Senin, 31 Oktober 2011

Menjadi Kecil Itu Pilihan


Tobucil jepretan Chandra Mirtamiharja
Berbagi pengalaman dan suka dukanya membangun Tobucil & Klabs bersama Tarlen Handayani (@vitarlenology)  pendiri dan pengelola Tobucil & Klabs dan Vitarlenology 


Aku sering sekali di tanya, apakah suatu hari nanti tobucil akan menjadi tobusar alias toko buku besar? meski seringnya kujawab sambil bercanda, tapi aku serius ketika bilang, tobucil akan tetap menjadi tobucil. Karena tobucil tetap memilih menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawabanku bisa menerima meski mungkin ga ngerti-ngerti amat dengan maksudku 'tetap menjadi kecil' , tapi sebagian lagi biasanya langsung protes dan merasa aneh dan menganggapku tidak punya cita-cita besar dan tidak mau mengambil resiko menjadi besar. Biasanya aku akan balik berkata pada mereka yang merasa aneh itu, 'memilih tetap kecil itu bukan pilihan yang mudah loh.'

Mungkin ada teman-teman yang kemudian bertanya, 'mengapa menjadi kecil itu bukan pilihan yang mudah?' bukankan kecil  itu sepele, remeh dan sederhana? Ketika memulai sebuah usaha dari hal yang kecil, remeh dan sederhana, itu menjadi hal yang mudah dilakukan. Namun jika sebuah usaha sudah berlangsung sepuluh tahun dan tetap memilih jadi kecil, hal ini tidak lagi jadi pilihan yang mudah.

Dalam menjalankan usaha, waktu akan membawa kita pada masa pertumbuhan dan tempaan. Tahun-tahun pertama (tobucil dua tahun pertama) adalah masa bulan madu, dimana semangat masih menggebu-gebu, energi masih melimpah ruah, kesulitan dan masalah belum menjadi hantaman berarti, kerjasama masih terasa manis dan romantis. Ketika masa bulan madu berakhir, masa tempaanpun dimulai. Usaha yang kita bangun seperti dipaksa masuk ke dalam kawah candradimuka. Kongsi yang bubarlah, modal habis keuntungan belum juga nampak, mulai bosan karena usaha seperti jalan di tempat, tuntutan kebutuhan pragmatis (apalagi bagi yang sudah berkeluarga), jika tak tahan dengan tempaannya, ya kelaut aja. Usaha bubar jalan dan mungkin malah bikin kapok seumur-umur. Sementara jika berhasil menjalani semua tempaan itu, usaha kita akan naik tingkat. Kita akan menemukan formula untuk bertahan hidup dan bukan hanya itu saja, pintu-pintu menuju kesempatan yang lebih besar tiba-tiba terbuka lebar. Tiba-tiba segalanya jadi mudah, segalanya jadi mungkin dan kita merasa mampu menjalankan segalanya (padahal baru lulus tingkat satu doang). Seperti anak yang baru duduk di bangku kuliah dan merasa tahu banyak hal. Cobaannya bukan lagi hal-hal yang sulit, tapi cobaan datang dalam bentuk tawaran-tawaran yang menggiurkan. Selanjutnya baca di sini


Google Twitter FaceBook

Minggu, 30 Oktober 2011

Yang Beruntung Mendapatkan 1st Give Away Tobucil Handmade

Siapakah yang beruntung mendapatkan 1st give away tobucil handmade? Mayang dan Theo membantu memilihkan dua orang pemenang untuk give away kali ini:

Wahh mauu...
menurut saya blog Tobucil ini banyak pahalanya ;) soalnya ga pelit ilmu buat dibagi-bagi.. Karakter penulisannya juga 'down to earth', mudah dipahami dan menurut saya sangat bagus utk dibaca semua kalangan. Dari blog Tobucil ini saya juga banyak dapet inspirasi, ilmu-ilmu baru, dan jadi tau crafter-crafter hebat di Indonesia. Semoga Tobucil terus semangat dan maju terus pantang mundur meramaikan kancah crafting Indonesia!! :D

-luv,Cic
Alwenia :-? mengatakan...
Ikutaaaaaan! Kalo kata aku blog tobucil tuh asyik dan inspiratif bangeeet. Soalnya dimulai dari baca blog tobucil ini aku jadi semangat pingin mulai crafting lagi. Terus dari sini juga aku tau banyak crafter-crafter indonesia yang bikin motivasi crafting aku tambah dibanding cuma doodle-doodle aja biasanya. Dan gara-gara blog ini juga aku kepingin banget ke Jl.Aceh no.56 Bandung yang waktu itu aku sampe jalan sepanjang jalan aceh walaupun akhirnya belum nemu juga -,- Keep creative and awesome tobucil ;-) And i wish i can get there soon!
- alwenia.blogspot.com


Kirimkan alamatnya ke tobucil@gmail  biar tobucil bisa segera mengirimkan hadiahnya atau hadiah bisa diambil langsung ke alamat tobucil Jl. Aceh 56 Bandung  Senin s/d Minggu Pk. 09.00 -20.00 WIB

Sampai jumpa di give away selanjutnya.. :)
Google Twitter FaceBook

Jumat, 28 Oktober 2011

Berputar 360 Derajat

Menikmati foto karya Chandra Mirtamiharja ibarat berdiri di tengah bola dan berkeliling di dalamnya. Yap, menjahit ternyata tidak hanya milik mutlak para penggila jarum, melalui foto, lelaki cepak ini menjahit satu demi satu fotonya dan menghadirkan sebuah sensasi baru menikmati foto. Percakapan ini pun lalu menyelusup menjadi sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Panorama 360 derajat…


Chandra, kan, sempet memfoto Tobucil dengan hasil yang “melendung-lendung” gitu, hehe, ceritain dong tentang teknik foto itu..
Jadi itu namanya foto panorama 360 derajat. Sebenarnya tekniknya sama, ya, dari jaman dulu bikin lukisan, lukisannya itu bentuknya panorama. Lalu ketika muncul fotografi, tercipta kamera yang bisa menangkap dengan sudut pandang yang lebih luas. Nah, kalo kita liat di jaman sekarang, lensa itu ada yang sudah bisa bergeraknya berputar, jadi lensanya itu bisa “berkeliling” untuk nangkep objeknya. Kalo yang aku bikin kemarin itu panorama dengan lensa fix, jadi digabung. Jadi beberapa ngambil foto secara keliling atas dan bawah kemudian digabungkan menjadi satu dengan menggunakan software. Lalu kenapa bidang itu melengkung? Jadi kita itu seperti di dalam bola dan melihat berkeliling. Nah, si foto itu hasilnya bulat lalu dipotong dan dilebarkan sehingga kita melihatnya menjadi melengkung.

Tobucil dalam 360
Kamu, kan, baru ya, menekuni teknik yang satu ini. Kenapa kamu bisa tertarik?
Ya, tadinya aku memang lebih intens ke fotografi konvensional. Terus tertarik ke panorama 360 derajat itu jd awalnya lihat website yang khusus foto-foto 360 derajat. Lalu saya search Indonesia, ada 200-an foto, dan ketika search Bandung ternyata cuman ada lima foto. Itupun yang bikinnya orang Jakarta, enggak ada orang Bandungnya. Kan, sayang banget, ya. Padahal di Bandung itu banyak tempat-tempat yang bagus. Akhirnya aku mencoba bikin. Itu dimulai dari Agustus kemarin. Bahkan untuk foto yang Indonesia itu, meski sudah ada 200-an foto, rata-rata itu yang moto bule, jadi orang Indonesianya sendiri masih jarang banget yang moto 360 derajat.

Bandung Traffic Park, Bicycle Park
Apa, sih, yang menarik dari 360 derajat dibanding foto-foto konvensional
Kalau foto-foto biasa, tuh, kita terbiasa ngeliat sudutnya sempit, ya. Jadi ada fokus ke satu bidang. Ternyata ada tempat-tempat menarik kalau kita melihatnya secara menyeluruh. Cuman kalau kita melihatnya secara terpisah-pisah mungkin kurang enak, lebih nikmat jika bisa ngelihatnya sekeliling. Caranya, ya dengan teknik 360 derajat ini.

Oh, ya. Chandra sendiri seneng foto-fotoan itu dari kapan?
Seneng fofotoan itu dari tahun 1997. Dulu masih motret pake film, belum ada yang digital. Sempet ngalamin make kamera-kamera lommo juga. Tapi aku emang sendiri, sih. Jarang ikut club-club. Jadi saya sempet berenti moto, terus sempet ngerjain animasi dan desain grafis. Jadi foto sempet cuman dijadikan hobi. Nah, pertengahan 2011 ini baru mau mulai lagi.

Ciroyom Traditional Market
Balik lagi nih ke 360. Apa, sih, susahnya dari teknik ini?
Kalau fotografi biasa, kan, lebih instan, ya. Kalau ini enggak. Kepala tripod yang digunakannya pun, kan, rada khusus, ya. Bisa juga, sih, manual aja pake tangan. Jadi ada tekniknya juga make tangan. Tapi mungkin tingkat akurasinya tidak seakurat kalo make tripod khusus ini. Kesulitan terbesarnya, sih, sebenarnya saat menjahitnya di software, ya. Jadi butuh proses.
 
Konsep fotonya itu jadi seperti apa, ya?
Ya, jadi dia bentuknya seperti tour.  Jadi misalnya satu lokasi atau event semuanya 360 bentuk dokumentasinya. Kalau diluar sudah umum, ya. Apalagi ditunjang dengan internetnya yang berkecepatan tinggi.

Video Mapping Projection, Gedung Sate, Bandung
Gimana, nih, prospek bagi fotografer yang menekuni teknik ini?
360 itu kan di Indonesia masih jarang enggak kayak diluar. Masalah pertamanya, kan, bandwitch. Jadi kalau di post di internet filenya gede-gede dan mungkin jadi berat kalo di Indonesia. Tapi seiring perkembangan, internet di Indonesia kan makin cepet. Jadi masalah-masalah itu bisa teratasi.

Bandung from Grand Mosque Tower
Kalo Chandra sendiri sebenarnya pengen mengejar apa dengan intens menekuni fotografi dengan teknik ini?
Mengejar apa, ya? Hehe. Selain karena masih sedikit yang motret, jadi bisa untuk bekerja juga kayak misalnya foto promosi wisata, hotel, dan sebagainya. Kalau target untuk Bandungnya, sih, ya.. untuk dua tahun ke depan mah pengennya Bandung itu punya website 360 sendiri. 
Twitter : @mirtamiharja

Google Twitter FaceBook

Lalu Lalang Taman Lalu Lintas

Pagi masih menyisakan kesegarannya, beberapa pejalan kaki terlihat lalu-lalang berseliweran menikmati hari yang baru saja dimulai itu. Saya berjalan sendiri saja menikmati sejuknya kota Bandung. Melintas jalan Sunda untuk kemudian masuk ke jalan Bangka dan langkah saya tiba-tiba saja terhenti ketika memasuki jalan Belitung. Adalah sebuah taman nan asri yang terdapat di jalan itu yang membuat langkah mendadak terhenti.


“ Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani,“ dalam hati saya membaca papan nama besar yang terpampang di depannya.Untuk beberapa detik saya hanya termangu, Pikiran saya lalu tiba-tiba saja melayang pada masa-masa kecil.  Menyambangi sang taman bersama bunda tercinta di sebuah hari libur yang indah, berlari ke sana kemari dalam perspektif bocah. Memang, rasa-rasanya hampir semua kanak-kanak yang melewatkan masa kecilnya di kota ini pastilah pernah mengunjungi Taman Lalu Lintas. Atas nama memoria itu pulalah saya kemudian seakan mendapat komando untuk kembali memasukinya. Seorang petugas yang ramah menyambut kedatangan saya. Transaksi kemudian berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, tiket masuk seharga empat ribu rupiah itu berada dalam genggaman.

Jantung saya sedikit berdetak di atas normal ketika kaki menjejak masuk ke dalamnya.  Mata saya lalu langsung disambut dengan rindangnya pepohonan. Puluhan rambu-rambu lalu lintas terpasang manis di beberapa sudutnya. Di depan sebuah rambu, seorang ibu tengah menerangkan arti dari rambu tersebut kepada sang anak. Di sisi taman yang lain, seorang anak begitu bergembira di atas pundak ayahnya. Mulutnya menyunggingkan senyum menikmati hari liburnya. Di belakang ayah dan anak tersebut, seorang bocah perempuan tak henti-hentinya mengoceh di atas sepeda yang sedang dikendarainya. Memang, taman yang satu ini sangat pantas menjadi satu alternatif tempat rekreasi murah meriah yang layak dikunjungi keluarga ketika berlibur. Beragam permainan anak plus suasana alami berupa pemandangan hutan kota bisa dinikmati di sini.

Usai melepas ketakjuban, saya lalu iseng menghampiri seorang lelaki yang tengah serius mengawasi wahana permainan berbentuk miniatur jalan-jalan perkotaan tersebut. Petugas itu lalu membalas sapa saya dengan ramah. Lelaki yang telah bekerja di Taman Lalu Lintas selama hampir lima tahun ini kemudian mengatakan bahwa Taman Lalu Lintas memang merupakan tempat yang sangat cocok untuk memberikan pendidikan keamanan dan ketertiban lalu lintas kepada anak-anak agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari demi keselamatan diri sendiri dan orang lain.

“ Taman ini juga memberikan pengetahuan dan pengertian mengenai Palang Merah Indonesia (PMI), perkeretaapian, pos dan giro, transportasi udara, musik, dan kemiliteran,” lanjut petugas bernama lengkap Muhammad Syamsu itu dengan panjang lebar.

Kaki saya kembali melangkah seusai percakapan dengan sang petugas. Sebuah kereta yang melintas di jalurnya kemudian seakan-akan meminta untuk dinaiki. Dan di sinilah saya sekarang. Di atas kereta mini yang dijubeli oleh anak-anak kecil. Tawa mereka begitu riang saling menimpal di sana-sini, ada pula yang berpegang dengan erat pada salah satu tiang kereta dengan wajah sedikit tegang. Ah, perjalanan ini begitu menyenangkan! 

Taman Lalu Lintas. “ Tak menyangka, dulu ketika kecil saya seringkali diajak oleh orang tua ke tempat ini, dan sekarang, saya malah bekerja di sini. Memang, taman ini memberikan saya begitu banyak kesan,“ ucapan Kang Syamsu sang petugas tiba-tiba terngiang kembali di telinga mengiringi langkah saya seusai menaiki kereta mini. Gemerisik dedaunan, yang tenang dan bercampur sahut-menyahut suara anak kecil mewartakan kedamaian yang tak ada duanya. Saya tahu, kesan itu bukanlah milik Kang Syamsu semata. Kesan itu berarti pula dimiliki oleh setiap pengunjung yang memadatinya pada setiap hari libur.

Siang sudah merambat naik, saya pelan-pelan beranjak keluar. Untuk beberapa jeda saya melihat ke arah taman yang baru saya kunjungi itu. Ada masa lalu bercampur de javu ketika saya menatapnya. Dan saya tahu, akan ada hari dimana saya akan kembali mengunjunginya, pun demikian hal yang sama dapat saya lihat dari sorotan mata beberapa bocah yang juga tengah melangkah keluar.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 21 Oktober 2011

Menjahit Cerita Sewstories

Imelda alias Imel adalah sebuah kisah tentang dunia jahit-menjahit bernama Sewstories. Ah, ya, Jangan berpikir kisahnya seseru drama resuffle Menteri yang terlalu dramatis bombastis dan anti klimaks itu. Bermula dari sebuah langkah yang tidak terlalu melankolis apalagi dramatis namun cukup gemilang, Sewstories bertutur santai mengenai petualangannya di dunia handmade

Kayaknya seru juga, nih, cerita awal Sewstories memulai ber-sewing ria… Ceritain dong awal kisah TKP-nya hihihi…
Awal mula Sewstories mulai sewing sebenernya masih baru, baru aja dimulai awal tahun ini. Beli mesinnya sih udah dari tahun lalu, tapi ga pernah bisa make  karena mau make aja enggak ngerti caranya, gimana mau belajar hahaha. Nah, Jadi ceritanya aku mulai menjahit itu kurang seru dan kurang romantis….ga ada cerita haru biru bersama ibu melihat dirinya menjahit di waktu kecil….:) Kalo awal knapa pengen belajar jahit sebenernya karena bosen aja kegiatan rutin bekerja, jadi pengen ada pelarian yg positif. Kenapa memilih menjahit? Sebenernya karena aku sndiri suka ngeliat hasil-hasil DIY dari website luar yang lucu-lucu dan bikin gemes, apalagi semua ada tutorialnya, tinggal gimana kita variasiin dengan kreasi masing masing. Semua bisa dibuat asal kita niat hehe…


Ketika memutuskan untuk aktif di dunia craft, target apa yang sebenernya pengen diraih oleh Sewstories?
Targetnya sebenernya biar semakin banyak orang yg bisa memakai barang handmade, mencintai handmade dan menghargai karya handmade lebih dari buatan massal. Kalau target pribadi sih pengennya semakin banyak orang yang memakai buatan Sewstories, punya konsep store yang unik di beberapa tempat dan bisa keliling dunia karena sewstories entah gimana itu caranya, hehehehe….

Apa, sih, sebenarnya yang seru dari aktivitas jahit-menjahit itu?
Serunya adalah pada saat melihat hasil akhirnya dan semua proses pembuatan dinikmati banget karena bikin penasaran.  Kesabaran pada saat proses pembuatan, pemilihan bahan, gunting-gunting, semua seruuuuu.

Sejauh ini, gimana nih tanggepan para pemirsa crafter terhadap karya-karya Sew Stories?
Syukurnya semua positif. Aku sangat berterima kasih di kasih kesempatan untuk belajar dari para pemirsa :D yang pasti buatanku tiga bulan yang lalu sama buatanku yg sekarang selalu ada perubahan. Pengen selalu menghasilkan yang terbaik, pengen selalu belajar. Jadi mudah-mudahan dalam proses “selalu belajar mode” ini dimaklumi oleh para penikmat craft khususnya yg membeli karya Sewstories.


Apakah karya paling fenomenal dan paling berkesan yang pernah dibuat oleh Sew Stories?
Semua karya selalu berkesan…..tapi yang pasti, yang paling berkesan adalah karya pertamaku untuk kakak-kakakku yg aku bikin untuk hadiah ulang tahun mereka. Dengan modal pengetahuan jahit yang sangat minim, salah di sana dan di sini, prosesnya juga lama banget, hasilnya jelek pula, hahaha, tapi kakak-kakakku semua menghargai banget buatan perdanaku itu.

Oh, ya. Gimana Sewstories mempromosikan produk-produknya? Ada kiat khususkah?
Ga ada kiat khusus dlm pemasaran produk. Semua hanya mengandalakan Facebook aja. Saya hanya mencoba memberikan impresi lebih di foto-foto biar menarik, tapi berusaha jujur dengan produk sendiri. Saya ga pernah touch up di photoshop, paling banter di terangin aja karena saya yakin dengan display foto yg menarik sangat membantu kita dan orang lain untuk menghargai produk kita. Kekuatan gambar cukup berbicara kalo kita masih mengandalkan penjualan secara online. Kecuali kita punya offline store, itupun tetep aja menurutku display barang, penataan ruangan, dan desain toko sangat mendongkrak harga jual.

Terakhir… Hal apa yang paling menginspirasi Sewstories untuk terus berkarya?
Banyak bangettt, teman-teman crafter yang selalu menguatkan disaat kita bosan dan mati ide.  Para pembeli karya yang bahagia dengan apa yang sudah dibelinya, itu jg menambah semangat utk terus berkarya. Mudah-mudahan ke depan ada komunitas untuk mewadahi crafter. Penting banget komunitas itu karena dari obrolan-obrolan dan ketemuan bisa melahirkan ide baru, kolaborasi unik, dan juga menyatukan crafter biar ada kegiatan positif lain untuk masyarakat di daerah-daerah. 
Twitter: @sewstories


Google Twitter FaceBook

Menemukan Kembali Pahlawan yang Hilang

Jika kita berbicara mengenai mesin waktu, bisa jadi perdebatan tanpa akhir tentang mungkin atau tidaknya mesin tersebut tercipta akan berlangsung semalam suntuk tanpa ada habisnya. Namun, beberapa waktu yang lalu, dalam pameran di Galeri Soemardja bertajuk “Toys with Semionaut Soup (TWSS)” karya Budi Adi Nugroho, saya seperti masuk ke dalam kotak besar mesin waktu yang mengembalikan ingatan dan tubuh saya kembali ke masa lalu.


Adalah sebuah hari yang teramat panas dan jajaran pohon nan rindang yang berderet di sepanjang jalan Ganesha yang membawa saya ke tempat tersebut. Meski tak sempat menghadiri pembukaan pameran beberapa waktu sebelumnya, saya yang menolak sengatan udara tropis hari itu pun dengan gegap gempita mampir untuk berlindung barang sebentar dari penat matahari yang terlalu memburu. 

Sepuluh karya obyek tiga dimensi yang menjelma dalam tokoh-tokoh komik itu lalu menyergap saya, mulai dari Inspector Gadget sampai petualang muda bernama Tintin dan tokoh komik lainnya. Karya-karya dalam pameran ini ibarat “sekaleng sup” yang menampung persilangan tanda-tanda dan benda-benda mainan (toys) yang sudah lama akrab ungkap secarik kalimat yang tertuang dalam kuratorial. Kata “dan” di sana kemudian seolah memisahkan antara persilangan tanda serta mainan yang dihadirkan. Saya yang terlalu awam untuk memahami dunia kritik seni mungkin sedikit bingung dengan keterangan tersebut, apalagi jika kemudian harus memikirkan pula, jikalah ia adalah persilangan tanda-tanda, persilangan tanda-tanda apakah yang dimaksud? Mari menariknya menjadi lebih sederhana: apa petanda dan apa pula penanda yang terdapat di dalamnya?

Ah, daripada pusing-pusing memaknai tanda demi tanda, tanpa bermaksud apa-apa, bagi saya TWSS lalu menjelma menjadi jauh lebih melankolis dan mengandung unsur romantika yang kuat daripada sekadar persilangan tanda-tanda. Ia adalah persilangan kerinduan antara realitas dan dunia mimpi khas bocah. Tokoh-tokoh “jagoan” yang diusung di dalam pameran tersebut mengembalikan sekaligus mengingatkan akan semangat heroik yang nyaris tanpa cacat. Dunia yang tidak pernah sempurna namun dilengkapi oleh semangat heroisme tersebut.

Semangkuk sup yang ditawarkan oleh TWSS pada akhirnya berhasil mengingatkan akan kedigjayaan masa lalu, seperti halnya kedigjayaan Bunda di masa lalu yang menawarkan semangkuk sup dan segelas susu di pagi hari ketika waktu menunjukkan pukul enam pagi. Kedigjayaan yang mungkin kini telah nyaris terlupakan karena rutinitas dan realitas yang kita miliki sekarang tidak berpikir tentang patron, menolak segala nilai-nilai heroisme nyaris tanpa cacat. TWSS kemudian dengan lemah lembut dan ceria mengajak saya untuk menemukan kembali pahlawan yang hilang, pahlawan yang mungkin berujud pada jiwa yang terbungkus dalam tubuh yang setiap hari saya gerakkan.
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails