6.1.12

Berguru Pada Perpustakaan

Barisan rak yang berjajar rapi itu memajang ratusan buku. Sebagian diantaranya terlihat agak kumal dan berdebu. Meski demikian, beberapa kepala seolah tidak peduli dengan kekusaman tersebut. Dengan tekun mereka yang umumnya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa tersebut membaca halaman demi halaman buku yang berada di genggamannya. Raut itulah setidaknya yang nyaris selalu terlihat pada keseharian Perpustakaan Daerah Jawa Barat yang berada di salah satu sisi jalan Bypass Soekarno Hatta.   

Lengang, mungkin demikianlah satu kata yang dapat mewakili keberadaan perpustakaan yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Jawa Barat tersebut. Padahal, sebagai sumber informasi, perpustakaan adalah surga. “Mungkin minat baca masyarakat kini tidak terlalu tinggi, sehingga keberadaan perpustakaan pun agak terpinggirkan,” ungkap Maman Suhaery, salah seorang petugas, mencoba memberikan analisa ringan. 



Rendahnya minat baca ini telah banyak dikemukan oleh para ahli di antaranya oleh budayawan ternama Ajip Rosidi dan Taufik Ismail. Menurut Ajip Rosidi penerbi­tan buku di Indonesia saat int sekitar 12 ribu judul buku setiap tahun dengan oplah hanya dua sampai tiga ribu setiap judul bagi bangsa dengan penduduk 225 juta niscaya tidak berarti apa-apa. Sedangkan menurut Taufik Ismail di Indonesia telah terjadi defisiensi budaya yang sudah luar biasa parah dan sudah berlangsung 55 tahun lamanya. Berdasarkan penelitian beliau terhadap buku-buku sastra wajib di sekolah menengah atas untuk melihat tingkat minat baca siswa maka disimpulkan bahwa telah terjadi sebuah ”tragedi nol buku” di Indonesia.

Kembali ke perpustakaan. Sebenarnya, apa yang terbayang di benak ketika mendengar kata “perpustakaan”? Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri. Ironisnya, Badan Perpustakaan Daerah (BAPUSDA) sendiri, sebagai Perpustakaan yang membina seluru perpustakaan yang ada di wilayah Jawa Barat, keberadaannya cukup memprihatinkan dan kurang layak untuk dijadikan model pengelolaan perpustakaan. Sampai hari ini pelayanannya bahkan masih dilakukan secara manual alias belum terkomputerisasi. Padahal, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga menggunakan teknologi digital dalam penyimpanan buku serta data yang dimilikinya.



Meski fasilitas yang ada belumlah cukup memadai, namun bagi para pecintanya, perpustakaan, bagaimanapun bentuk dan rupanya, betul-betul memberikan jasanya dalam memberikan ilmu dan informasi. Tengok saja perkataan Diana Maryana, seorang pengunjung yang mengaku setia bertandang ke perpustakaan Jawa Barat tersebut. Perempuan yang tengah berusaha mendapatkan gelar magisternya ini berucap bahwa perpustakaan membantunya untuk menambah wawasan tanpa perlu biaya tambahan. “Saya merasa, perpustakaan daerah yang satu ini, mesti ala kadarnya, namun sudah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi saya pribadi. Buku-buku bacaan dari hari ke hari harganya kian merangkak naik, dan perpustakaan adalah penolong utama bagi para penggemar buku seperti saya,” jelasnya panjang lebar.



Di samping minat baca dan minimnya fasilitas, bisa jadi, kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan adalah hal yang sudah semestinya menjadi perhatian. Paradigma berpikir yang cenderung mengatakan bahwa perpustakaan adalah menara gading yang tak memberikan implikasi praktis dalam kehidupan nyata haruslah disingkirkan jauh-jauh. Mengapa? Karena budaya literasi informasi sebenarnya sangat menentukan tingkat kemajuan suatu masyarakat. Literasi informasi sendiri adalah kemampuan seseorang dalam mengakses, mengolah, dan menggunakan informasi. Maha pentingnya literasi informasi ini salah satunya dikemukakan oleh Hartoonian, seorang politikus AS yang mengatakan bahwa “ if we want to be a superpower we must have individuals with much higher levels of literacy”. Atas dasar itu pula, Negara maju seperti Jepang mengupayakan budaya literasi kepada masyarakatannya sejak dimulainya Restorasi Meiji satu abad yang lalu, dan sekarang kita saksikan, negara ini menjadi raksasa ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Nah, menilik sekelumit singkat tentang perpustakaan di atas setidaknya memberikan gambaran nyata tentang penuh manfaatnya sebuah tempat dengan tumpukan-tumpukan buku tersebut. Ingin menambah wawasan? Yuk, berguru pada perpustakaan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails