25.3.11

Menyalakan Kembali Batik

Dua tahun lalu, batik menjadi hal seksi yang diperbincangkan. Pasalnya, Malaysia, sebagai negara tetangga, tiba-tiba mematenkan batik sebagai hasil kekayaan budayanya. Tentu saja hal ini memicu berbagai reaksi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kurangnya perhatian pemerintah dalam memertahankan kultur lokal ditengarai menjadi penyebab mengapa beberapa warisan budaya leluhur Indonesia banyak yang dipatenkan oleh negara lain. Bandingkan dengan Malaysia, tahun 2004 lalu, pemerintah Malaysia bahkan telah mencanangkan kampanye Malaysia Batik- rafted for the World. Lewat kampanye itu, semua pengusaha batik di Malaysia diajak untuk semakin meningkatkan kreasi mereka. Pengusaha-pengusaha batik digerakkan untuk membuat batik-batik yang disesuaikan dengan tren mode yang sedang disukai masyarakat luas.

Itu dua tahun yang lalu. Bagaimana dengan sekarang? Yang pasti, kehebohan batik di kalangan akar rumput tak pernah padam. Sempat menjadi trend di hari Jumat, Pada Piala AFF lalu, terbetik seruan untuk menggunakan batik ketika menonton partai puncak super panas antara Indonesia-Malaysia.

Batik sendiri sebenarnya memiliki makna yang sangat kaya karena dikerjakan oleh para perajin batik  Indonesia dengan penuh perasaan. Goresan canting di atas kain pun tidak semata-mata mengikuti pola yang ada. Dengan latar belakang perajin yang berbeda, hasil batik bisa berbeda pula. Ini sebabnya mengapa Indonesia sangat kaya dengan motif batik. Yogyakarta saja, misalnya. Dari satu provinsi yang tidak terlalu besar itu saja, terdapat lebih dari 500 motif batik, itu baru satu daerah, belum daerah-daerah lainnya seperti Bali, Jawa Barat, atau Jawa Timur. 


Banyaknya motif ini sebenarnya bisa melahirkan keuntungan besar seandainya ditangani secara serius. Bayangkan, betapa banyak batik yang bisa dipatenkan dan menjadi kekayaan Indonesia. Belum lagi ciri khasnya yang begitu elegan sudah dapat dipastikan membuat batik memiliki kans yang sangat besar untuk digemari dan masuk ke ranah mode internasional. Batik motif mega mendung, misalnya. Motif ini merupakan motif khas batik pesisir yaitu dari Cirebon atau dikenal dengan istilah Cirebonan. motif mega mendung sangat unik karena seperti awan menggantung di langit. Terdiri dari sembilan lapis lingkaran serupa awan dengan tingkat ketebalan dan gradasi warna berbeda. Motif ini biasanya dipadukan dengan motif burung. 

Lalu ada pula motif sekar jagat. Motif yang satu ini cukup populer. Hampir semua daerah perajin batik memiliki motif ini. Ia dinamakan motif sekar jagat karena semua motif batik tradisional ada di sini. Misalnya motif kotak-kotak, motif bunga, motif garis-garis, dan motif-motif lainnya. Jika Cirebon memiliki mega mendung, Indramayu pun tak mau kalah dengan batik dermayonnya yang memiliki ratusan motif. Salah satu motifnya yang cukup terkenal adalah motif teluki.  Motif ini terinspirasi dari bunga teluki yang berujud rumput kecil-kecil yang memiliki kipas. Tumbuhan ini tumbuh di empang perairan ikan payau di pinggir laut. Rumput ini biasanya disajikan masyarakat Indramayu sebagai makanan urap. Namun kini teluki bisa dinikmati sebagai salah satu motif batik khas Indramayu. Beberapa motif tersebut tentu hanyalah tiga dari sekian banyak motif batik yang ada di Indonesia.


Jika merunut pada sejarah, pada awalnya, batik sebenarnya hanya digunakan oleh keluarga dan lingkungan keraton. Namun karena banyak pekerja keraton tinggal di luar keraton, maka pemakaian batik pun ditiru oleh rakyat. Kini, batik yang semula dianggap pakaian resmi keluarga bangsawan tesebut mengalami pergeseran cukup tajam dalam penggunaannya. Kain tradisional ini dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi selera pasar. Hasilnya bisa dilihat di pusat-pusat perbelanjaan. Batik dengan ragam motif pun menawarkan pilihan-pilihan gaya fesyen. Geliat batik melalui gerakan para pelaku usaha ini setidaknya membuat batik kian dikenal dan tidak pernah padam di bumi Indonesia. Tinggal kita sebagai masyarakat harus lebih peduli. Caranya? Tentu dengan mengenakan batik di berbagai kesempatan dan berhenti hanya menggunakannya di panggung seremonial semisal pidato atau kunjungan (sok-sok) politik tanpa melakukan aksi nyata dan hanya melakukan aksi seporadis, ups!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails