Selasa, 29 Maret 2011

On Day Monday – Block Note Astrini

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta. 



Mengasah Kreasi, Melukis Pelangi

Berasa kepedean bagi saya untuk menuliskannya. Tapi Astrini mengakui bahwa dia terinspirasi darinotebook-notebook yang pernah saya buat. Seingat saya, dia juga pernah membeli salah satu notebook itu. Inilah segumpal cerita On Day Monday minggu ini, tentang seorang perempuan sederhana pecinta pelangi yang mendulang rupiah dari karya block note-nya.


Malam tahun baru 2011 menjadi momen bagi Astrini untuk menuliskan banyak harapan dalambucket list-nya. Salah satunya adalah penetapan minimal penghasilan bersih dari hasil usahanya sendiri sejumlah 500 ribu rupiah. Hal itu memancing hasratnya untuk melakukan sesuatu supaya targetnya terpenuhi.


Terpikirlah olehnya untuk melayani pesanan block note dengan desain cover, material, dan ukuran yang bisa di-costum sesuai keinginan pemesan. Pecinta pelangi ini begitu menikmati aktivitasnya. Pesanan datang dari teman-temannya, kemudian teman dari teman-temannya, dan seterusnya. Ternyata promosi mulut ke mulut berjalan lancar baginya. selanjutnya baca di sini.



Google Twitter FaceBook

Sabtu, 26 Maret 2011

Siapa Mau Ikut Bazaar Crafty Days #5, 14-15 Mei 2011 @tobucil ?



Tobucil & Klabs, kembali menyelenggarakan acara tahunan Crafty Days untuk kelima kalinya sekaligus bertepatan dengan ulang tahun Tobucil & Klabs yang ke 10. Crafty Days kali ini mengambil tema: "Craftivism In Our Everyday Life" meliputi kegiatan pameran, bazaar dan workshop.

Untuk itu, kami membuka pendaftaran untuk kegiatan bazaar dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Barang yang dijual adalah karya kerajinan tangan buatan sendiri dan tidak diproduksi dalam jumlah masal.

2. Peserta yang mendaftar mengirimkan data dan foto contoh karya ke tobucil@gmail.com.

Untuk data silahkan copy form berikut ini:
NAMA LENGKAP PESERTA:
NAMA LABEL/MEREK (jika ada):
ALAMAT LENGKAP:
NO TELEPON & NO. HP:
ALAMAT EMAIL:
ALAMAT BLOG (jika ada):
DESKRIPSIKAN BARANG YANG AKAN DIJUAL:
sertakan foto maksimal 5 foto

3. Pendaftaran peserta bazaar dibuka mulai: 27 Maret - 14 April  2011 (terbuka bagi peserta dari bandung maupun luar Bandung).

4. Formulir pendaftaran di serahkan selambat-lambatnya tanggal 14 April 2011, melalui email maupun datang langsung ke Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung. Formulir yang terlambat masuk tidak akan diikutsertakan dalam seleksi pemilihan peserta bazaar.

5. Tobucil & Klabs akan menseleksi peserta yang mendaftar berdasarkan: keunikan desain dan bahan yang belum pernah ditampilkan di crafty days sebelumnya. Hanya tersedia 20 meja.

6. Peserta yang terpilih akan di hubungi selambat-lambatnya tanggal 17 April 2011 melalui email dan telepon.

7. Peserta yang terpilih membayar biaya sewa meja rp. 300.000 (untuk dua hari/meja)

8. TOBUCIL TIDAK MENGAMBIL PRESENTASE DARI PENJUALAN.

keterangan lebih lanjut silahkan hubungi:
tobucil 022 4261548 (senin-minggu, Pk. 9.00 - 20.00 wib)
http://tobucil.blogspot.com
twitter: @tobucil
Google Twitter FaceBook

Jumat, 25 Maret 2011

Virus Bernama Handmade

Haha hihi dari note book sampai dunia maya, dari Orba sampai gerakan politik membuat wawancara kali ini memecahkan rekor sebagai wawancara terlama dan terpanjang yang pernah dilakukan oleh Tobucilhandmade. Agak sulit memang mewawancarai sahabat dekat, ah, tapi berhubung saya memang keren, jadi yang sulit pun terasa mudah (narsis mode-on, hahaha). Sedikit serius, Vitarlenology adalah sebuah perbincangan mengenai handmade dan pergerakannya, virus paling tidak berbahaya yang wajib ditularkan. Mangga di baca kawan-kawan sekalian…

Nama Vitarlenology, tuh, kapan munculnya dan mengusung gagasan tentang apa, sih?
Vitarlenology tuh muncul skitar tahun 94-95 ketika album Pearl Jam Vitalogy muncul, hehehe. Karena seneng dengan album itu jadi saya masukin nama saya di tengah-tengahnya, kan Vitalogy artinya ilmu tentang kehidupan, nah, jadi Vitarlenology artinya ilmu tentang kehidupan tarlen, hahaha, udah kayak sekte aja. Nah, akhirnya nama itu saya pakai untuk nama buku harian saya. Ketika blog muncul, saya membuat blog dengan nama itu. Ketika saya membuat produk-produk handmade ya sudah saya gunakan juga nama itu.

Ilmu baru, tuh, Vitarlenology, hahaha. Nah, Vitarlenology, kan, banyak banget, tuh, produk buku-buku notesnya. Awalnya emang pengen fokus membuat note book atau “ngacaprak” weh, semua dibuat?
Awalnya sih, mmm.. saya, kan, meminati segala bentuk craft. Pokoknya yang berhubungan dengan jarum, kain, benang, saya tertarik. Pokoknya segala yang berhubungan dengan dunia needle. Nah, ketika 2004 pulang dari Amrik, saya berpikir untuk fokus memilih apa yang paling saya suka dari sekian banyak yang saya pelajari. Ternyata saya paling suka dengan book binding, menjilid buku dan itu sejalan dengan hobiku nulis buku harian. Apalagi saya pernah ikut kelas book binding di sana, ya sudah, akhirnya itu yang menjadi pilihan. 


Memang serumit itu, ya, menjilid, sampai ada kelasnya?
Sebenarnya yang saya pelajari di tempat kursus itu masih sangat dasar. Jadi yang simple-simpel, tapi itu membuat saya mengerti tentang “logika” binding. Jadi binding itu, kan, menyatukan bagian-bagian. Seninya ada pada hasil ikatan-ikatan tersebut. Bagaimana menciptakan ikatan yang indah dengan membuat pola-pola tertentu. Dan itu menjadi satu bagian yang saling mendukung dengan desain buku notes tersebut. Nah, kalau untuk cover saya lebih senang menggunakan bahan-bahan non-kertas seperti kulit imitasi dan lain sebagainya. Balik lagi ke binding, sebenarnya teknik menjilid ini sudah ada dari dulu, kalau kita melihat manuskrip-manuskrip kuno, di sana sudah digunakan teknik untuk menjilid dan semua kebudayan yang menghasilkan manuskrip pasti memiliki teknik-teknik sendiri. Saya, sih, punya cita-cita membuat buku tentang pola-pola binding. Isinya tentang pola-pola buatan saya. Ya, perlu beberapa tahun lagilah.

Apa, sih, kelebihan note book Vitarlenology? Ahiwww, hahaha.
Hahahaha. Mm… ya… Semuanya saya yang buat, otentik dan orisinal, hehe. Karena saya enggak  punya tukang untuk ngerjain ini. Semuanya sendiri, dari motong sampe menjilid. Jadi saya memerlakukan semua buku yang saya buat sebagai karya seni, karya saya untuk orang lain. Dibuat dengan cinta dan hasrat, hehehehe.

Apa kesulitan pertama yang akan dihadapi, sih, ketika hendak membuat note book?
Kan, sebenarnya, siapapun tidak akan bisa membuat dengan baik jika tidak menguasai teknik dan karakteristik bahan. Jadi memang harus dimulai dengan mengenali jenis kertas, mengeksplorasi penggabungan bahan-bahan yang digunakan, Misalnya kita mau membuat organizer untuk penggunaan setahun, kan, enggak mungkin menggunakan kain yang mudah tergores kalau tergesek-gesek karena kita harus menggunakan bahan yang cukup kuat untuk digunakan setahun. Jadi pertimbangan material, teknik, dan fungsi itu menjadi hal yang penting.


Buku buatan Vitarlenology ini ada di mana aja, sih?
Menyebar di Tobucil, hahaha. Terus di Selasar Sunaryo. Jakarta menyusul. Saya juga punya online store.

Apa, sih, misi sebenarnya dari Vitarlenology?
Jadi saya tidak semata-mata hanya membuat note book untuk dijual. Tapi sebenarnya saya ingin mengajak orang-orang untuk menulis catatan harian. Karena siapa lagi coba yang akan menulis tentang diri kita kecuali kita sendiri, dan saya percaya catatan manual itu lebih abadi karena hal-hal yang tidak bisa diutarakan ke publik hadir di catatan manual itu.

Hmmm… kan sekarang teknologi internet sudah sangat berkembang, gimana, sih, menurut Tarlen mengenai pergeseran budaya menulis?
Ya, menulis di blog itu di satu sisi memang jauh lebih mudah tapi memiliki resiko karena tulisan di dunia maya kemudian menjadi milik publik. Dunia maya mengubah konsep personal. Jadi dengan saya membuat note book ini, saya mengembalikan lagi unsur personalitas. Mengembalikan lagi kejujuran dalam menulis. Ketika kita menorehkan tinta di kertas lalu 10 tahun kemudian kita membuka kembali tulisan tersebut, maka kita akan kembali merasakan apa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Itu yang sulit dihadirkan oleh dunia maya. Jadi internet di satu sisi memudahkan namun di sisi lain menghilangkan banyak hal.

Kembali ke Vitarlenology, nih. Menurut Tarlen, nih. Apa, sih, sebenarnya sisi lain dari kegiatan craft?
Bagi saya, melakukan kegiatan craft bukan sekadar untuk penghasilan. Tapi sebenarnya ada tanggung jawab sosial yang harus diemban oleh crafter. Seperti sekarang ada blog yang baru dibuat oleh para crafter di beberapa kota, craft for humanity, craft untuk kemanusiaan. Jadi Crafter bisa berkontribusi untuk kemanusiaan. Misalnya seperti kemarin ada bencana merapi, maka diadakan kegiatan merajut untuk merapi. Dikirimkan kepada para korban. Personalitas dalam rajutan itu kemudian jadi semacam transfer energi. Energi positif yang kita punya ditularkan kepada sebanyak mungkin orang dengan sesuatu yang sederhana.


Nah, kan banyak crafter yang membuat karena hobi, tapi kemudian jadi serba pas-pasan. Gimana, tuh, tanggapannya?
Menurut saya, sih, ya harus selektif juga ya. Kalau saya sebagai crafter, ketika hendak membuat brand, yang pertama kali harus dibangun adalah nilai tawar kita sebagai crafter sehingga kita tidak diperlakukan sebagai pengrajin atau buruh upahan. Saya tidak bisa mengerjakan pesanan yang desainnya bukan buatan saya. Ya, bisa kompromi dalam beberapa hal, tapi kita sebagai crafter yang mengambil keputusan. Jadi kita punya keleluasaan untuk mengambil keputusan dan tidak serta-merta menuruti apa kehendak klien. Itu akan membangun nilai tawar. 

Kegiatan craft, kan, sekarang lagi musim. Pandangan Tarlen terhadap, gejala ini? (hahaha gejala dong, pilek kali gejala).
Hahaha. Ya… menurut saya, sih, kalau di Indonesia gerakannya, kan, baru dimulai. Ketika jaman PKK masa Orba menjadi gerakan politis yang sistematis, itu telah menjadikan kegiatan craft menjadi kegiatan sehari-hari. Seolah-olah ada peraturan yang mengharuskan kalau perempuan harus bisa menjahit, memasak, dan keterampilan tangan. Kalau dulu, kan, politis ya, karena merupakan bagian dari strategi Orba untuk mengontrol perempuan pada saat itu. Kalau sekarang, ternyata di dunia barat gerakan-gerakan feminis justru mengembalikan perempuan pada kegiatan-kegiatan domestik seperti itu, gerakan yang dahulu ditentang oleh kaum feminis. Alasannya? Karena untuk mandiri dan menolak buruh-buruh dibayar murah di negara dunia ketiga. Kalau Di Indonesia sekarang kesadaran politik seperti itu belum. Masih baru pada tahap semangat membuat. Ya, tapi ini akan berproses dan semoga nantinya sampai pada kesadaran tersebut. Nah, buat yang sudah memiliki kesadaran itu, mari kita tularkanlah sebanyak mungkin. Gerakan ini juga membuat kita tidak komsumtif karena kita tahu bagaimana prosesnya. Jadi lebih menghargai proses bagaimana benda sederhana tersebut melibatkan banyak orang. 


 Awww, demi membaca tulisan ini, lupakan Ahmad Dani yang berteriak sampai serak tentang virus cinta. Ada baiknya mari kita sebarkan virus handmade ke seentaro jagat!

Google Twitter FaceBook

Menyalakan Kembali Batik

Dua tahun lalu, batik menjadi hal seksi yang diperbincangkan. Pasalnya, Malaysia, sebagai negara tetangga, tiba-tiba mematenkan batik sebagai hasil kekayaan budayanya. Tentu saja hal ini memicu berbagai reaksi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kurangnya perhatian pemerintah dalam memertahankan kultur lokal ditengarai menjadi penyebab mengapa beberapa warisan budaya leluhur Indonesia banyak yang dipatenkan oleh negara lain. Bandingkan dengan Malaysia, tahun 2004 lalu, pemerintah Malaysia bahkan telah mencanangkan kampanye Malaysia Batik- rafted for the World. Lewat kampanye itu, semua pengusaha batik di Malaysia diajak untuk semakin meningkatkan kreasi mereka. Pengusaha-pengusaha batik digerakkan untuk membuat batik-batik yang disesuaikan dengan tren mode yang sedang disukai masyarakat luas.

Itu dua tahun yang lalu. Bagaimana dengan sekarang? Yang pasti, kehebohan batik di kalangan akar rumput tak pernah padam. Sempat menjadi trend di hari Jumat, Pada Piala AFF lalu, terbetik seruan untuk menggunakan batik ketika menonton partai puncak super panas antara Indonesia-Malaysia.

Batik sendiri sebenarnya memiliki makna yang sangat kaya karena dikerjakan oleh para perajin batik  Indonesia dengan penuh perasaan. Goresan canting di atas kain pun tidak semata-mata mengikuti pola yang ada. Dengan latar belakang perajin yang berbeda, hasil batik bisa berbeda pula. Ini sebabnya mengapa Indonesia sangat kaya dengan motif batik. Yogyakarta saja, misalnya. Dari satu provinsi yang tidak terlalu besar itu saja, terdapat lebih dari 500 motif batik, itu baru satu daerah, belum daerah-daerah lainnya seperti Bali, Jawa Barat, atau Jawa Timur. 


Banyaknya motif ini sebenarnya bisa melahirkan keuntungan besar seandainya ditangani secara serius. Bayangkan, betapa banyak batik yang bisa dipatenkan dan menjadi kekayaan Indonesia. Belum lagi ciri khasnya yang begitu elegan sudah dapat dipastikan membuat batik memiliki kans yang sangat besar untuk digemari dan masuk ke ranah mode internasional. Batik motif mega mendung, misalnya. Motif ini merupakan motif khas batik pesisir yaitu dari Cirebon atau dikenal dengan istilah Cirebonan. motif mega mendung sangat unik karena seperti awan menggantung di langit. Terdiri dari sembilan lapis lingkaran serupa awan dengan tingkat ketebalan dan gradasi warna berbeda. Motif ini biasanya dipadukan dengan motif burung. 

Lalu ada pula motif sekar jagat. Motif yang satu ini cukup populer. Hampir semua daerah perajin batik memiliki motif ini. Ia dinamakan motif sekar jagat karena semua motif batik tradisional ada di sini. Misalnya motif kotak-kotak, motif bunga, motif garis-garis, dan motif-motif lainnya. Jika Cirebon memiliki mega mendung, Indramayu pun tak mau kalah dengan batik dermayonnya yang memiliki ratusan motif. Salah satu motifnya yang cukup terkenal adalah motif teluki.  Motif ini terinspirasi dari bunga teluki yang berujud rumput kecil-kecil yang memiliki kipas. Tumbuhan ini tumbuh di empang perairan ikan payau di pinggir laut. Rumput ini biasanya disajikan masyarakat Indramayu sebagai makanan urap. Namun kini teluki bisa dinikmati sebagai salah satu motif batik khas Indramayu. Beberapa motif tersebut tentu hanyalah tiga dari sekian banyak motif batik yang ada di Indonesia.


Jika merunut pada sejarah, pada awalnya, batik sebenarnya hanya digunakan oleh keluarga dan lingkungan keraton. Namun karena banyak pekerja keraton tinggal di luar keraton, maka pemakaian batik pun ditiru oleh rakyat. Kini, batik yang semula dianggap pakaian resmi keluarga bangsawan tesebut mengalami pergeseran cukup tajam dalam penggunaannya. Kain tradisional ini dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi selera pasar. Hasilnya bisa dilihat di pusat-pusat perbelanjaan. Batik dengan ragam motif pun menawarkan pilihan-pilihan gaya fesyen. Geliat batik melalui gerakan para pelaku usaha ini setidaknya membuat batik kian dikenal dan tidak pernah padam di bumi Indonesia. Tinggal kita sebagai masyarakat harus lebih peduli. Caranya? Tentu dengan mengenakan batik di berbagai kesempatan dan berhenti hanya menggunakannya di panggung seremonial semisal pidato atau kunjungan (sok-sok) politik tanpa melakukan aksi nyata dan hanya melakukan aksi seporadis, ups!

Google Twitter FaceBook

Minggu, 20 Maret 2011

Cara Menjahit 'Hobo Totebag Bolak Balik'


Masih ingat Charlie tottebag atau Hobo totebag yang pernah aku buat? Dan masih inget juga kan kain handmade karya  Polaku yang aku dapat beberapa bulan lalu. Karena lagi semangat membuat tutorial, kain dari Polaku itu aku bikin hobo totebag bolak balik. Caranya begini:

Pertama-tama, potong kain dengan bentuk seperti ini. Sebenernya ga harus seperti ini juga, bentuk bawah bisa sesuai selera, mau kotak aja juga bisa, yang penting bagian pegangannya ga terlalu sempit ketika tangan dimasukkan ke lubang tengahnya itu. Ada guntingan bagian bawah membentuk sudut, tujuannya untuk memberi volume pada totebagnya nanti, biar ga terlalu flat bawahnya. Jadi potonglah, dua macam kain dengan ukuran dan pola yang sama, masing- jenis dan corak dua lembar jadi total semuanya ada 4  lembar kain (untuk bagian luar dan dalam). Lebih lanjut baca di sini.
Google Twitter FaceBook

On Day Monday - BjBj Paper-Quilling

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojanto untuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Masih ingat kan dengan kelas paper-quilling yang digelar di Play Your Magic Hands minggu kemarin? Di situ kita berkenalan dengan Brinalloy sebagai mentor paper-quilling yang mengajarkan kita tentang seni menggulung kertas. Perkenalan yang hanya selintas itu rasanya belum cukup menuntaskan rasa penasaran saya dengan seni ini. Untuk itu kali ini saya mengajak teman-teman untuk mengenal Brinalloy lebih dekat, up close and personal di On Day Monday

Obrolan kami kemarin sore dibuka dengan sedikit cerita tentang nama uniknya. Sambil mulai menggulung-gulung kertas Brinalloy bercerita tentang arti namanya, yaitu campuran tembaga yang membentuk pipa. Arti yang unik dari nama yang juga unik, seunik hobinya menggulung-gulung kertas dan menjadikannya bentuk-bentuk kecil nan lucu.




Brinalloy, yang lebih akrab dipanggil Beje sudah menjadikan kegiatan kerajinan tangan sebagai hobinya. Ilmu tentang kerajinan tangan banyak didapatnya lewat pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Beberapa yang sering dilakukannya seperti krisik, dan mengolah manik-manik menjadi gelang, kalung atau gantungan kunci. "dari satu benda bisa dijadikan macem-macem, dari satu bahan bisa menjadi barang-barang unik yang long lasting" ujar Beje tentang apa yang paling disukainya dari kegiatan kerajinan tangan.



Tentang paper-quilling, ternyata seni ini sudah dikenal Beje sejak SMA di Samarinda. Ketika itu Beje mengaku belum mengetahui nama dari seni menggulung kertas ini, bahkan dia belum pernah menemukan seni ini sebelumnya. Tangan kreatifnya lah yang mulai iseng menggulung-gulung kertas dan membentuknya menjadi sebuah bentuk bunga. Bahan-bahan yang digunakan Beje ketika itupun masih sangat sederhana. Lembaran-lembaran kertas manila berwarna-warni dipotong-potongnya sendiri dan dijadikan sebagai bahan utama membuat karya paper-quilling sederhana. Lebih lanjut baca di sini.
 
Google Twitter FaceBook

Jumat, 18 Maret 2011

Maju Tak Gentar Membela Handmade

Yessss, akhirnya nepotisme terjadi juga di Tobucilhandmade. Hoho.. yap, sodara-sodara, ini adalah persekongkolan paling mutakhir, menggelinjang, plus mendebarkan antara sang penulis dan sepupu dengan seribu bakat! Tenang… ini kali sudah barang tentu nepotisme yang terjalin bukanlah nepotisme tak bermutu ala Soeharto dan kroninya. Tiara Risa Primaresti alias penggagas Littletiara adalah sepupu saya yang paling centil dan pemilik tangan njlamitan. Hobinya menggambar, membuat handmade stuff, dan menggemari lelaki-lelaki tampan. Setelah kemarin Ojanto, kini giliran Tiara, yeah, Jogja invasion! Ouch…  Jadi agak berlebihan. Lupakan..  Hmmm… bikin apakah gerangan beliau?  Yuk, langsung disimak!
 
Apa sih yg kamu buat dengan tangan-tanganmu yg centil itu?
Saya menggambar, dan kadang-kadang menjahit. Tergantung mood saja. Kalau lagi enggak mood gambarnya jelek dan jahitannya amburadul, hehehe. Sebenernya awalnya iseng aja, Terus suka dipamerin di blog, banyak yang suka dan beberapa bilang suruh jual aja, tapi saya enggak langsung jual. Mikir-mikir dulu, udah pantes belum dijual. sampai sekarang, barang-barang yang udah dibikin, sih little notebooks, little plushie (semacam boneka-boneka kecil). Nah, bagian boneka ini ada dua, yang satu digambarin sendiri, yang satu dibikin dari kain-kain bekas. sebenernya yang boneka ini saya udah diajakin sama temen untuk collab, saya produksi, dia manajerial dan nantinya isinya adalah sampah, jadi semacam produk daur ulang, tapi yang ini masih on hold, saya masih mau konsentrasi ke Littletiara yang fokusnya lebih ke stationery, kartu-kartu, prints. 

Disebarinnya kemana aja, tuh?
sejauh ini masih promosi pribadi lewat blog dan online store, tapi ini lebih ke internasional buyer, jadi harganya berbeda dengan yang offline.  Kalau yang lokal sih ya nitip-nitip aja, atau kalo pas ada temen yang minta dibikinin. Di Tobucil juga saya nitipin. berkat sepupu saya yang sering nongkrong di sana. pertamanya enggak kepikiran, kepikiran pun saya enggak tahu gimana caranya, makanya waktu ditawarin saya seneng banget, hihihi. Telimakacih cepupu.. semoga revisi tesisnya tenang di sisiNya, amin, hahaha (duh, ini jawabannya kental sekali dengan aroma-aroma nepotisme, hahaha).

Aminnn, hahaha. Eh, kok kmu milih bikin buku dan boneka, sih?
saya suka nulis. Nulis diary, dan perasaan nulis di buku yang lucu itu beda dibandingin nulis di buku tulis biasa. Kalau boneka... Ah, ya, karena semua orang punya soft-side. Seneng kalau liat benda . Intinya, sih, saya cuman pingin bikin orang lebih seneng, dengan menulis di notes yang menyenangkan atau dengan mainan boneka sama anak atau pacar atau istrinya.

Oh, ya. Kalau menggambar sejak kapan, tuh?
Berkat teman saya, dia liat saya punya dasar, dia jagoan gambar,  maka saya dibimbing untuk menggambar yang baik dan benar. Jadi pas SD seringnya ikut lomba-lomba gambar gitu, tapi jaman SMP SMA udah jarang.  Mulai ngegambar lagi pas kuliah,  iseng-iseng aja dan temen-temen yang  liat ternyata pada  suka dan encourage. Intinya sih saya ini suka enggak pede, harus ada orang lain maksa dulu, ngasih tau kalo ini worth it, baru dilakukan, dan saya pikir betapa menyenangkan menghabiskan hari-hari dengan menggambar, menjahit, dan dapet duit, hihihi.


Nah, kalau belajar bikin buku dan boneka gimana, tuh?
Hmm... learning by doing. Bikin notes itu pertama mikirnya cuman ngegambar aja beres, ternyata saya musti mikirin mau make kertas apa, trus bindingnya gimana, dibungkus make apa, beli kertas dimana, cetak yang bagus tapi murah dimana, belajarnya di situ, dan itu menyenangkan. Ketemu banyak orang juga, hohoho. Kalau boneka, itu 80% feeling, 10% online tutorial, 10% luck, hahaha. polanya cuma ada di otak, kadang dapet ide dari gambar-gambar lucu di internet. Ya, sambil lihat tutorial juga, sih.

Masalah keberanian memulai itu kan yang susah biasanya. Kalau cara kamu ngebangkitin rasa berani nekat nyobain itu gmn nih?
Ah, bener banget itu. Susah banget buat mulai. Takut jelek, takut orang  enggak suka. Makanya biasanya saya pajang gambar di blog dulu, liat reaksi orang-orang... alhamdulillahnya sampe sekarang orang-orang  suka.  Dan ya... encourage dari temen-temen itu tadi yang bikin saya berani maju.


Menurut kamu handmade itu hobi atau masa depan?
Hobi untuk masa depan. Kan ada pepatah dari Confucius, choose a job you love and you'll never have to work the rest of your life. Buat saya, orang-orang yang melakukan hobinya sebagai jalan hidup untuk masa depan dia sendiri adalah orang-orang pemberani. Berani ngikutin mimpi dan jadi diri mereka sendiri.

Hmmm… apa sih yg bikin kmu tertarik bikin barang handmade?
saya suka orisinalitasnya, eksklusif istilahnya, dan lebih personal. Barang handmade itu personal karena seperti yang saya bilang tadi, sesuai mood. Kalau lagi jatuh cinta pasti barangnya semacam berbunga-bunga, kalau lagi patah hati biasanya pilihan warnanya juga menggambbarkan ke-gloomy-annya...

Settt, dah, ah… huhuy jawabannya. Pergerakan Littletiara sendiri gimana, nih?
Planning-nya tentunya memperbaiki produk, kemarin sempet bagi-bagi notes ke temen-temen, jadi dapet feedback mereka pengennya digimanain.  Yang pasti semakin sering jatuh cinta dengan Littletiara. Semakin sering jatuh cinta biar semakin banyak berkarya  karena kaau lagi jatuh cinta biasanya semacam "high", hahaha. Idenya endless dan harus digambar kalo nggak bisa stress sendiri. Untuk produk nantinya enggak cuman notebook, misal bikin buku crita anak-anak atau kerjasama sama orang dan bikin cover buku.

Mimpi terbesar Tiara?
Mimpi saya cuman biar orang seneng, makin banyak orang yang seneng dan berbahagia makin seneng saya,hohoho, dan tentunya karena handmade adalah apa yang saya lakukan, saya mau orang-orang itu merasakan vibe-nya yang personal tadi dengan karya-karya saya. Jadi kalau saya lagi seneng karena jatuh cinta dan ngegambar, saya mau orang yang liat gambar itu juga merasakan senengnya jatuh cinta, bgitu, hehehe…

Duh… ini yang lagi diwawancara entah lagi jatuh cinta atau sedang mencari cinta, full of love sekali kalimat-kalimatnya! Hihiw, yang pasti, ibarat pantun agak maksa tapi sexy: kecil-kecil rada ceriwis, biar centil yang penting handmade like this!
Google Twitter FaceBook

Sebuah Kisah Sebuah Riwayat

Suatu sore dan kebutuhan akan celana selalu memabukkan bagi saya. Pasalnya, nyaris tak ada toko baju yang menyediakan ukuran celana untuk pinggang saya nan langsing ini! Penjahit pun jadi korban. Tangan-tangan cekatannya lalu dengan lincah mengukur-ukur tubuh saya nan amboi ini. Ya, mencari tukang jahit adalah perkara paling mudah. Di setiap sudut kota, pastilah sebuah bangunan dengan tulisan “tailor” atau “jeans” bertebaran dengan gegap gempita. 


Bagi saya, penjahit adalah pekerjaan yang masih bersaudara dengan dunia handmade meski dibantu oleh mesin. Klasik, ever lasting, dan dibutuhkan meski kurang diperhatikan dalam keseharian. Sejarah permesin jahitan memang kerap terlupakan. Ia kerap dianggap kegiatan sambil lalu, padahal, dari proses pengukuran sampai dengan pembuatan pola sampai menjadi celana, baju, atau jas yang kita kenakan, adalah berkat sentuhan tangan-tangan terampil yang memang ahli dibidangnya.

Mengapa ia dibilang klasik? Kegiatan menjahit yang sudah di kenal orang sejak 20.000 tahun yang lalu, jauh sebelum orang mengenal cara menenun, jarum jahit sudah di kenal manusia sejak zaman Paleolitik. Pada perkembangannya,  penemu berkebangsaan Inggris, Thomas Saint menciptakan mesin jahit pertama dan sekaligus mematenkann ya pada tahun 1790. Mesin jahit ciptaan Saint tidak diproduksi dan hanya sampai pada tahapan model untuk pendaftaran paten.


Kisah mesin jahit kemudian menjadi menyedihkan ketika Pada 1830, penjahit Perancis Barthelemy Thimonnier menciptakan dan mematenkan mesin jahit yang dapat dipakai menjahit. 80 unit mesin jahit ciptaannya dipakai oleh Angkatan Darat Perancis untuk menjahit seragam tentara. Tragisnya, Thimonnier meninggal dalam keadaan pailit di Inggris setelah pabriknya di hancurkan para penjahit yang merasa pekerjaanya terancam oleh mesin.

Isaac Merritt Singer adalah generasi penemu berikutnya. Nama yang sangat terkenal dalam dunia jahit-menjahit ini mulai merancang mesin jahit pertamanya pada tahun1850. Ide membuat mesin jahit didapatkannya dari mesin jahit Orson C.Phelps dari Boston yang diproduksi di bawah lisensi Lerot dab Blodgett. Pada1851,Singer memantenkan mesin jahit jahitan kunci pertamanya,dan mendirikan perusahaan I.M. Singer & Company.Dua tahun berikutnya,Singer sukses sebagai produsen dan penjual mesin jahit terbesar di amerika serikat,dan terbesar di dunia pada tahun 1855.pada tahun 1891,singer mulai memakai motor listrik untuk menggerakan mesin jahit untuk industri komersial.


Namun, ibarat pertempuran, perjalanan mesin jahit ternyata laksana pertempuran di medan perang. Seperti yang dikutip dari Wikipedia, Adalah sebuah nama Elias Howe yang menggegerkan jagat perjahitan. Mesin buatannya menggunakan dua benang dari arah berlawanan dan memiliki jarum berlubang untuk benang di bagian ujung. Jarum itu didesak menembus kain dan membuat semacam lengkungan benang di sisi bawah kain. Sebuah benang dari arah lain disisipkan ke dalam lengkungan tadi. Lalu kedua benang membuat jalinan yang mengunci kain. Konon, temuan ini lahir  dalam mimpinya. Ia bermimpi ditusuk oleh seorang kanibal dengan tombak dalam tidurnya. Bentuk ujung tombak inilah yang dijadikan inspirasi buat menciptakan jarum yang sudah lama dicarinya.


Temuannya inilah yang kemudian menjadi silang sengketa. Howe menuduh Singer menjiplak idenya. Seorang penemu lainnya bernama Hunt juga turut dituntut oleh Howe karena dianggap pula telah meniru ciptaannya. Hunt sendiri adalah penemu yang melankolis. Ia membatalkan patennya pada tahun 1834 karena berpikir bahwa ciptaannya akan membuat pengangguran meningkat. Pertarungan kemudian dimenangkan oleh Howe, yang sayangnya kemudian mendonasikan sebagian keuntungannya untuk pasukan infanteri pada perang saudara Amerika Serikat.


Wah, saya jadi terlalu panjang bercerita. Pertemuan saya dengan seorang penjahit memang terlalu menggelitik saya untuk menulis tentang kisah perjalanan mesin jahit yang melankolis ini. Tentang sebuah perjuangan, persaingan, sampai peperangan. Tentang bagaimana sebuah alat yang kerap dianggap sepele ini adalah sebuah simbol intelektualitas. Selamat menjahit kawan-kawan :)
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails