Haha hihi dari note book sampai dunia maya, dari Orba sampai gerakan politik membuat wawancara kali ini memecahkan rekor sebagai wawancara terlama dan terpanjang yang pernah dilakukan oleh Tobucilhandmade. Agak sulit memang mewawancarai sahabat dekat, ah, tapi berhubung saya memang keren, jadi yang sulit pun terasa mudah (narsis mode-on, hahaha). Sedikit serius, Vitarlenology adalah sebuah perbincangan mengenai handmade dan pergerakannya, virus paling tidak berbahaya yang wajib ditularkan. Mangga di baca kawan-kawan sekalian…
Nama Vitarlenology, tuh, kapan munculnya dan mengusung gagasan tentang apa, sih?
Vitarlenology tuh muncul skitar tahun 94-95 ketika album Pearl Jam Vitalogy muncul, hehehe. Karena seneng dengan album itu jadi saya masukin nama saya di tengah-tengahnya, kan Vitalogy artinya ilmu tentang kehidupan, nah, jadi Vitarlenology artinya ilmu tentang kehidupan tarlen, hahaha, udah kayak sekte aja. Nah, akhirnya nama itu saya pakai untuk nama buku harian saya. Ketika blog muncul, saya membuat blog dengan nama itu. Ketika saya membuat produk-produk handmade ya sudah saya gunakan juga nama itu.
Ilmu baru, tuh, Vitarlenology, hahaha. Nah, Vitarlenology, kan, banyak banget, tuh, produk buku-buku notesnya. Awalnya emang pengen fokus membuat note book atau “ngacaprak” weh, semua dibuat?
Awalnya sih, mmm.. saya, kan, meminati segala bentuk craft. Pokoknya yang berhubungan dengan jarum, kain, benang, saya tertarik. Pokoknya segala yang berhubungan dengan dunia needle. Nah, ketika 2004 pulang dari Amrik, saya berpikir untuk fokus memilih apa yang paling saya suka dari sekian banyak yang saya pelajari. Ternyata saya paling suka dengan book binding, menjilid buku dan itu sejalan dengan hobiku nulis buku harian. Apalagi saya pernah ikut kelas book binding di sana, ya sudah, akhirnya itu yang menjadi pilihan.
Memang serumit itu, ya, menjilid, sampai ada kelasnya?
Sebenarnya yang saya pelajari di tempat kursus itu masih sangat dasar. Jadi yang simple-simpel, tapi itu membuat saya mengerti tentang “logika” binding. Jadi binding itu, kan, menyatukan bagian-bagian. Seninya ada pada hasil ikatan-ikatan tersebut. Bagaimana menciptakan ikatan yang indah dengan membuat pola-pola tertentu. Dan itu menjadi satu bagian yang saling mendukung dengan desain buku notes tersebut. Nah, kalau untuk cover saya lebih senang menggunakan bahan-bahan non-kertas seperti kulit imitasi dan lain sebagainya. Balik lagi ke binding, sebenarnya teknik menjilid ini sudah ada dari dulu, kalau kita melihat manuskrip-manuskrip kuno, di sana sudah digunakan teknik untuk menjilid dan semua kebudayan yang menghasilkan manuskrip pasti memiliki teknik-teknik sendiri. Saya, sih, punya cita-cita membuat buku tentang pola-pola binding. Isinya tentang pola-pola buatan saya. Ya, perlu beberapa tahun lagilah.
Apa, sih, kelebihan note book Vitarlenology? Ahiwww, hahaha.
Hahahaha. Mm… ya… Semuanya saya yang buat, otentik dan orisinal, hehe. Karena saya enggak punya tukang untuk ngerjain ini. Semuanya sendiri, dari motong sampe menjilid. Jadi saya memerlakukan semua buku yang saya buat sebagai karya seni, karya saya untuk orang lain. Dibuat dengan cinta dan hasrat, hehehehe.
Apa kesulitan pertama yang akan dihadapi, sih, ketika hendak membuat note book?
Kan, sebenarnya, siapapun tidak akan bisa membuat dengan baik jika tidak menguasai teknik dan karakteristik bahan. Jadi memang harus dimulai dengan mengenali jenis kertas, mengeksplorasi penggabungan bahan-bahan yang digunakan, Misalnya kita mau membuat organizer untuk penggunaan setahun, kan, enggak mungkin menggunakan kain yang mudah tergores kalau tergesek-gesek karena kita harus menggunakan bahan yang cukup kuat untuk digunakan setahun. Jadi pertimbangan material, teknik, dan fungsi itu menjadi hal yang penting.
Buku buatan Vitarlenology ini ada di mana aja, sih?
Menyebar di Tobucil, hahaha. Terus di Selasar Sunaryo. Jakarta menyusul. Saya juga punya online store.
Apa, sih, misi sebenarnya dari Vitarlenology?
Jadi saya tidak semata-mata hanya membuat note book untuk dijual. Tapi sebenarnya saya ingin mengajak orang-orang untuk menulis catatan harian. Karena siapa lagi coba yang akan menulis tentang diri kita kecuali kita sendiri, dan saya percaya catatan manual itu lebih abadi karena hal-hal yang tidak bisa diutarakan ke publik hadir di catatan manual itu.
Hmmm… kan sekarang teknologi internet sudah sangat berkembang, gimana, sih, menurut Tarlen mengenai pergeseran budaya menulis?
Ya, menulis di blog itu di satu sisi memang jauh lebih mudah tapi memiliki resiko karena tulisan di dunia maya kemudian menjadi milik publik. Dunia maya mengubah konsep personal. Jadi dengan saya membuat note book ini, saya mengembalikan lagi unsur personalitas. Mengembalikan lagi kejujuran dalam menulis. Ketika kita menorehkan tinta di kertas lalu 10 tahun kemudian kita membuka kembali tulisan tersebut, maka kita akan kembali merasakan apa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Itu yang sulit dihadirkan oleh dunia maya. Jadi internet di satu sisi memudahkan namun di sisi lain menghilangkan banyak hal.
Kembali ke Vitarlenology, nih. Menurut Tarlen, nih. Apa, sih, sebenarnya sisi lain dari kegiatan craft?
Bagi saya, melakukan kegiatan craft bukan sekadar untuk penghasilan. Tapi sebenarnya ada tanggung jawab sosial yang harus diemban oleh crafter. Seperti sekarang ada blog yang baru dibuat oleh para crafter di beberapa kota, craft for humanity, craft untuk kemanusiaan. Jadi Crafter bisa berkontribusi untuk kemanusiaan. Misalnya seperti kemarin ada bencana merapi, maka diadakan kegiatan merajut untuk merapi. Dikirimkan kepada para korban. Personalitas dalam rajutan itu kemudian jadi semacam transfer energi. Energi positif yang kita punya ditularkan kepada sebanyak mungkin orang dengan sesuatu yang sederhana.
Nah, kan banyak crafter yang membuat karena hobi, tapi kemudian jadi serba pas-pasan. Gimana, tuh, tanggapannya?
Menurut saya, sih, ya harus selektif juga ya. Kalau saya sebagai crafter, ketika hendak membuat brand, yang pertama kali harus dibangun adalah nilai tawar kita sebagai crafter sehingga kita tidak diperlakukan sebagai pengrajin atau buruh upahan. Saya tidak bisa mengerjakan pesanan yang desainnya bukan buatan saya. Ya, bisa kompromi dalam beberapa hal, tapi kita sebagai crafter yang mengambil keputusan. Jadi kita punya keleluasaan untuk mengambil keputusan dan tidak serta-merta menuruti apa kehendak klien. Itu akan membangun nilai tawar.
Kegiatan craft, kan, sekarang lagi musim. Pandangan Tarlen terhadap, gejala ini? (hahaha gejala dong, pilek kali gejala).
Hahaha. Ya… menurut saya, sih, kalau di Indonesia gerakannya, kan, baru dimulai. Ketika jaman PKK masa Orba menjadi gerakan politis yang sistematis, itu telah menjadikan kegiatan craft menjadi kegiatan sehari-hari. Seolah-olah ada peraturan yang mengharuskan kalau perempuan harus bisa menjahit, memasak, dan keterampilan tangan. Kalau dulu, kan, politis ya, karena merupakan bagian dari strategi Orba untuk mengontrol perempuan pada saat itu. Kalau sekarang, ternyata di dunia barat gerakan-gerakan feminis justru mengembalikan perempuan pada kegiatan-kegiatan domestik seperti itu, gerakan yang dahulu ditentang oleh kaum feminis. Alasannya? Karena untuk mandiri dan menolak buruh-buruh dibayar murah di negara dunia ketiga. Kalau Di Indonesia sekarang kesadaran politik seperti itu belum. Masih baru pada tahap semangat membuat. Ya, tapi ini akan berproses dan semoga nantinya sampai pada kesadaran tersebut. Nah, buat yang sudah memiliki kesadaran itu, mari kita tularkanlah sebanyak mungkin. Gerakan ini juga membuat kita tidak komsumtif karena kita tahu bagaimana prosesnya. Jadi lebih menghargai proses bagaimana benda sederhana tersebut melibatkan banyak orang.

Awww, demi membaca tulisan ini, lupakan Ahmad Dani yang berteriak sampai serak tentang virus cinta. Ada baiknya mari kita sebarkan virus handmade ke seentaro jagat!