7.10.11

Makam yang Terlupakan : Memoar Ulang Tahun Bandung

Beberapa waktu lalu, Bandung dengan gilang gemilang berulang tahun. Keramaian tercipta di sana-sini demi mengingatkan tanggal kepindahan pusat pemerintahan kabupaten Bandung dari Dayeuh Kolot ke alun-alun Bandung Sekarang pada 25 September 1810 lampau.

Alun-alun Bandung adalah tempat yang identik dengan kepadatan sekaligus keramaian. Puluhan toko-toko bercampur dengan keriuhan pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor adalah pemandangan sehari-hari yang terlihat di kawasan ini. Kesan sedikit kumuh menempel pula di lokasi yang juga merupakan salah satu wilayah terpadat di ibukota provinsi Jawa Barat tersebut. Namun mungkin tak banyak yang tahu bahwa dibalik hingar bingar alun-alun tersebut, terdapat sebuah kompleks pemakaman yang layak disebut sebagai salah satu tempat bersejarah yang dimiliki oleh Bandung. 

Tak jauh dari Masjid Agung, tepatnya di jalan Karang Anyar, terdapatlah tempat persemayaman terakhir para bupati yang dahulu pernah memimpin Bandung (pada masa Hindia Belanda, wilayah Bandung masih berupa keresidenan yang dipimpin oleh seorang Bupati). Tak kurang dari 138 makam berdiri dalam kebiusannya. Makam yang begitu banyak memiliki cerita tentang kota yang kita cintai ini. Tak ada kesan megah apalagi angker pada bangunan yang didominasi warna hijau dan putih tersebut, sederhana sekali. Padahal, disinilah bupati yang pernah memimpin Bandung dan juga para kerabatnya dimakamkan. Mulai dari Bupati Bandung pertama Tumenggung Wira Angun-Angun (1641-1681) yang diangkat oleh Sultan Agung Mataram pada 20 April 1641 dan dititahkan untuk mendirikan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung di daerah Cieteureup (Dayeuhkolot) sampai Kol. Hatta Jatipermana yang memimpin kabupaten Bandung di era modern pada tahun 1990-2005.

 
Menyambangi kompleks pemakaman ini kita kemudian seakan diajak untuk mengikuti perjalanan Bandung dari awal ia berdiri hingga kini menjadi sebuah kota yang dapat dikatakan modern. Di tempat ini pulalah pada akhirnya kita dapat mengetahui tentang pembangunan sang kota dari masa ke masa dan juga sejarah politik yang melekat padanya. Ya, jika ditelusuri, Bandung pada awalnya adalah daerah yang memang kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah Hindia Belanda, agresor  yang pernah ratusan tahun menjajah Indonesia. Barulah setelah Tumenggung Wira Angun-Angun membabat hutan dan mendirikan pemukiman di atasnya, terasa benar betapa pentingnya daerah ini. Kepentingan itu sendiri muncul  dalam rangka untuk mendukung keinginan Belanda menguasai seluruh daerah di pulau Jawa. Serangan Sultan Agung ke Batavia (Jakarta) di bawah pimpinan Dipati Ukur semakin membuka mata Belanda tentang pentingnya kota Bandung, baik dilihat dari segi historis dan geografis. Hal ini pulalah yang kemudian membuat Bandung memasuki era baru dalam perjalanannya: era penjajahan Belanda.


Dari segi pembangunan kita lalu berjumpa dengan sosok Bupati R.A.A Martanegara yang memerintah pada 1893-1918. Ia adalah bupati yang membangun beberapa irigasi dan bendungan untuk mengantisipasi banjir yang kala itu acap menyerang Bandung. Bupati ini pulalah yang kemudian berjasa mendirikan artefak-artefak kota yang masih dapat kita saksikan hingga saat ini. Sebut saja Taman Merdeka (Pieterspark), Taman Nusantara (Insulindepark), Taman Maluku (Molukenpark), atau Taman Ganesha (Ijzermanpark). Semua adalah bangunan bersejarah yang sempat dibangun oleh bupati yang satu ini.

Memang, rasanya memerlukan ratusan halaman kertas jika ingin menguraikan ingatan kita tentang sejarah lahir serta berkembangnya Bandung dan semua itu terjadi berkat kerja keras dan perjuangan para pemimpin di masa lalu. Para pemimpin yang kini tengah tertidur lelap dalam tidur abadinya. Para pendahulu yang harus terus dikenang agar kita dapat merenung dan menyadari betapa Bandung telah menjalani sebuah masa yang begitu panjang sampai ia menjadi apa yang sekarang kita lihat dan kita tinggali bersama.
(Nunuw)      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails