29.7.11

Ketika Foto Menggenggam Harapan

Prabowo Setyadi alias Bowo adalah fotografer lawas yang terlalu sering saya jumpai dengan tentengan kamera di tangannya. Penjelajah yang kerap petangkringan di keramaian dan kepungan manusia. Sampai kemudian, di suatu sore, puluhan buku hadir bersama Bowo. “200 Portraits+Hopes of Bandung People” adalah buku yang berisikan kumpulan foto karyanya yang berisi 200 foto warga bandung dengan harapan-harapan yang dimilikinya.


Beberapa waktu yang lalu, sengaja saya mengumpulkan niat untuk menyempatkan diri menyambangi launching buku tersebut, namun sial beribu sial, hujan yang mendera ditambah kemacetan Bandung yang kian menyebalkan di akhir minggu membuat saya bersahabat dengan kata terlambat. Meski demikian, foto-foto Bowo terus bergumam di kepala, bahkan berhari-hari setelah kegagalan atas nama keterlambatan tersebut terjadi. Mengamati karya Bowo membuat saya agak terusik dengan maksud dan tujuan lelaki tinggi langsing ini. Nah, daripada saya terusik sendiri, jadilah saya pun mengusik-ngusik Bowo. Janji pertemuan pun dibuat, menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai karyanya, mengenai harapannya, mengenai fotografi di dalam hidupnya. Percakapan kami pun kemudian terjalin di sejuknya udara Bandung dan secangkir kopi hitam pahit dengan gula yang begitu minimalis…


 

Apa yang melatarbelakangi kamu membuat buku ini?
Pertamanya, sih untuk hadiah ulang tahun Bandung yang ke-200. Bulan September tahun lalu, kan, ulang tahun yang ke 200-nya. Tapi tujuan utamanya adalah bahwa 200 orang ini adalah warga kota Bandung yang memiliki daya tahan lebih di bandingkan kita yang mungkin kerja di kantoran. Mungkin karena latar belakang mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah yang kesulitan mencari ruang untuk mengapresiasikan dirinya. Ya, ini semacam dokumentasi.



Kalau ide awalnya sendiri gimana, tuh, sampai jadi 200 foto dengan pose orang-orang memegang karton bertuliskan harapan-harapan mereka?
Jadi tahun 2009 pernah membuat yang seperti itu juga, tapi waktu itu pas ulang tahun Indonesia. Waktu itu dicetak postcard untuk ikutan pameran yang diadain oleh Beritaseni.com. Ternyata pas dilihat-lihat oke juga, nih, memasukkan foto digabungkan dengan teks secara langsung. Kan, biasanya kalau di media massa, foto pakai caption berupa teks di bawah fotonya sebagai keterangan. Nah, kalau ini dibalik, ini bukan foto untuk di media. Jadi di foto saya penggabungan teks dan foto secara langsung.


Hmmm.. foto, kan, gambar yang bercerita. Sedangkan Bowo membuat 200 foto yang sama, baik dari sudut pengambilannya maupun cara ngambilnya sama semua. Kamu sendiri sebenarnya bagaimana, sih, melihat foto sebagai gambar yang bercerita?
Ya, foto kan tidak bisa berdiri sendiri tanpa teks, baik itu yang di media maupun yang bukan di media. Teksnya berupa judul ataupun berupa keterangan. Yang membuat foto itu bercerita, yaitu dengan teks harapannya itu, dengan identitas diri mereka beserta harapannya. Saya mencoba bercerita dengan cara seperti itu, cara yang menggabungkan foto dan teks sekaligus. Nah, biar enggak monoton, saya juga menampilkan latar belakang setting tempat mereka. Nah, jadi secara cerita, foto-foto ini merupakan sebuah cerita.

Di buku tersebut, kan, kamu memfoto beragam manusia. Apa, sih, yang membedakan harapan antara kelas menengah, dan harapan kaum-kaum yang secara sosial dan edukasi terpinggirkan?
Ya, kalau yang berasal dari kelas bawah, mereka sebagian tidak bisa menulis. Kalau dari harapannya sendiri, yang berasal dari kalangan bawah ini lebih real. Mereka lebih jujur.

Hal yang paling mengharu biru dalam pengerjaan foto-foto ini?
Jadi waktu itu ngambil foto di Rumah Belajar Sahaja Ciroyom. Ada yang namanya Irfan dan sama seorang anak kecil lainnya yang saya lupa namanya. Irfan mengatakan harapannya agar semoga Bandung bisa bersahabat ke anak jalanan, sedang anak kecil yang satunya lagi itu mengatakan harapannya ingin punya uang, ingin main di sekolahan, dan ingin ulang tahun. Keduanya enggak bisa menulis, jadi saya yang menuliskan harapannya di bantu sama koordinator rumah belajar tersebut. Mereka tetep keukeuh pengen menuliskan harapannya.

Kamu sendiri mulai tertarik dunia fotografi sejak kapan? Apa, sih, serunya?
Wah, dari SMP, euy. Jadi dulu masih make kamera instan yang masih pake film. Pas masuk kuliah ke jurusan Jurnalistik saya lebih memilih fotonya. Kebetulan di kampus juga ketemu sama orang-orang yang seneng fotografi. Ya, sudah, belajarlah dari sana, dari kamera yang masih pakai film sampai kamera digital. Kalau serunya, sih.. Foto itu lebih nyata dibandingkan lukisan.


Balik lagi ke buku, nih. Setelah buku ini, apa, sih, impian kamu berikutnya?
Pengen pameran! Di cetak gede-gede, ya segede pintu gitu..  Tapi bentuknya masih sama kayak yang dibuku, potrait atau fotografi jalanan itu selalu menarik. Tapi belum tahu kapan, nih.

Nahh… di buku itu, kan, enggak ada, tuh, foto Bowo. Kalau Bowo sendiri apa, sih, sebenarnya harapannya?
Ya.. kalau saya mah.. harapannya tetap genggam erat harapan aja. Harapan itu, kan, indah, gratis pula. Jadi… tetap genggam harapan.

Penasaran dengan buku Bowo? Datanglah dengan hati senang riang gembira ke tempat berikut! 
BLAB STORE [jalan. wira angun angun no.14.Bandung tlp: 022- 4234221],
TOBUCIL [jalan. Aceh No.56. Bandung. tlp: 022-4261548],
TOKO BUKU SOEMARDJA [Jalan. Ganesha No.10.Bandung. tlp: 081321169924]
APC INSTITUTE [Jalan. Phh. Mustofa 39 Bandung/Surapati Core Blok M32. tlp: 022-87242729/70160771],
Cinderamata Selasar Sunaryo Art Space [Bukit Pakar Timur No.100 Bandung- 40198 West Java Indonesia. tlp: 022-2507939],
HUMANIKA [jalan. Sunda No. 39a Bandung. tlp: 022-73441300 = 022-420 8502]
Also check this great websites!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails