Jumat, 31 Desember 2010

Newsflash Hehebretan “Hehendmedan” Tobucil

Dahulu, ketika pertama saya iseng main ke Tobucil, dalam bayangan saya tempat yang satu ini pastilah seperti gudang dengan tumpukan buku super mengerikan. Wihiww… oh Tuhan, jadulnya otak saya kala itu! Well, selain toko buku, Tobucil juga merupakan sarang per-handmade-an paling rock and roll yang pernah saya temui. Kecil tapi cukup menghibur, menggairahkan, seksi. Bahasa populernya? Sensual.

Tobucil dalam keseharian
Kegiatan handmade ini sebenarnya sudah menampakkan benihnya Tobucil masih berada Kiai Gede Utama. Mulai diseriusi? Ketika Tobucil pindah ke Aceh 56. Perubahan dan kebaruan berkonsep menjadi alasan awal. “Akhirnya diputuskan untuk menggunakan jalur kegiatan hobi dalam mewujudkan misi gerakan literasi yang didengungkan Tobucil. Jadi lebih menekankan kepada aktualisasi diri. Individu didorong untuk lebih berdaya mengembangkan ide yang dimilikinya. Biasanya tindakan yang dimulai dari passion itu justru akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Bahkan, dalam wacana global, handmade telah bergerak jauh dan menimbulkan kesadaran kritis serta lebih ideologis. Misalnya saja, ketika para crafter menolak eksploitasi pada dunia ketiga, mereka kemudian menolak untuk menggunakan produk-produk yang dibuat oleh corporate yang melakukan eksploitasi tersebut dan memilih untuk membuat produk-produk yang mereka butuhkan dengan kemampuan sendiri, ” jelas Tarlen di suatu sore pojok Tobucil.


Oke, kembali ke Tobucil. Apa saja, sih, kegiatan “hehenmedan” di Tobucil dan mengapa harus menggalakkan “hehenmedan”? Kalau bicara kegiatan sudah pasti banyak menumpuk gila-gilaan enjoy marenjoy pastinya. Mulai dari knitting (merajut), crochet (merenda), origami, sampai kelas-kelas seperti membuat tote bag sampai kelas crafty kid. Mengapa harus digalakkan? “Kalau saya lihat, ruang-ruang seperti ini masih cukup jarang di Bandung. Ya, jika dipetakan, permasalahannya sebenarnya kekurangpedean pada diri pelaku handmade di samping tempat yang memang jarang. Oleh karenanya, semenjak pindah ke Aceh 56, strategi yang dikembangkan oleh Tobucil adalah bagaimana caranya untuk menguatkan individu. Caranya dengan membuat kelas-kelas untuk belajar. Ketika mereka sudah mampu, mereka dapat mengajarkan orang lain di luar Tobucil. Jadi Tobucil sih bisa dibilang sebagai tempat penyemaian,” kali ini Tarlen dengan asoy geboy kembali bercerita.


Nah, buat tahun 2011, handmade di Tobucil sudah barang tentu akan kian menggelinjang seiring makin menggilanya antusiasme warga handmade setempat. Oww, harap dicatat pula info terpanas bahwa 2011 ini juga akan menjadi tahun ke-5 Tobucil menyelenggarakan event “Crafty Day”. Yap, pestanya para crafter, bukan pengrajin loh ya, tapi crafter. Bingung? Check this out, kalau dalam bahasa Tarlen, pengrajin adalah orang yang bekerja sesuai pesanan, sedang crafter adalah orang yang menggali potensi yang dimilikinya mulai dari ide dan konsep sampai menghasilkan sebuah karya dengan semangat fair trade alias menghargai karya craft yang dibuatnya sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan, sesuai dengan tetes keringat yang dimilikinya. Tidak seperti pengrajin atau seniman masa kini yang sebagian karyanya banyak digarap justru oleh para artisan.

Waduh, ini bahasannya jadi melebar bersayap, hoho. Yang pasti, untuk 2011, Tobucil akan kembali melakukan penguatan. Apalagi dengan adanya handmade corner di Tobucil semakin menegaskan bahwa Tobucil bukan sekadar toko buku, namun lebih jauh lagi, ia merupakan toko komunitas yang memertemukan banyak komunitas dan crafter di dalamnya. Rapatkan barisan, perkuat jaringan, mari ber-craft ria! Yep, sampai ketemu di 2011 dengan Tobucil dan hebretan handmade-nya kawan-kawan semua!
Google Twitter FaceBook

Jangan takut Matematika, Mari Merenda!

Beberapa tahun lampau, ketika saya masih begitu lugu dan lucu, salah satu aktivitas yang paling menyenangkan di tengah keasyikan menonton serial Ksatria Baja Hitam di layar kaca adalah mengganggu Ibunda yang tengah begitu tekun merenda-renda ria. Mata asyik menyantap Kotaro Minami, tapi mulut terus jahil mengomentari Ibu dan rendanya. Mulai dari komentar agar si jagoan Kotaro membuka kelas merenda untuk para monster jahat sampai pertanyaan perihal mengapa superhero tak menggunakan kostum renda.

Dian berasoy geboy dengan karyanya
Paragraf di atas adalah sekelumit cerita klasik yang menyenangkan untuk diingat. Cerita yang pernah terlupakan sampai kemudian perjalanan hidup memertemukan saya dengan pengajar renda alias crochet di Tobucil. Obrolan dengan Dian Rinjani pemilik brand Rinja-Rinja ini kemudian hadir di tengah romansa masa lalu meski minus Ksatria Baja Hitam.

Dari kapan, sih, kamu intens dengan crochet?
Waktu kuliah. Jadi Tugas akhir saya mengaplikasikan teknik crochet pada kebaya. Kenapa crochet? Karena belum ada yang membuat tugas akhir seperti itu di kampus saya, dan saya suka aja merenda. Jadi dulu awalnya bukan merenda, sih. Saya dulu membuat rajutan untuk hadiah. Waktu itu minta diajarin sama Moel (inget, kan? Sang pencipta Mogu di pameran Play Dead 2, hehe) bikin syal. Setelah itu, saya ingin membuat yang lain. Terjunlah kemudian jadi membuat renda dengan berguru pada pembantu di rumah. Selebihnya saya juga belajar sendiri dengan mencari-cari buku yang berhubungan dengan itu.


Kok bisa terdampar di Tobucil?
Jodoh kali, ya, hehe. Jadi dulu saya beli benang ke Tobucil karena murah. Terus ditawari untuk mengajar kelas merenda. Enggak langsung, sih. Beberapa bulan kemudian enggak sengaja ketemu Mbak Tarlen di pamerannya Moel. Akhirnya saya diminta datang ke Tobucil dan ya jadilah akhirnya mengajar.


Apa, sih, yang menarik dari crochet?
Kalau crochet, tuh, menurut Dian menciptakan pola sendirinya lebih gampang karena stiknya hanya satu jadi untuk bentuk tiga dimensi dia lebih gampang. Berbeda dengan knitting atau merajut. 


Menurut Dian, nih, rata-rata apa yang bikin orang pengen belajar merenda?
Hmm.. Apa, ya. Ya, kurang tahu juga, sih. Tapi mungkin karena merenda itu aplikasinya lebih kepada perabotan rumah. Makanya banyak ibu-ibu yang pengen belajar merenda. Contohnya, membuat taplak. Mungkin agak susah kalau membuat taplak dengan cara merajut, beda dengan merenda.

Lama enggak, sih, belajar merenda, tuh?
Kalau di kelas saya, 2-3 pertemuan biasanya sudah bisa dasar-dasarnya. Setidaknya bisa menggunakan teknik satu atau dua tusukan. Ya, minimal bisa bikin tas. Tas, kan, gampang, ya, karena tidak menggunakan motif-motif. Nah, kalau udah jago itu, ya, sudah bisa bikin baju. Pokoknya kalau sudah bisa bikin baju itu sudah punya skill deh.

Nah, nah. Kalau kita ingin belajar merenda apa yang sekiranya harus dipersiapkan?
Persiapkan keinginan yang kuat. Jangan setengah-setengah. Renda itu asyik. Lebih oldschool, loh. Soalnya dari jaman perjuangan pun sudah dikenal. Jangan takut pusing. Karena merenda itu cenderung lebih bebas. Enggak ada hitung-hitungannya kayak knitting. Jadi, buat yang nilai matematikanya kecil, belajarlah merenda. Kalau yang nilai matematikanya gede? Ya belajarlah merajut dan merenda, hehehe.


Oh, ya. Terahir, nih. Rencana-rencini Rinja-Rinja di 2011?
Pengennya, sih, jadi perusahaan, Ya, namanya juga cita-cita, hihihi. Yang pasti sih bikin produk yang banyak terus dimasukin ke toko-toko. Ya untuk sekarang, sih, rencananya mau buat produk-produk seperti tas, baju, perabot rumah tangga, dan juga perlengkapan bayi. Dian juga pengen ngelatih orang-orang di sekitar rumah untuk ngajarin orang-orang di sekitar rumah dan mengerjakannya bersama-sama.


Eits! Buat yang pengen belajar merenda jangan menyerbu rumah Dian, ya. Ini khusus tetangga! Ow ow... jangan pada depresi sampai guling-gulingan di aspal juga kali yang bukan tetangga Dian tapi berminat belajar merenda. Mending serbu Tobucil biar Dian kewalahan mengajari! Hehe. Yuk, ah, capcus ke Tobucil!
http://rinjarinja.blogspot.com/
 (Nunuw)
Google Twitter FaceBook

Jumat, 24 Desember 2010

Mantra Penggambar Bala dalam Profanity Prayer

Yihaaa… Tobucilhandmade edisi kali ini adalah edisi jalan-jalan. Yap, setelah main-main ke pameran Play Dead 2, sehari sesudahnya udara dingin Bandung Udara saya cumbui. Adalah pameran “Profanity Prayer” yang dengan asoy geboy mengetengahkan karya Banung Grahita di Selasar Sunaryo yang saya jumpai. 


Pada pameran tunggal pertamanya ini, Banung menyuguhkan karya-karya video animasinya sebagai medium untuk bercerita. Dingin dengan udara yang dibelenggu beku dan ditambah memaknai judul pameran Banung mengingatkan saya akan sebuah lagu Beck yang berjudul sama namun dengan tambahan “s” di belakangnya. Ow Yeah, saya terlalu gatal durjana untuk mengutip sedikit lirik lagu tersebut. Ah, segaris lirik ini memang sudah sepatutnya hadir kawan-kawan!

And you wait at the light
And watch for a sign that you're breathing
'Cause you can't choose to live on air and  float to the ceiling
(Beck-Profanity Prayers)


Banung dan Beck bisa jadi tak saling mengenal dan tidak pernah saling bercakap-cakap, tapi, mendengar Beck dan melihat karya video Banung memiliki kesamaan yang cukup konseptual. You can’t choose ratap Beck dalam lagunya, Banung menghadirkan gambaran ironi dalam kehidupan kontemporer. Watch for a sign derap Beck kian mengguntur, Banung menjelmakan gejala dalam tanda. And wait at the light, Banung bergumam mencari cahaya! Tak percaya? Tengok saya karya animasinya yang berjudul Cycle, misalnya. Dengan tersirat menggambarkan perjalanan hidup seseorang, terjatuh atau justru terbang dalam keberhasilan semu yang menjerumuskan dirinya dalam keseragaman melangkah. Sarkasme, nakal, black comedy. Setidaknya itu yang berhasil saya baca.


Menilik Banung,  saya merasa karya-karya yang ditampilkan dalam “Profanity Prayer” adalah cerita dalam nuansa ketenangan yang sedemikian kejam mengusik mimpi-mimpi indah manusia. Melawan awang-awang dengan menampilkan dunia antah berantah yang hanya ada di awang-awang adalah teguran paling sinis sekaligus cantik dari “Profanity Prayer”. Kehidupan bukanlah titian mengejar sesuatu, akan tetapi, kehidupan adalah jejaring yang kadung menjerat individu yang hadir di dalamnya. Menurut saya, Banung dengan cukup ciamik berhasil menampilkan sesuatu yang selama ini sudah dianggap menjadi kewajaran di tengah masyarakat dalam wajah yang sebenar-benarnya.


Melihat karya-karya Banung, pada akhirnya ada ketergugahan untuk melawan di satu sisi, sedang di sisi lain ketergugahan untuk tetap bertahan pada jalur-jalur mainstream yang telah ditetapkan oleh gelaran sosial kultural di tengah masyarakat. Hendak memilih yang mana? Bisa jadi itu adalah pertanyaan paling besar dari karya animasi Banung. Hidup adalah permasalahan keseragaman yang seolah beragam, dan “Profanity Prayer” adalah mantra paling agung sekaligus paling rasional dalam menggambarkan “bala” seragam dalam ragam pada kehidupan masa kini. Tampilan kejenuhan tingkat tinggi dalam gerakan sosial yang tumbuh di masyarakat. Huahhh…. Ouch, sudah hentikan. Lama-lama saya bisa terlalu berlagak bak seorang kurator. Cukup sampai di sini. Kini kegatalan saya merambah terlalu jauh. Membuat animasi sepertinya cukup menggairahkan. Ada yang mau mengajari saya, anyone?
Google Twitter FaceBook

Nyantai-nyantai Bareng Play Dead 2 “Leisure all Mine”

Jujur saja, jumat 17 Desember 2010 lalu sebuah perjalanan maha membingungkan saya tempuh hanya demi memuaskan rasa keingintahuan pada apa yang disebut dengan seni serat. Yes, Tuan dan Puan, Galeri Padi dan pameran seni serat Play Dead 2 “Leisure all Mine” adalah semacam candu asmara yang menjerat saya malam itu. 14 seniman dengan karya seni seratnya siap tayang merasuk memabukkan menggelitik mata.


Selama ini, wilayah serat sebagai seni memang belum sehip-hip hura seni-seni lainnya. Walhasil, seni serat kerap hanya menjadi tamu-tamu kecil pada beragam pameran dan masih dianggap sebatas gaya kontemporer dari seni kriya. Tapi malam itu, Galeri Padi seakan memberikan ruang-ruang agar seni serat memiliki rumahnya sendiri.



Karya-karya yang hadir menjadi semacam pertunjukan campur sari dengan tujuan yang sama, bermain-main dengan apa yang disebut seni serat. Ada karya Chandra berjudul “Benang Merah” yang mengetengahkan gambar dalam kanvas yang ditautkan dengan benang sutra berwarna merah, Moel menghadirkan susunan bola-bola rajut yang diberi judul “Eat, Play, Love”, Erika Ernawan yang menghadirkan karya print nan menyilaukan, sampai Nuri Fatima dan “cap ou pas cap!” yang menyuguhkan karya-karya seratnya dalam bentuk kanvas-kanvas mini. Tentu, itu hanya sebagian dari karya-karya serat yang dipamerkan, sedikit visual mengenai percampuran sari yang dimilikinya.



Bagi saya, sesuai dengan judulnya, Play Dead 2 adalah bermain-main dengan maut. Maut yang membius para kreatornya sehingga menjelmakan dirinya - I -  di dalam karyanya.  Jika dalam kurasinya disebut bahwa Play Dead 2 adalah “kontemplasi di waktu senggang”, saya haruslah bersepakat dengan itu. Seniman bukanlah pekerja seni yang berburu ide mengejar garap demi bayang-bayang waktu dan kolektor. Seni, dalam hal ini apa yang diwakili oleh Play Dead 2, berarti pula sebagai usaha melebur menjadi kesatuan bersama karya dengan sudut pandang yang cukup berbeda dengan karya-karya seni lainnya. Dalam kesenggangan yang santai, karya-karya hadir dengan pemaknaan yang sederhana, tidak terlalu jauh melanglang buana dalam larutan imajinasi seniman yang kerap terjebak dalam keliaran terlalu beraturan. Jika harus diibaratkan dalam bentuk kalimat sapaan, Play Dead 2 seolah menghadirkan negasi yang berujar “hey kawan, kalem saja, jangan serius-serius amat. Tapi kami serius, loh”.



Aih, buat yang baca tulisan ini, janganlah terlalu serius membaca. Saya pun membuat tulisan ini di saat senggang mendera dan tugas akhir yang menagih-nagih untuk diselesaikan. Hey, tapi tugas akhir saya berada dalam jalur yang mencerahkan, semoga. Seperti karya-karya seni serat Play Dead 2 yang sudah sedikit memberi pencerahan bagi saya plus bagi semua pelihat seni yang sekadar mampir dan membuat catatan-catatan di kepalanya di Galeri Padi hari itu. Sekali lagi, semoga.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 17 Desember 2010

Ketika Saya Dirajut Perajut

Namanya Palupi Sri Kinkin alias Upik alias Rogen. Juru rajut handal nan emosional namun ahli di bidang traktir-mentraktir ini dengan sukarela menjadi korban Tobucilhandmade edisi kali ini. Sebenar-benarnya benar, tulisan ini pada awalnya akan menumpahkan kehebohan pamerannya. Karena sang pameran urung, jadilah Upik sang perajut saya tulis dalam “kerajutannya” yang utuh –tanpa embel-embel atau apapun- sesuatu yang entah mengapa saya syukuri dengan takzim. 

Ayo tebak, yang manakah gerangan pemilik nama Upik?
 Kepuasan apa, sih, yang didapat Upik dari merajut?
Bermacam-macam kepuasan. Intinya adalah kepuasan saya berhitung dan menggunakan logika. Knitting itu lebih banyak menggunakan logika atau kemampuan menerjemahkan suatu bentuk dalam rajutan. Ya.. itu, sih, kepuasannya.

Bintang laut
 Memang awalnya kenal merajut dari mana?
Awalnya, ketika masa-masa SMA dan awal kuliah, saya nonton Snoopy dan membaca komik Garfield. Di film itu ada adegan Garfield tidak sengaja menyabut jok kursi yang terbuat dari rajutan sampai habis.  Nah, nah, si Garfield yang ketakutan itu berusaha memerbaiki kursi yang ia rusak dengan cara merajut ulang dengan menggunakan dua stick. Gara-gara itu saya jadi tertarik. Karena selama ini saya hanya tahu merenda yang menggunakan satu stick. Melihat Garfield, saya jadi penasaran ternyata ada, loh, merajut dengan dua stick. Lagian juga, kalau Garfield bisa, kenapa saya enggak bisa? hehehe. Ya, di Snoopy juga ada adegan rajut-merajut itu.

Coral
Pertama belajar merajut gimana, tuh, Pik?
Pertama belajar di kursusan Indotrio. Sekarang sudah tutup, sih, tempatnya. Jadi waktu pertama dulu saya belajar dengan menggunakan istilah-istilah Belanda. Itu yang membuat saya sulit untuk mengembangkan knitting lebih lanjut sampai kemudian saya mendapatkan konversi istilah Belanda ke istilah Inggris sehingga saya bisa sedikit mengeksplorasi beragam teknik rajutan.

Bermacam kupluk
 Kalau teknik yang umum digunakan dalam dunia merajut memang apa saja?
Sebenarnya ada banyak. Tapi teknik dasarnya ada beberapa. Seperti memelajari tusukan-tusukan dasar dan motif-motif dasar sederhana yang biasanya terdiri dari 3-5 tusukan. Untuk tingkatan berikutnya, sudah mulai menggunakan jenis tusukan dan motif yang lebih rumit, seperti motif kabel, lace knitting (motif rajutan yang berlubang), medallion knitting (proses awal merajut dimulai dari bentukan knitting yang kecil ke besar, biasanya dari tengah lalu melebar ke samping). Ya, masih banyak sih yang lainnya, sih. Ini hanya beberapa saja.

Bulu babi
Nah, kalau bagian sulit dari merajut itu apa, ya?
Membuat motif pola pada medallion knitting. Soalnya saya belum menemukan logika dalam membuat polanya, hahahaha.

Hihihi. Oh, ya. Menurut Upik, apa, sih, kesulitan terbesar yang umumnya dihadapi oleh para perajut pemula?
Antar keinginan dan realitas yang seringkali kurang sinkron. Hahaha. Jadi kadang para pemula itu semangatnya sangat besar. Pengen bikin sweater, tapi belum bisa apa-apa. Khusus untuk murid saya, mereka saya paksa untuk mengikuti kurikulum yang saya buat. Ketika mereka saya anggap mampu, baru saya perbolehkan untuk membuat sweater.

Sketsa on knit and purl
Kira-kira, efek psikologis apa yang bisa didapat dari hobi merajut?
Banyak orang yang nganggep kalau ngerajut itu mengesalkan dan membutuhkan tingkat kesabaran tinggi. Padahal, menurut saya, enggak sepenuhnya betul. Sebenarnya yang diperlukan itu, selain dari kesabaran dan ketelitian, adalah koordinasi antara daya motorik halus tangan dan logika pikirannya. Bagi para perajut justru hal tersebut akan membuat dirinya secara psikologis lebih rileks alias santai seperti di pantai nyiur melambai (naonnnn deui). Bahkan, ada seorang teman yang memanfaatkan knitting untuk terapi.

Diagonal drawstring
Kalau Upik sendiri, perubahan apa, sih, yang dirasakan sebelum menjadi perajut dan sekarang ketika sudah menjadi seorang juru rajut?
Saya bisa mengkordinasikan tangan kiri dan tangan kanan saya jauh lebih baik. Banyak orang, loh, yang tidak bisa mengkoordinasikan keduanya dengan seimbang.

Baju kalelawar
Hmm … kasih tahu, dong, Pik… keinginan kamu yang belum tercapai sebagai juru rajut apa, tuh…?
Nah, ituuuu… saya juga bingung, hahahaha. Ya, keinginan terbesar saya yang belum tercapai adalah menerbitkan buku rajut dengan cara merajut yang saya punya. Doain, yah, tahun depan bisa dikelarin, jadi bisa punya keinginan lainnya. Hehehe..

karya Upik dan kawan Moel dalam Out from The Deep Exhibition
Hohohoho, demi mendengar hal itu, saya pun dengan penuh keikhlasan berdoa untuk Upik. Nyok, ah, kita berdoa bareng-bareng… hehehe.. selamat merajut kawan-kawan.
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails