27.5.11

Doa Sang Pesinden

Pesinden, sebuah profesi yang dapat dikatakan mewajibkan para pelakunya untuk memiliki kemampuan multi talenta, menyanyi sekaligus menari. Cap negatif seringkali pula muncul bagi perempuan yang menggeluti profesi ini. Kerap, pada sebuah pesta pernikahan yang mengundang pesinden, budaya saweran mengiringinya. Pecahan-pecahan uang mulai dari lima ribu rupiah sampai seratus ribu rupiah pun melayang ke tengah panggung dimana sang sinden tengah beraksi. Inilah dia awal muasal seorang pesinden di cap negatif, uang sawer yang diberikan penonton acapkali dianggap sebagai bayaran agar dapat menari dan bernyanyi bersama sinden dan melakukan apa saja yang diinginkannya.

“Padahal, bagi saya, uang sawer itu sendiri sebenarnya lebih bermakna sebagai sebuah penghargaan kepada sinden di panggung dan bukan untuk bayaran penjualan diri apalagi sampai merusak rumah tangga pemberi uang sawer tersebut,” ucapan itu meluncur cepat dari bibir perempuan bernama Komariah yang sudah tujuh tahun menggeluti profesinya sebagai seorang pesinden dan kerap mengisi acara pada pesta-pesta pernikahan.

Memang, satu hal yang tak bisa dinafikan, seorang pesinden bisa jadi merupakan roh dari pertunjukan, sebuah bagian penting dari prosesi sakral pernikahan. Inilah yang sebenarnya hal yang seringkali bertentangan dengan cap negatif yang melingkupi kehidupan sang pesinden. Ia dibutuhkan masyarakatnya sekaligus dicap bukan sebagai perempuan baik-baik.

Akan tetapi, seiring bertambahnya waktu, pergeseran kemudian terjadi. Seorang pesinden bersama group karawitannya kini lebih diasumsikan hanya sebagai sebuah pelengkap dalam pesta pernikahan. Ia lalu dipahami hanya dalam kapasitasnya sebagai penghibur. 


“Mungkin orang-orang sudah banyak yang tak peduli tentang posisi pesinden di dalam upacara pernikahan itu sendiri, namun seorang pesinden sebenarnya bukan hanya memberi hiburan untuk para undangan semata. Melalui tembang-tembang yang saya bawakan terdapat semacam doa puji syukur terhadap pasangan yang sedang melangsungkan hari pernikahannya, “tutur Komariah menjelaskan.

Komariah lalu menceritakan pula bahwa kecintaannya terhadap karawitan adalah salah satu alasan mengapa ia menerjuni profesi sebagai pesinden. Ia lalu berkisah pula bahwa banyak para pesinden yang malah menjadikan profesinya sebagai sebuah kebanggaan. Bagaimana tidak, tugasnya sebagai pemberi doa membuat para pesinden merasa cukup dibutuhkan bagi pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan, di samping penghasilannya yang memang dapat dikatakan cukup lumayan. Bayangkan saja, untuk sekali pertunjukannya, seorang sinden dapat mengantongi uang lima ratus ribu rupiah sampai dua juta rupiah. Belum lagi uang dari hasil saweran yang kadang jauh melebihi uang kontrak yang diberikan oleh sang penyelenggara hajat.

“Ah, tapi uang sawer kini semakin jarang, budaya saweran sebenarnya pun sudah mulai ditinggalkan, apalagi pada pesta-pesta pernikahan di kota. Seorang pesinden pada akhirnya hanya bertugas menyanyikan tembang-tembang tradisional dan, yang seperti sudah saya katakan tadi, memberikan doa kepada mempelai. Sawer sendiri sekarang mungkin hanya bisa ditemukan di daerah-daerah pinggiran dimana budaya lokal masih begitu kuat tertanam pada keseharian masyarakatnya,” jelas Komariah sejurus kemudian.


Mendoakan sang pengantin pada tiap kedatangannya, sebuah tugas maha mulia yang bisa jadi tak banyak disadari para perempuan yang menggeluti profesi satu ini, namun begitulah. Kehidupan seorang pesinden memang akan selalu menjadi kontroversi, ia melangkah bagai dua sisi mata uang dengan kepentingannya yang bertolak belakang. Pada akhirnya, hanya kontruksi yang dibangun oleh masyarakatlah yang akan menentukan dan memerlihatkan fungsi utama dari pesinden itu sendiri, tentang sebuah profesi yang seringkali diwajibkan ada untuk melengkapi sebuah pertalian kasih namun juga kerap diselubungi oleh suara-suara sumbang disekitarnya, miris memang, tapi itulah kenyataan yang ada, “ tak usah disesali dan dipikirkan terlalu dalam, jalani saja profesi sinden dengan sepenuh hati dan lama-kelamaan pasti semua orang akan bisa memahami tentang sinden itu sendiri,” Komariah bertutur ringan, mencoba meyakini sebuah kebenaran dari apa yang kini tengah ia jalani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails