27.1.12

Chapter I -Akhir Kisah Penantian Mogus-

Beberapa bulan yang lalu, siang yang membakar terusik oleh sepenggal pesan singkat pada telepon selular. Moelyana a.k.a Moel adalah biang keladi sang pengusik  siang maha durjana tersebut. “Nu, pangeditin buku Mogus Koloni, lah…”, demikian pesan singkat itu berujar. Beberapa kertas maya pun meluncur ke email. Sedikit demi sedikit, meski dengan intensitas yang tak terlalu berlebih, dunia permogusan yang digagas Moel lagi-lagi menelusup begitu saja dalam keseharian saya yang cukup rumit ini.

Moel, sang penggagas Mogus, adalah kreator paling gigih yang jarang saya temui di dunia serba instan seperti sekarang. Setiap pertemuan dengan Moel adalah pertemuan dengan jari jemari padat bergizinya menari-nari di antara tumpukan benang rajutan. Pemandangan yang selalu saya temui semenjak mengenal Moel bertahun silam. Sepemahaman saya, sekumpulan monster gurita yang dinamainya Mogus itu memang obsesi terbesar Moel.



Penantian bertahun lamanya itu pun kemudian pecah. 21 Januari 2012 lalu, bertempat di Galeri Gerilya, kegigihan Moel itu menampakkan sosok yang sebenar-benarnya. Hamparan gurita dengan pernak-pernik lelautan lainnya dengan penuh semangat membara menampilkan keutuhan dari konsistensi Moel selama ini. Sudah barang tentu bukanlah perdebatan panjang jikalah berbicara mengenai pameran bertajuk “Mogus World” yang digagasnya tersebut. Secara keseluruhan konsep dan secara karya nyaris tak ada cacat dalam pameran tersebut. Ya, 2 thumbs up untuk Moel!

Kekaguman terbesar saya pada Moel justru bukan terletak pada karya-karya yang dibuatnya. Namun, laksana sekolah, pun demikian pula halnya dengan Mogus. Ini adalah pameran dengan persiapan terlama yang saya ketahui dan pameran dengan pra-event (jikalah segala aktivitas Moel untuk mengenalkan sosok Mogus kepada para khalayak dalam berbagai kesempatan dapat disebut pra-event) terbanyak pula yang saya saksikan.

Konsistensi untuk menciptakan Mogus adalah konsistensi tergila yang pernah saya temui. Seorang Moel, dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimilikinya seorang diri tekun merangkai satu demi satu benang-benang tersebut sampai menciptakan berbagai jenis karakter Mogus yang baru saja kita nikmati dalam “Mogus World”. Sebenar-benarnya seniman, Moel dijamin dua juta persen adalah salah satunya. Seniman dalam pengertian menciptakan karya sendiri dalam bentukan estetis yang dimilikinya maupun selipan pesan yang terdapat di dalamnya. Jika pada masa kini sebagian pelaku seni menghambakan diri pada galeri dan menjadikan karya seni layaknya deadline berita pada koran harian tidak demikian halnya dengan Moel. Atas dasar itu pula, Moel tak memerlukan artisan alias “teknisi pribadi” yang kini praktik-praktiknya kerap menyerupai pekerjaan seorang ghost writer dalam khazanah tulis-menulis.

Pada akhirnya, keluarga Mogus yang diciptakan oleh lelaki bertubuh subur ini menjadi sebuah karya seni yang utuh. Tak ada kongkalikong para tukang dan penadah di dalamnya. Moel adalah Mogus. Mogus adalah Moel. Tabik Moel! Long  live Mogus!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails