24.2.12

Buku dalam Dunia Fantasi

Mendengar kata “buku”, yang terlintas di benak sebagian besar manusia di seentaro jagad ini mungkin adalah jalinan huruf yang menyusun kata demi kata. Sedemikian bermaknanya kata yang bermakna di dalamnya tersebut, “isi” kemudian menjadi sedemikian bernyawa. Bentuk kemudian seolah menjadi prioritas nomor dua atau mungkin bukan prioritas sama sekali. Entah ia besar, kecil, terkoyak di beberapa bagian, atau hanya berupa stensilan semata. Pemahaman bentuk dalam buku yang kadung terlanjur begitu bermakna dalam isi memang kerap tersisihkan bahkan terlupakan sama sekali.




Gejolak ini pula sepertinya yang lalu diangkat secara ringan namun menggelitik oleh empat seniman muda dalam sebuah pameran bertajuk Book Play yang digelar di U&KL. Meski tak sempat menghadiri pembukaan pameran dikarenakan penyakit udik yang tanpa permisi menghinggapi pipi saya, rasa penasaran tak sedikitpun mengendur untuk menyambanginya. Adalah Tarlen Handayani, Keni Soeriaatmadja, Dewi Aditia, dan R.E. Hartanto yang menjadi biang kerok dari ke semua ini. Alih-alih mengangkat buku dan isinya, keempatnya kemudian lebih memilih untuk menjadikan buku sebagai inspirasi bentuk. Buku kemudian dihadirkan dalam tampilannya yang jauh dari kacamata umum, buku kemudian dimasukkan dengan riang gembira dalam bentuk rupa 3 dimensi.


Book Play harus diakui memberi sensasi berbeda dalam pengalaman membaca. Pun demikian pula halnya dengan proses pencernaan makna yang berada di dalamnya. Ada jalinan kertas demi kertas yang digubah menjadi bentuk naga melingkar, buku berwarna hitam yang diurai menjadi berbagai bentuk binatang, huruf-huruf dalam buku tua yang dipotong sedemikian rupa bertransformasi menjadi teks baru, sampai tuangan lukisan yang berkisah layaknya buku dongeng masa kecil.


Mungkin, apa yang disajikan oleh Book Play belumlah masuk dalam taraf gila, namun, jika proses membaca adalah proses memahami fantasi yang dihadirkan oleh kepala, maka Book Play adalah bentuk fantasi paling liar dari manusia-manusia penggemar buku. Fanatisme dengan aura menyegarkan. Memang, buku harus diakui sebagai salah satu media yang mampu memberikan fantasi bagi penikmatnya, bahkan sampai detik ini, meski ia harus berdiri di tengah kepungan teknologi yang dengan jumawa kerap menampilkan banyak hal-hal baru. Pepatah uzur yang mengatakan bahwa  melalui buku kita membaca dunia, melalui buku pula kita lalu belajar menerjemahkan dunia pada akhirnya diubah menjadi definisi yang jauh lebih merakyat oleh Book Play. Ya, membaca buku adalah hal sederhana. Melalui buku kita menjadi manusia bebas. Sebebas fantasi yang dihadirkan di dalamnya. Hei, ini buku! Bukan penjara yang mengkrangkeng pemikiranmu! Selamat membaca.
*Foto diambil dari Facebook R.E. Hartanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails