1.4.11

Mural Menyapa Publik

Beberapa hari yang lalu, tak ada hujan tak ada badai, Littletiara, sepupu saya yang super centil ujug-ujug menapakkan kakinya ke Bandung. Dan mimpi buruk pun terjadi, berjam-jam direngeki akhirnya saya menyerah. Kolaborasi petualangan menyusuri Bandung pun dimulai! Ow, tapi setidaknya kali ini saya jadi punya asisten foto dadakan. 



Bandung yang sedang super panas menumbukkan saya pada dinding-dinding kotanya yang nyaris tak polos. Memang, beberapa tahun terakhir ini, mural menjadi semacam kebisuan yang hadir di dalamnya. Mulai dari tembok-tembok di jalan Siliwangi, tembok-tembok Kebun Binatang Bandung, hingga tembok-tembok jalan layang dihiasi oleh lukisan dinding yang bernama mural tersebut. Ya, mural memang telah menjadi satu bentuk ekspresi di ruang publik.


Lalu, apa, sih, yang sebenarnya dimaksud dengan mural? Secara singkat, mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan pilox atau cat semprot, maka mural tidak demikian. Mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu, bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar. 


Mural sendiri memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Adalah lukisan gua di Perancis dan Spanyol menjadi mural tertua yang ada sejak tahun 30.000-12.000 SM. Namun mural modern baru berkembang di tahun 1920-an di Meksiko dengan pelopornya antara lain Diego Rivera, Jose Clemente Orozco, dan David Alfaro Siqueiros.

Seni kerap merambah ke dunia politik, pun demikian halnya dengan mural. Revolusi Perancis mencatat bagaimana mural-mural yang di buat oleh aktivis kiri menjadi bahan propaganda yang menggema dalam revolusi Perancis May 1968. Revolusi Rusia yang termasyur itu pun didalamnya dikenal sejarah mural di dinding pabrik dan tembok istana raja untuk menyadarkan orang akan situasi Rusia dan apa yang harus dilakukan. Dalam sejarah Revolusi Indonesia pun mural turut memainkan peranan. lukisan yang menggambarkan seorang pemuda memekikkan kata merdeka sanggup membangkitkan semangat kaum muda. Selain itu kata-kata Boeng, Ayo Boeng dimassalkan oleh pelukis lain lewat coretan dinding sanggup memobilisasi kaum muda terlibat dalam laskar-laskar mempertahankan kemerdekaan.

 
Mural yang demikian dahsyat menarik perhatian massa adalah sebuah seni yang kemudian memang melabrak keekslusifan seni yang ada kalanya hanya tampil dalam lingkup terbatas pada gedung-gedung kesenian. Mengamati mural adalah mencermati sapaan para seniman dalam berinteraksi sebenar-benarnya dengan masyarakat. Ya, memang, seni yang baik itu adalah seni yang berhasil menyampaikan apa pesan yang diinginkannya kepada publik luas dan bukan semata hanya di lingkupan kecil komunitas seni. Mural mungkin adalah jawaban nyata dari gejala berbagi tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails