19.2.11

Sebuah Catatan Perjalanan Bernama Scrapbook


Alkisah, beberapa malam lalu, atas nama pencari hiburan murahan, terdamparlah saya di atas spring bed semi rusak menghadap televisi. 17 Again, film komedi ringan yang dibintangi Matthew Perry dan Zac Efron berputar pada cakram DVD. Mike, tokoh di dalam film tersebut menghadapi kehidupan yang stagnan membosankan. Salah satu scene film tersebut kemudian memerlihatkan Mike tengah asyik mengingat masa lalunya dengan mengamati sebuah foto jadul kala dirinya menjadi bintang basket populer semasa SMA. Tunggu dulu, tulisan ini sudah barang tentu bukan hendak membuat review film 17 Again. Tapi, adegan mengamati foto itu adalah adegan paling seksi bagi lelaki seperti saya yang katanya melankolis romantis. Aww, klaim sepihak. Hmm… Foto memang adalah sebuah cerita, catatan. Ini kali, percakapan saya bersama Claudine sang pembuat scrapbook adalah tentang kegiatan scrapbooking dan drama hidup yang disajikan di dalamnya…  

Aktivitas membuat scrapbook ini, kok, sekarang populer sekali, ya. Hmm.. apa, sih, sebenarnya yang membuat banyak orang senang dan tertarik membuatnya dan sebenarnya ini kegiatan seperti apa?
Ya… dengan perkembangan dunia fotografi sekarang, orang lebih gampang untuk membuat foto. Kalau di luar negeri, sih, sudah menjadi hobi, khususnya ibu-ibu rumah tangga. Awalnya ia hadir untuk mencatatkan kenangan. Pionir-pionirnya dari dahulu sudah membuatnya dari “scrap”, dari sobekan-sobekan kertas atau majalah. Mereka membuat catatan tentang apa yang terjadi pada masa itu, apakah ada kelahiran, atau perkawinan, misalnya. Lalu pada perkembangannya, desain, kan, makin berkembang. Itu mendukung perkembangan scrapbook. Kalau di Indonesia sendiri belum lama. Baru sekitar 5 tahun belakangan ini mulai muncul. Nilai tambahnya mungkin karena ia punya nilai lebih karena tidak hanya sekadar foto, tapi ada cerita yang disajikan.

Membuat scrapbook itu berarti per tema, ya?
Iya. Jadi lebih fokus. Apalagi untuk yang baru pertama belajar.


Oh, ya. Bagi yang baru memulai, apa, sih,yang harus dipersiapkan?
Kalau kelas di Tobucil, sih, kita pengen mengembalikan ke awal. Jadi bener-bener dari scrap. Jadi bukan barang scrap yang udah jadi kayak di toko. Nah, untuk yang pemula paling enak mengawali dari diri sendiri. Jadi membuat temanya tentang “aku”.  Fotonya foto sendiri. Memilih kertas atau membuat motif dari cat, ya, buatlah apa yang ingin dibuat saat itu. Jadi enggak ada patokan yang tegas. Paling yang harus diperhatikan masalah layout-nya. Misalnya foto menghadap ke kanan, maka lebih enak foto itu diletakkan di sebelah kiri. Teknik-teknik ini yang harus dipahami ketika baru memulai. Paling gampang itu dengan menempelkan foto terlebih dahulu. Buat yang baru belajar, kan, akan jauh lebih mudah jika dihadirkan visualnya terlebih dahulu.


Susahnya apa, tuh?
Scrapbook itu kan sebaiknya ada jurnal atau ceritanya. Nah, biasanya kesulitan terbesar adalah menuliskan jurnal atau cerita tersebut. Untuk mengatasinya bisa dipancing terlebih dahulu dengan memakai quote atau kata-kata mutiara yang sesuai dengan apa yang hendak kita buat. Ya, itu untuk memancing.

Loncat, nih. Scrapbook ini menggunakan kertas seperti apa?
Kebanyakan impor dari Amerika. Jadi kertasnya memang sudah dirancang acid free, tidak bersifat asam sehingga meski disimpan bertahun-tahun ia tidak bakal rusak. Fotonya pun enggak rusak.

Balik lagi, hehe. Selain untuk mencatat kenangan, ada kegunaan lain enggak, sih, dari membuat scrapbook?
Nah, kalau yang di Amerika, sudah ada terapi dengan scrapbook. Jadi, ada kisah seseorang yang punya kanker payudara dan ia membuat scrapbook yang berisi proses penyembuhan dirinya sampai ia kemudian sembuh. Ternyata, scrapbook itu memberi terapi sendiri bagi orang tersebut dalam menghadapi penyakitnya. 

 Selain album foto, berarti scrapbook bisa juga untuk dijadikan… mmm… semacam karya?
Oh, iya. Itu disebutnya art journaling. Awalnya penggiatnya adalah scrapbooker biasa kemudian mereka banyak melakukan eksplore cat dan dengan media yang lebih bervariasi. Jadi lebih nyeni karena hasilnya enggak sekadar seperti album foto.

Wawwwwww… agak-agak bingung mencari kata penutup… yang pasti mari mengendus scrap yang bergeletakan. Jangan dibuang, mungkin ada baiknya serpihan-serpihan tersebut disusun menjadi sebuah cerita. Wanna try?
http://beautymisc.blogspot.com/

Tertarik gabung di kelas Scrapbook? datang aja ke Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung setiap hari Sabtu, Pk. 10.00 - 12.00 Wib atau bisa telpon ke 022 4261548

3 komentar:

  1. aku selalu pengen bgt punya scrapbook. pengen sekali2 sekali2 bikin sendiri. tp kok ya ga pernah ada ide mau buat apa.. udah nyoba hasilnya selalu kacau hehehe... ada tips2nya ga sih gmn cara bikin scrapbook supaya oke?

    BalasHapus
  2. aku juga .. ingin membuat scrapbook, tapi konsep selalu macet di jalanan, karena aku gak tau harus sepanjang apa scrapbook-ku nantinya.. adakah saran untuk mengawali dan mengakhiri sebuah scrapbook?

    BalasHapus
  3. wahh pertanyaan yang menarik jan.. nanti aku tanyakan pada teman-teman di kelas scrapbook ya...

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails