12.8.11

Matinya Tapak Sejarah Kemerdekaan

Banceuy. Mendengar nama tersebut, semua orang akan langsung membayangkan salah satu pusat perbelanjaan di kota Bandung yang setiap harinya ramai dengan hiruk pikuk manusia. Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa di tengah keramaian tersebut terdapat sebuah situs bersejarah yang sangat berharga. Bangunan bercat hijau seluas 2.5m x 1.5 m itu berdiri di tengah padatnya kompleks pertokoan Banceuy di sekitar jalan ABC. Kesan kumuh dan tidak terawat adalah hal pertama yang akan terlintas di kepala ketika melihatnya, padahal, pada tanggal 29 Desember 1929, di ruangan sempit inilah dahulu Soekarno yang dikenal sebagai presiden RI pertama pernah dijebloskan oleh pemerintahan kolonial Belanda dan mendekam selama delapan bulan lamanya akibat dari aktivitasnya di dalam PNI yang kala itu begitu lantang bersuara tentang kemerdekaan Indonesia.

Penjara Banceuy, itulah nama yang pernah melekat pada tempat yang satu ini. Pada tahun 1877 Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Dalam perjalanannya, penjara ini kemudian memiliki peran yang cukup unik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, khususnya bagi Soekarno. Di tempat ini, tepatnya di kamar nomor 5 blok F, sang proklamator kemerdekaan Indonesia tersebut menyusun pledoi yang dibacakan di depan muka pengadilan. Di atas sebuah kloset yang terdapat pada ruangan sempit tersebut Soekarno merumuskan sebuah pledoi yang tidak hanya berisi tentang pembelaan terhadap dirinya, namun lebih dari itu, pledoi itu merupakan sebuah pembelaan terhadap satu bangsa yang dirampas hak kemerdekaannya selama ratusan tahun. Sebuah pembelaan yang kemudian dikenal dengan nama “Indonesia Menggugat”.


Kini bangunan itu hanya terkesan sebagai sebuah tapak sejarah perjalanan bangsa yang semakin hilang dari ingatan. Ia seakan hanya menjadi seonggok monumen tanpa penjelasan. Jika tidak didampingi oleh seorang penunjuk jalan yang paham benar tentang sejarah, bisa jadi kita akan pusing tujuh keliling mencarinya. Sesampainya di tempat itu pun kita pun dipaksa untuk menahan nafas. Aroma pesing yang menyeruak adalah hal pertama yang akan menyambut kedatangan siapapun yang hendak melihat dari dekat artefak bersejarah ini. Bangunan penjaranya sendiri sudah dirobohkan dan tergantikan oleh ruko-ruko, menyisakan hanya sebuah sel tempat Soekarno ditahan dan menara penjagaan. Bangunan dua lantai berukuran sekitar 18 meter persegi itu tampak berdiri agak aneh dan terasing di tengah lingkungan pertokoan. Di sisi kirinya dibangun sebuah monumen yang ditandai batu dengan pagar rantai mengelilinginya. Bangunan berikut monumen di sampingnya itu menjadi satu-satunya ruang terbuka di kawasan pertokoan Banceuy. 

Selain tidak diurus dengan baik, kepentingan ekonomi telah mengalahkan upaya pelestarian tempat bersejarah tersebut. Bayangkan saja, siang malam transaksi bisnis banyak dilakukan di tempat ini dan mengerus nilai sejarah Penjara Banceuy. Tak ada petunjuk apa pun di jalan raya sekitar Banceuy yang menandakan wilayah itu dulu pernah menjadi penjara. Tak terlihat pula adanya bekas-bekas reruntuhan bangunan abad XIX. Ironis adalah kata yang mungkin terlontar ketika melihat kondisi penjara Banceuy. Bagaimana tidak, sebagai sebuah bagian sejarah yang memberikan catatan penting tentang perjalanan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya, ia seakan-akan begitu dilupakan kehadirannya dan dianggap kecil keberadaannya.


Penjara Banceuy memang tidak sekokoh dulu. Derap laju serta gegap gempita pembangunan telah mengikisnya perlahan-lahan. Tanpa campur tangan pemerintah dan pihak-pihak terkait, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang generasi muda tak akan lagi mengenali sejarah bangsanya sendiri, padahal, bukankah sebuah bangsa yang besar seharusnya menghargai sejarah yang dimilikinya? Sebuah pemeo klasik yang sepertinya kini telah menjadi jargon yang tersembunyi di gugus-gugus awan paling hitam. Dirgahayu Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails