Jumat, 29 April 2011

Intips-Intips Ruang Terbuka Itu Seru!

Berpiknik atau berekreasi ria di alam terbuka terdengar begitu klasik dan retro di abad mall seperti sekarang. Mewawancara Mila Savitri, salah seorang penggagas gerakan Support Children's Playground membuat saya seperti kembali ke masa kecil ketika mall belum seheboh sekarang dan kecebong jauh lebih menyenangkan dibandingkan Play station. Apa,sih, yang bin taman atau ruang terbuka itu keren? Yuk,kita simak Support Children's Playground yang punya rencana piknik di Crafty Days ini..

Dari kapan, nih, mbak Support Children's Playground hadir?
Kira-kira akhir tahun lalu  Ya, sekitar desember mulai aktivitasnya, tapi sebenernya idenya udah ada sekitar setengah tahun sebelumnya, hanya saja karena kebanyakan yang punya idenya pada ngantor, jadi ketunda-tunda untuk realisasinya.

Gimana, tuh, awalnya tiba-tiba kepikiran untuk berpiknik ria?
Jadi kami beberapa bunda yang anaknya bersekolah di Bunda Ghanesa awalnya pengen bikin acara outing sambil rekreasi, tapi karena kebetulan background kita banyak yg arsitek dan pemerhati ruang terbuka publik, jadi kepikiran untuk menggabungkan event rekreasi atau jalan-jalan tadi dengan menjelajahi taman atau ruang terbuka publik di bandung  yang notabene banyaaaaak sebenernya. Tapi, kan, banyak ruang terbuka publik yang kondisinya terbengkalai atau kurang representatif untuk dinikmati, apalagi dari segi keamanan untuk anak-anak. Di kota besar gini, ruang bermain untuk anak yang TERBUKA udah makin sulit dicari, dan mall-mall malah bertebaran sebagai ganti kita (keluarga) untuk menghabiskan waktu, padahal di mall itu kan selain ruangannya tertutup, nggak alami, juga mahal. Jadi, kita sekaligus bikin aktivitas yang bersifat rekreatif, tidak mahal, dekat dengan alam sekaligus mengenalkan taman atau ruang terbuka publik pada anak-anak sebagai tempat bermain yang sesungguhnya. 


Kenapa harus ruang terbuka?
 di ruang terbuka, anak-anak akan lebih banyak bergerak, mengenal alam lebih dekat dan menghirup udara segar, bisa melestarikan permainan tradisional, sekaligus mengenal lingkungan kotanya.  Sebenarnya, sasaran kita adalah ruang terbuka kota, baik yang berskala lingkungan (perumahan), kawasan atau distrik, maupun kota. Kita nggak membatasi harus taman yang bagaimana gitu, justru kita pengen mengenalkan jenis taman sebanyak-banyaknya pada anak-anak, hehehe…

Taman kota yang ok itu seharusnya seperti apa nih menurut Mbak Mil?
Kan,  kalo dari pengamatan, hampir sebagian besar ruang terbuka di kota itu jarang banget yang memperhatikan kebutuhan anak, terutama dari segi keselamatan dan keamanan. Mungkin udah banyak yang punya fasilitas bermain, tapi kadang ruang terbukanya terlalu banyak unsur hardscape-nya (perkerasan) dan kurang unsur softscape-nya (rumput/pasir) anak-anak sebenernya nggak butuh space yg besar-besar amat untuk menikmati taman, tapi yang penting, selain adanya fasilitas bermain, terdapat juga bahan alat bermain yg aman dan unsur softscape tadi. Terus harus juga diperhatikan jarak dari jalan besar, apakah perlu ada buffer (pembatas) atau perbedaan material antara ruang bermain dengan sirkulasi.


Oh, ya. Selama ini, aktivitas Support Children's Playgorund ngapain aja, tuh?
selama ini kami piknik ke beberapa taman di Bandung dan Cimahi, diusahakan minimal sebulan sekali saja, tapi awalnya kami mendata dulu tamantaman di bandung, ada yang sempet disurvey tapi banyak  yg belum. Nah, dari situ kita bikin grup di facebook, terus sebelum piknik biasanya voting dulu mau piknik dimana, kita pilih satu dr beberapa pilihan, pilihan terbanyak itu yang jadi tempat kita piknik. Terus karena sambil pengen mengenalkan sarana transportasi publik pada anak-anak, jadi kadang kita berpiknik sambil naik kereta lokal dan ada rencana naik bus umum juga

Kalau pas pikniknya sendiri ngapain?
pas pikniknya sendiri, biasanya acara bebas, tapi disarankan masing-masing bawa mainan outdoor favorit untuk dipakai bersama di taman, tapi boleh juga bawa buku, alat melukis, alat merajut, atau apapun yang kita suka. Kita udah lama pengen kolaborasi sama komunitas permainan tradisional, tapi belum dapet jadwal yang pas nih. Nah, dalam rangka kolaborasi ini juga makanya kita pengen piknik ke Crafty Days-nya Tobucil. 


Kolaborasi dengan crafter... hoho, Kalo kata Mbak Mil, apa yang membuat craft cocok untuk anak-anak?
Mmm, craft kan identik dengan kreatifitas ya, melatih otak kanan sambil belajar fokus, pasti bagus untuk keseimbangan dan mengasah sensitivitas anak terhadap keindahan. Pada dasarnya anak-anak kan melakukan apapun sambil bermain, jadi craft akan menjadi sarana belajar yang menyenangkan untuk mereka mengenal seni, mengenal bahan yg ada di sekitar mereka, melatih motorik halus dan menghasilkan sesuatu yg bisa bikin mereka bangga,gitu kali, ya, hehe....

Mangstapp! wkwkwk. Oh, ya. Support Children's Playground itu targetnya apa, nih?
Hmmm...sebenernya nggak pasang target apa-apa ya, hahaha… Kita hanya pengen bersenang-senang sambil mengenalkan anak tentang keberadaan ruang terbuka publik atau taman di bdg sbg alternatif aktivitas instead of mall deui mall deui, hihihi… Kalo target untuk ortu sih ada, membuka mata para ortu bahwa kita bisa, loh, rekreasi di tempat BUKAN MALL, lebih murah, lebih sehat dan lebih variatif...bukannya kita anti mall, tapi anak perlu seimbang melihat berbagai fasilitas di kotanya...


Ahahaha, bukan mall-nya ditekankan begitu.
Xixixi... Abis sekarang ngerasain jg, sih, dulu ya, kok gak kreatif banget, sih, kita jalan-jalannya ke situ-situ aja. Udah gitu developer jg demen bangeeeeet bangun mall-mall gigantis, tapi jaraaaang banget yg memperbagus taman kota sebagai sarana masyarakat bersosialisasi. No wonder budaya masyarakat kita cenderung jadi konsumtif karena dari kecil udah dicekokin mall dan mall. Bukannya mall jelek, ya, tapi alangkah baiknya kalo serba seimbang. Kita kenalkan juga ruang terbuka sbg sarana u beraktivitas. Oh, ya, satu lagi, sebenernya target untuk pemegang kekuasaan juga. Pengennya review-review kita tentang ruang terbuka publik yang baik juga bisa tersosialisasikan ke pemerintah daerah sebagai masukan untuk pengembangan ruang terbuka yang baik itu seperti apa, khususnya untuk kepentingan anak-anak sebagai bagian dari warga kota. Tapi yang jelas seneng, ya, liat tanggapan dari temen-temen karena grup kita terbuka, siapa aja boleh gabung dan boleh undang teme-temennya. Perkembangannya cukup positif walaupun kita gak target muluk-muluk.

Terakhir nih mbak Mil… Penasaran nih.  Pas piknik bapak-bapaknya pada ikutan enggak???
hahahah...adaa beberapa bapak yang ikutan..biasanya yang lagi enggak ada lembur hihihi...





Hahahaha, aduh, mari bapak-bapak jangan kalah,duonggggg… yuk,mari semuanya menaman dan bertaman seru!
Google Twitter FaceBook

Menelisik Rumah Adat Sunda

Pada masa kini, mungkin sudah banyak yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya ujud dari rumah khas tatar Pasundan. Ia bagai sesuatu yang sering terdengar sekaligus jauh dari jangkauan indera,padahal ia lahir dari tangan-tangan terampil. Tulisan ini pun sebenarnya berangkat dari sebuah hal yang sangat sederhana, berawal dari suatu sore yang biasa-biasa saja ketika sepupu saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar tiba-tiba bertanya tentang rumah adat Sunda. Sedikit terhenyak saya mendengar pertanyaan polos yang meluncur dari bibir mungilnya tesebut. Sebuah pertanyaan yang terkesan sangat remeh namun menggugah keinginan saya untuk mengetahui lebih dalam mengenai hal itu. Rumah adat Sunda, bagaimanakah ia sebenarnya? Dan penelusuran kecil-kecilan saya pun lalu tiba-tiba saja dimulai.

Tak ada yang bisa menyangkal, setiap rumah adat tentu memiliki ciri dan keunikannya masing-masing. Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung dengan ketinggian 0,5 m - 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter.  Kolong ini sendiri umumnya digunakan untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda, atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk menaiki rumah disediakan tangga yang disebut Golodog terbuat dari kayu atau bambu, biasanya tidak lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi pula untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah.

Rumah adat Sunda sendiri sebenarnya memiliki nama yang berbeda-beda bergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya. Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan Jolopong, Tagong Anjing, Badak Heuay, Perahu Kemureb, Jubleg Nangkub, dan Buka Pongpok. Dari kesemuanya itu, Jolopong adalah bentuk yang paling sederhana dan banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa. 


Jolopong -atas dasar popularitasnya itu- penelusuran saya pun lalu semakin mengarah pada bentukan rumah adat yang satu ini.  Bentuk Jolopong sendiri memiliki dua bidang atap. Kedua bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang sebelah menyebelah, sedangkan lainnya lebih pendek dibanding dengan suhunan dan memotong tegak lurus di kedua ujung suhunan itu.

Interior yang dimiliki Jolopong pun sangat efisien. Ruang Jolopong terdiri atas ruang depan yang disebut emper atau tepas; ruangan tengah disebut tengah imah atau patengahan; ruangan samping disebut pangkeng (kamar); dan ruangan belakang yang terdiri atas dapur yang disebut pawon dan tempat menyimpan beras yang disebut padaringan. Ruangan yang disebut emper berfungsi, untuk menerima tamu. Pada waktu dulu, ruangan ini dibiarkan kosong tanpa perkakas atau perabot rumah tangga seperti meja, kursi, ataupun bale-bale tempat duduk dan jika tamu datang barulah yang empunya rumah menggelarkan tikar untuk duduk tamu.


Jika ditilik dari segi filosofis, rumah tradisional milik masyarakat Jawa Barat ini ternyata memiliki pemahaman yang sangat mengagumkan. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya. Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern lainnya. Untuk penguat antar-tiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa, sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kelapa, atau daun rumia. Sangat jarang menggunakan genting. Hal menarik lainnya adalah mengenai material yang digunakan oleh sang rumah itu sendiri. Pemakaian material bilik yang tipis dan lantai panggung dari papan kayu atau palupuh tentu tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan di komunitas dengan peradaban barbar. Rumah di komunitas orang Sunda bukan sebagai benteng perlindungan dari musuh manusia, tapi semata dari alam berupa hujan, angin, terik matahari dan binatang.


Memang, bentuk dan gaya rumah adat Sunda sudah sangat jarang dijumpai apalagi di daerah perkotaan. Perkembangan jaman membuat rumah-rumah bergaya barat lebih mendominasi, namun bukan berarti gaya tradisional ini hilang sama sekali. Rumah orang Sunda dewasa ini sebagian besar tidak lagi seperti model tradisional, baik dalam penggunaan segala jenis material maupun dalam bentuk dan model. Akan tetapi, bila orang Sunda atau yang lain menjalani hidup dengan menerapkan nilai-nilai kesundaan di dalam huniannya, rumah itu akan memiliki aura Sunda dan tentu saja masih layak disebut rumah Sunda. Hal ini karena dalam semua kebudayaan termasuk Sunda, dibalik materi ada nilai lain yang terkandung yang dalam penerapannya bersifat fleksibel. Apalagi mengingat karakter orang Sunda yang sangat mudah beradaptasi. Meskipun demikian, masih ada komunitas Sunda yang setia dengan peninggalan arsitektur warisan karuhun yang satu paket dengan nilai-nilai lain sebagai pandangan hidup. Di samping itu, keberadaan kampung adat maupun kampung budaya di Jawa Barat sangat menolong eksistensi bentuk dan gaya suhunan rumah adat Sunda. Bukan hanya nama-nama suhunan rumah yang dipertahankan, tetapi bentuknya pun dipertahankan dan dikembangkan sesuai bentuk aslinya.
Google Twitter FaceBook

Senin, 25 April 2011

On Day Monday - PURNOMO

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
Mengenal lelaki yang satu ini adalah suatu keberuntungan besar bagi saya. Dia akan menyambutmu hangat ketika kakimu menginjak halamannya. Hasil karyanya akan membuatmu terkesima dan betah untuk sejenak melihat-lihat. Nah, siapakah dia? Mari kita simak saja cerita tentang Purnomo berikut ini dalam On Day Monday. (-:
percayalah, sepatu ini keramik
Ketertarikan terhadap benda 3 dimensi adalah awal dari apa yang dia lakukan sampai sekarang. Purnomo sudah menggeluti dunia keramik sejak SMA. Mengawali jejaknya di SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan), Purnomo melanjutkan studinya ke ISI Yogyakarta Kriya Keramik. Atas ketekunannya dalam dunia ini, Purnomo berhasil membuat sebuah inovasi menarik dalam membuat keramik. Karya yang bisa dibilang paling 'hits' yang pernah dibuatnya adalah sepatu-sepatu keramik. Ondee.. mandee.... :D

 sepatu roda keramik

Apa pula sepatu keramik itu? Purnomo benar-benar membuat keramik dengan bentuk sepatu apa adanya. Detail dan perbandingan ukuran dengan benda aslinya hampir 100 % sama. Dia mengaku menggunakan teknik cetak dalam membuat sepatu keramik. Tapi apalah daya, hanya dia yang tahu rumusnya bagaimana membuat cetakan sepatu itu. Itulah nilai lebih lelaki ini. hehe.. Lebih lanjut baca di sini.
Google Twitter FaceBook

Minggu, 24 April 2011

Crafty Days #5, Sabtu- Minggu, 14-15 Mei 2011, @tobucil



SALE BENANG RAJUT TIPI UP TO 50%

BAZAAR HANDMADE 14-15 Mei 2011 Pk. 09.00 - 18.00 WIB
Bagus Bagus
tilunik!
Anything Sunday
OCAROL
ARC Pernik

WORKSHOP HANDMADE :
Sabtu, 14 Mei 2011
Pk. 10.00 -12.00 WIB Workshop Merajut/knitting bersama klab merajut (Gratis)
Pk. 13.00 - 14.00 WIB Workshop Yubiami bersama The Men Who Knit (Gratis)
Pk. 13.00 - 14.30 WIB Workshop Boneka Pom Pom bersama The Mogus (Gratis)                      

Minggu, 15 Mei 2011
Pk. 10.00 -12.00 WIB Membuat Boneka Bantal bersama Idekuhandmade (Tempat terbatas & GRATIS)
Pk. 10.00 -12.00 WIB Workshop Scrap Book. Biaya alat dan bahan Rp. 10.000/peserta bersama Klab Scrap Book
Pk. 13.00 -15.00 WIB Workshop Merenda/Crochet bersama klab merenda (GRATIS)

CRAFTYPRENEUR FORUM, Sabtu 14 Mei 2011, Pk. 15.00 -17.00 WIB
Obrolan santai Berbagi pengalaman memulai usaha handmade.
Bersama: Martha Puri (idekuhandmade, Jakarta), Ojan & Putri (Nest of Ojanto, Yogjakarta), Ika Vantiani (Vantiani, Jakarta) dan Tarlen Handayani (Vitarlenology & Pendiri Tobucil & Klabs, Bandung).

MUSIK SORE, Minggu 15 Mei 2011, Pk. 15.30 - 17.30 WIB
Menampilkan: 
Yustinus Ardhitya
Grace and Tesla
Ammy Alternative Strings

Informasi lebih lanjut:
Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56  Bandung  Telp/Fax 022 4261548
www.tobucil.blogspot.com  www.tobucilhandmade.blogspot.com
twitter: tobucil   fb. www.facebook.com/tobucil

Google Twitter FaceBook

Jumat, 22 April 2011

Berkolase Itu Mudah!

 Hola-hola! Tobucil handmade lagi-lagi kedatangan pembuat kolase! Yap, setelah beberapa bulan yang lalu sempat hahahihi bareng Billy Anjing, kali ini, sambil menikmati bakwan dan menyeruput kopi hitam, pergunjingan mengenai kolase mampir melalui hohohehe bareng Ika Vantiani, seorang pembuat kolase yang juga punya hobi bikin craft dari bahan kain-kain vintage. Mari, ah, disimak dengan takzim…

Sejak kapan, nih, Ika bikin-bikin kolase? Ceritain dong…
Kalau bikin-bikin sudah dari tahun 2008. Nah, kalau kenal kolase pertama kali waktu bikin zine tahun 2000. Tapi waktu itu kolase cuman buat bikin zine aja, baru tahun 2008 melihat kolase sebagai sebuah tehnik berkarya yg serius. Nah, karena saya enggak bisa gambar tapi pengen bikin karya seni dan waktu itu sering liat blog-blog artist and crafter dari Amerika, saya merasa, ah, kayaknya gue bisa nih bikin. Lalu mulailah gue bikin kolase pertama kali dan tidak pernah berhenti hingga hari ini.


Hmm… Kenapa kamu melihat kolase sebagai karya yang serius?
Maksudnya begini, dulu, kan, saya berkolase untuk bikin zine aja. Nah, sekarang berkolase untuk membuat karya yang memang saya ingin plus juga bisa dijual dan semoga suatu hari nanti bisa menghidupi saya. Jadinya dibawa ke tingkatan yang beda dari sebelumnya. Makanya berkolasenya jadi lebih tekun, lebih serius gitu.


Amin... bagi-bagi ya kalo laku, hehe. Nah-nah, menurut kamu, sebenarnya apa yang menarik dari kolase?
Nah, saya kan nggak bisa gambar dan selalu pengen bisa. Kolase kemudian membuat saya bisa memproduksi karya seperti gambar dengan hanya menggunakan gunting lem aja. Empowering banget! Tehniknya mudah, bahannya juga tapi bisa bikin karya yg hasilnya seru-seru dan ternyata memang tidak banyak, ya, artis kolase disini. Terus, kolase sendiri  walaupun sederhana tapi memang bukan tehnik membuat karya seni yang umum diketahui orang juga, soalnya saya masih seriiiiiiiing banget dapet pertanyaan kayak kolase itu apa?


Gimana, tuh, metode kamu dapetin gambar-gambar buat bikin kolase?
 Saya ngumpulin gambar gambar yang bentuknya ilustrasi hitam putih dengan gaya gambar vintage. Itu gambar favorit saya. Lalu saya fotokopi dan gunting-gunting. Karena kolase saya warna-warni, makanya  gambarnya dicari yang item putih supaya kontras. Saya sendiri jarang sekali sekali pake gambar warna di kolase-kolase saya.

Darimana Ika dapet ide atau inspirasi untuk membuat karya-karya kolase?

Nah, bisa macem-macem cara dapetnya. Pertama, karena ngeliat sebuah gambar terus mikir, “oh gue tau, nih, gimana ngolasenya!” Kedua, bisa juga karena ngeliat bahan, “wah ini bahannya lucu buat jadi kolase!” terus  dicari, deh, gambar item putihnya. Ketiga, “pengen kolaborasi deh sama gambarnya artis itu”.  Terus dapet gambarnya dan gue kolasein, deh.  Terakhir bisa karena temanya udah dikasih, lalu saya bikin kolase dari tema tersebut.



Menurut kamu, kenapa, ya, kolase kurang hip di Indonesia?
Mungkin karena sebagai bentuk atau tehnik karya seni, kolase belum banyak diketahui masyarakat awam. Jadi ada cerita, suatu hari waktu buka meja di sebuah mall di Jakarta, pertanyaan pertama orang yang ngeliat adalah “ini apa?”, “kolase itu apa?”, “digambar atau dilukis?. Gitu-gitu deh. Ya, karena digambar dan dilukis adalah bentuk yang paling umum, kan. Sebagai sebuah bentuk karya seni yang dijual, kolase sama sekali nggak dikenal. Jadi PR-nya masih banyak.

Kalau Ika sendiri gimana caranya melakukan pergerakan untuk memerkenalkan kolase?
Kalo selama ini saya biasanya membawa proses bikin kolase, sebisa mungkin  dibawa ke open public space kayak ke kantor, ke café, atau ke rumah temen. Jadi ngeliatin cara bikinnya ke orang-orang karena, kan, mereka pasti ingin tahu dan tanya-tanya. Nah, di sanalah kemudian dijelasin tentang kolase.

Kolase kamu tersebar kemana aja, nih?
Ya, lewat online store. Selain itu, barang-barang kolase buatan Ika sudah dijual di Trove, art boutique di Esplanade Singapura.

Oww, tanggepannya gimana, tuh?
Luar biasa! Ika juga tidak menyangka akan sepositif ini, dari mulai yg bentuknya trade stuff, ajakan pameran, tawaran bikin karya custom order, sampai wholesale order dari singapura itu. Belum lagi tawaran untuk masukin barang kolase ika di toko-toko di Eropa dan Amerika,blog feature, dan lain sebagainya. Wah, gila banget, lah!

Uedannn!!! Hahaha… Nah, pesen Ika buat yang berminat menekuni kolase?
Sabar, tekun, dan percaya diri. Semua orang itu kreatif, kok, walaupun memang tidak semua orang rajin.


Aduh, saya tersepet pada bagian rajinnya. Demi mengingat belajar merajut pun tak beres-beres padahal udah sampe bego belajarnya, hahahaha. Mau tahu kolase buatan Ika, cek baby cek saja langsung ke alamatnya!

Google Twitter FaceBook

Bergelut Bersama Benjang

Foto oleh Agus Bebeng
Sisa sejuk pagi masih terasa sedikit menggigit meski matahari timur telah muncul dengan keperkasaannya. Kedua lelaki itu saling tatap tanpa kedip secuil pun, mencoba menakar kekuatan lawan di depannya. Hela nafas mereka terlihat mengalir teratur, sejurus kemudian keduanya terlibat dalam pergulatan seru. Satu pihak mencoba membanting, namun pihak yang lain dengan gemilang berhasil mengunci gerakan tangan sang lawan. Untuk beberapa saat keduanya bergumul, mencoba untuk saling menjatuhkan. Debu-debu tanah tempat mereka berpijak berputar semakin kencang dan pergulatan mereka kian menegangkan. Lelaki yang bertubuh lebih besar kemudian berhasil mengangkat lawannya, namun hanya sesaat. Tepat ketika ia melakukan bantingan, dengan cerdik sang lawan yang telah terangkat satu jengkal dari tanah itu membelitkan kakinya ke kaki sang pengangkat. Keduanya lalu terjatuh, hanya saja keadaan menjadi berbalik, sang lawan yang tadi membanting kini terkunci tak bisa bergerak.


Peristiwa yang sempat membuat nafas tercekat itu usai. Tak ada yang terluka. Malah kedua petarung itu kemudian saling berjabat tangan dan berpelukan. Ya, adegan perkelahian tadi memang hanya salah satu demonstrasi pada sebuah Festival Benjang yang cukup menyedot animo masyarakat sekitar. Hal ini setidaknya memberikan sebuah sinyalemen kuat bahwa Benjang masih memiliki eksistensinya hingga hari ini. 

Memang, seni beladiri tradisional yang satu ini masih cukup populer meskipun ia belum memiliki induk organisasi yang mewadahi para tokoh-tokohnya. Eksistensi ini terlihat dari popularitas Benjang yang kian menanjak dari hari ke hari, bahkan saat ini, Benjang mulai pula merambah menjadi salah satu kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Dalam kepentingan untuk mempertahankan eksistensinya itu jugalah dewasa ini seni Benjang telah dikemas menjadi Seni Helaran. Benjang masa kini lebih sering dipertontonkan pada festival-festival yang berkenaan dengan kesenian rakyat atau dalam rangka pekan pariwisata.


Benjang sendiri sebenarnya merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Awalnya ia muncul di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk. Gulat ala Sunda ini pertama kali diperkenalkan oleh H. Hayat dan Wiranta pada 1820 dan berkembang di pesantren. Mungkin karena pesantren menjadi tempat awal kemunculannya, Benjang terkesan menjadi sedikit religius. Doa-doa agar terhindar dari bermacam gangguan pun selalu dilakukan oleh para pebenjang yang hendak melakukan pertarungan. Hal yang cukup menarik dalam Benjang adalah tidak adanya kelas dalam peraturan pertandingannya. Siapapun petarung yang memiliki nyali boleh memasuki gelanggang pertandingan. Adakalanya terlihat petarung mendapat lawan yang jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan dirinya. Di samping itu, tak ada batasan waktu dalam Benjang. Pertandingan dinyatakan usai ketika salah satu dari petarung tersebut dapat menjatuhkan lawan yang dihadapinya.

Foto Oleh Agus Bebeng
Hari perlahan mulai merangkak naik, pertarungan demi pertarungan terlihat kian memanas. Tetabuhan itu masih terdengar kencang menggema dan Benjang terlihat terus bergelut tak kenal henti. Badan-badan perkasa bermandikan keringat itu tak lelah bergumul, mewartakan sebuah warisan yang tak akan pernah lekang dimakan jaman.

Google Twitter FaceBook

Senin, 18 April 2011

On Day Monday - Hello Bleu

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.


Hello Bleu : Kolaborasi Harmonis dari Dua Nona Manis

Jika hobi direnggangkan sejauh-jauhnya, kemungkinannya memang bisa jadi tidak terbatas. Seperti yang dialami dua nona manis ini, Kiki dan Iid. Kolaborasi keduanya lahir dari kesamaan hobi juga karakter. Dimulai sekitar dua bulan yang lalu, berdua mereka berdiri di bawah payung Hello Bleu dan melahirkan karakter-karakter unik berbentuk boneka.



Tidak ada pembagian tugas, juga tidak ada jabatan. Hello Bleu seperti duet maut dua biduan yang menyanyikan lirik lagu dengan porsi yang sama. Kiki dan Iid sama-sama menciptakan ide, mempersiapkan bahan-bahan dan memproduksi sendiri produk-produk mereka. Inilah yang menjadi keunikannya. Dua karakter tidak dilebur menjadi satu, namun sengaja ditampilkan secara bersamaan. Perbedaannya memang jelas terlihat, namun harmonisasinya tetap bisa dirasakan.

Kiki dan Iid adalah dua orang yang sangat menyenangi warna, motif dan bentuk. Dari sinilah harmonisasi itu berasal. Motif dan warna kain yang saling bertabrakan, dipadukan dengan karakter-karakter unik hasil imajinasi keduanya. Hasilnya? surprisingly cute! Melihat hasil karya mereka langsung melunturkan bayangan saya akan boneka berbulu nan lucu yang dulu setia menemani tidur saya. Karakter-karakter unik ini muncul dari corat-coret Kiki dan Iid yang memang memiliki hobi gambar. Kiki mengaku sejak SMA suka membuat doodle, dan tanpa disadarinya muncul karakter-karakter aneh yang akhirnya dijadikan inspirasi membuat boneka. Begitu juga dengan Iid, menurutnya inspirasi bisa datang dari mana saja. Bisa dari hal-hal sekitar, film yang ditontonnya, bahkan dari udara kosong di depannya. "Kuncinya adalah berusaha untuk think out of the box" begitu kata Iid.




Menyenangkan sekali jika kita bisa menghasilkan sesuatu dari hal-hal yang kita senangi. Inilah yang juga berusaha diraih oleh Hello Bleu. Keinginan mereka adalah mereka dapat dikenal luas, supaya bisa terus berkarya. Mereka juga mengharapkan pemasukan tambahan dari apa yang mereka lakukan dan bisa menabung untuk membeli mesin jahit. Yap, mereka sangat ingin memiliki mesin jahit agar lebih leluasa dalam menciptakan karya-karya baru. Lebih lanjut baca di sini.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 15 April 2011

Menghandmadekan Masyarakat Bareng Ideku Handmade

Ideku Handmade adalah seorang perempuan bernama Martha Puri Natasande, pembuat apa saja yang disukainya. Ouch, just like me, pembuat keonaran, hahaha. Ups. Direcoki dengan jaringan internet yang putus sambung kayak lagu BBB dan petir yang tampak onar menyambar-nyambar hati yang kebat-kebit ketakutan modem meleduk, percakapan kami mengalir tak terlalu mulus namun menyenangkan dengan selingan gosip-gosip setempat nan seadanya, hehe. Hayuk, ah, dihabret saja langsung!

Sejak kapan, sih, Puri suka membuat handmade?
Tertarik mah dari kecil, tapi dulu aku bikin yang gampang-gampang aja. Bahkan waktu SD aku pernah bikin hiasan pensil. Jadi pensil biasa gitu aku tambahin pinus di atasnya. Eh, ternyata banyak temen-temen yang suka dan memesan.


Oalah aku jg jaman SD suka melakukan itu, tp karena enggak bakat jadi pinusnya di plaster ke pensil dengan begonya, hahaha.
Itu aku lem pake lem aibon, terus supaya rapi, bekas lemnya aku lilitin pakai tali tambang kecil… (Aduh dijawab serius, malu saya makin tampak kebegoannya :p)

Nah, Puri mulai berpikir serius untuk terjun ke dunia handmade sejak kapan?
Sekitar empat tahun yang lalu. Jadi awalnya karena seneng bikin-bikin sesuatu, makanya banyak benda-benda buatanku di rumah. Terus sepupuku nanya, "buat apaan nih banyak gini?", aku jawab aja untuk disimpen. Nah, dia ngasih ide untuk dijual. Eh, sorenya sepupuku itu bikinin aku account Multiply, foto-foto hasil kreasiku juga dimasukin. Besoknya, jam enam pagi gitu, aku dapet sms dari pembeli pertamaku. Di sana, sih, baru nyadar ternyata ini bisa jadi lahan jualan, hehe. Jadi barang pertama yang laku, tuh, toples yg aku gambar-gambarin pakai acrylic.


Ideku Handmade bikin apa aja, sih?
Bikinnya buanyakkk bgt. Boneka, tas, kaos, pouch, mainan anak, celemek, bantal, asesories, dan lain-lain.

Apa, sih, yang bikin kamu tertarik dengan handmade?
Karena beda dari yang lain. Terus aku juga suka handmade karena dia tuh personal banget. 


Kan, Puri macem-macem, tuh, bikinnya. Itu idenya darimana sampe bisa bikinnya macem-macem?
Ya, aku emang seneng bikin yang aku suka dan aku mau. Bikin-bikinnya, sih, coba-coba. Terus juga coba cari info dengan baca buku, belajar dari temen, dan internet. Otodidak aja, sih. Aku cuma pernah kursus breien (merajut dengan dua stick), yang lainnya belajar sendiri aja.


Menurut kamu, apa yang bikin gerakan handmade sekarang tampak booming sekali?
Mungkin sekarang orang-orang sadar, bahwa barang yang dibuat handmade itu unik dan beda dari yg lain. Jadi nilainya lebih dari sekadar barang-barang buatan pabrik. Terus kan sekarang sudah banyak juga workshop-workshop yg memberi pelatihan membuat karya ini-itu. Dari sana mereka bisa jadi tersadar bahwa untuk membuat satu benda itu sulit dan membutuhkan kesabaran.

Puri ngeliat aktivitas-aktivitas handmade seperti crafty day gitu gimana? (aduh kok jd kayak promosi, hahaha)
Seruuu! Baguuusss! Itu kan sekalian memasyarakatkan handmade juga.

Memasyarakatkan handmade dan menghandmadekan masyarakat, hehe. Hmmm... Kamu sendiri ngeliat geliat handmade sekarang gimana? Sekadar budaya pop doang atau sebenernya bakal everlasting, nih?
Aku pikir (semoga) everlasting. Mengingat hidup makin susah, jadinya banyak yang suka membuat barang sendiri daripada beli, hihihi. Kalau dilihat-lihat, ada kejenuhan juga di masyarakat akan barang-barang pabrik. Karena hidup makin susah, makanya orang semakin putar otak, makin kreatif utk sedemikian rupa membuat barang-barang yang dibutuhkannya sendiri.

Apa, nih, rencana-rencini Ideku Handmade di masa depan?
Rencananya bisa terus gabung sama crafter-crafter yg lain untuk menghandmadekan masyarakat, rencininya tetep bikin orang nyengir pas buka paket dari Ideku Handmade, hehehe.



Terakhir, nih. Mmenurut kamu gimana cara paling efektif untuk terus menyalakan semangat berhandmade ria?
kalau aku, ya, aku lakuin apa yang aku bisa. Dengan terus ngeblog, trs bikin acara lucu-lucuan yang berbau handmade, terus pakai barang-barang handmade buatan sendiri atau buatan temen-temen.


Aduh saya jadi mau memakai barang-barang handmade buatan temen. Sini-sini yang mau kasih saya tampung! Kan, sekalian menghandmadekan masyarakat, hahaha… Yuk, ah, kita akrabkan handmade dan masyarakat!

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails