menggunakan alat musik sebagai medium berkeseniannya.

Seni reog ini disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat di pedesaan dan sebagian kecil masyarakat perkotaan karena mengandung unsur hiburan dan daya tarik irama gendang. Namun sekarang ini pemain dan kelompok organisasinya semakin sulit untuk dijumpai. Kalaupun ada mereka itu biasanya dari kelompok generasi tua. Pertunjukannya pun sudah semakin jarang karena tidak ada atau sangat kurangnya permintaan untuk tampil.

Kewajiban untuk memunculkan Reog Jawa Barat di kancah yang lebih luas tampaknya memang harus segera dimulai. Adapun keinginan untuk mendaftarkan bermacam kesenian Jawa Barat termasuk Reog dengan Dogdognya ke dalam HAKI dengan demikian sebenarnya didasari oleh adanya hasrat agar kesenian ini diakui secara nasional maupun internasional. Kita semua mungkin masih teringat dengan kasus Reog Ponorogo yang diklaim secara sepihak oleh Malaysia, pun demikian halnya dengan beberapa motif batik dan permainan Congklak. Yang cukup menghebohkan tentu saja adalah masalah lagu “Rasa Sayange” yang sempat memunculkan polemik berkepanjangan serta keretakan hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

PBB akhirnya kemudian memang turun tangan dan membatalkan hak paten yang telah dikantongi Malaysia. Namun bukan tak mungkin kasus serupa akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Bukan tak mungkin pula jika kemudian Reog Sunda sebagai salah satu kesenian tradisional yang selama ini kurang mencuat bisa jadi akan di klaim oleh negara lain.


Tradisi, tak bisa dipungkiri, memang seringkali dianggap remeh. Kesenian rakyat yang dianggap lahir dari kebiasaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat adakalanya dibiarkan berjalan sendiri saja tanpa arahan yang jelas. Padahal tak bisa dinafikan, banyak dari kesenian tradisional yang dimiliki oleh bangsa ini telah berhasil mengangkat nama Indonesia di dunia internasional.

Namun sebenarnya, langkah awal yang seharusnya lebih dulu dilakukan untuk mewujudkan itu adalah dengan memiliki kebanggaan terhadap tradisi yang kita punyai terlebih dahulu. Setelah itu barulah kita dapat berbicara mengenai kepemilikan dan pewaris sah dari sebuah tradisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails