Jumat, 26 November 2010

Agus Bebeng, Fotografi Itu Tugas Kenabian!

Ini mungkin adalah hasil wawancara Tobucilhandmade yang paling berdarah-darah. Penuh perjuangan, heroik, plus melankolis! Menemui lelaki bernama Agus Bebeng bisa jadi satu perkara paling mudah sekaligus paling sulit dalam hidup. Oke, akan saya ceritakan sedikit kronologis pertemuan kami. Purnawarwan dan Braga adalah sesuatu yang tidak berjarak. Sialnya, perjalanan hari itu harus saya tempuh ketika sedang tidak membawa alat transportasi! Uah, bulatkan tekad satukan niat, bak petualang ala Indiana Jones selusuran jalan ditapaki. Awalnya menyenangkan, setidaknya untuk sepuluh detik sampai kemudian hujan mengguyur dengan sukacita! Hey, tapi saya sedang menjelma menjadi Indiana Jones! Tak ada kata mundur, maju terus meski harus dicintai hujan-hujan. Wastu Kencana terlewati, sedikit lagi Braga! Ah, mendadak ayunan kaki nan sexy terhenti! Shit! Buku bawaan saya tertinggal di Purnawarman! Hell yeah! Saya Indiana Jones! 

Bebeng dalam gaya maksimal
Sudah. Hentikan cerita Indiana Jones sampai di sini. Di salah satu ruangan Jalu Braga akhirnya saya berhasil menemui sang wartawan foto tersebut. Segelas kopi dan bergaris asap rokok memendar, melarut dalam percakapan kami.

Fotografi itu apa, sih?
Fotografi bagi saya adalah ideologi. Ini ngomongin fotografi jurnalistik, ya. Sederhananya, ketika sedang melakukan tugas jurnalistik adalah melakukan tugas peliputan yang terkait dengan realitas sosial. Lalu kenapa jadi ngomongin ideologi? Karena itu terkait dengan personal saya.

Ciecie… cuih! Sok idealis, Hahaha
Eh… ieu ideologis, hahaha.

Hahaha. Yak, lanjuttttt…
Ya, karena bagi saya ketika menjalani proses jurnalistik, siapapun fotografernya, ia sedang menjalani proses kenabian. Seorang nabi tugasnya adalah menyampaikan pesan. Seorang nabi adalah pewarta. Jadi, ketika kita memanipulasi pesan dalam foto, maka kita sudah menghadirkan ayat-ayat palsu.


Ini nabi pake dibawa-bawa. Hahaha. Nah, klo bahasa sederhananya?
Jadi gimana caranya menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan cara yang sederhana. Itulah fungsinya foto jurnalistik.

Gimana, sih, menghasilkan frame yang “enak” dalam menyampaikan peristiwa?
Ya, bergantung dari sudut pandangnya dulu. Ketika kita hendak mengeksekusi realitas, sudut pandang apa yang sebenarnya ingin diambil. Misalnya, ketika saya ingin mengambil foto Pasar Ciroyom, saya tidak menggunakan flash, karena jika memotret suasana pasar subuh dengan flash, suasananya akan menjadi rata. Tidak ada garis-garis imajiner yang hadir dalam kilatan-kilatan jalanan dan sebagainya. Nah, sudut pandang itu dan teknik pengambilan, kan, menentukan. Pada akhirnya, “si frame” ini punya makna filosofis  atau tidak? Kan itu masalahnya.


Menurut Bebeng, masuknya foto ke dalam ranah karya itu foto yang seperti apa?
Orientasi. Jika saya memotret orientasinya untuk mendapat uang, pasti secara sensorik akan terganggu. Foto kemudian hadir hanya untuk kepentingan sesaat, yang penting jadi dan tidak masuk dalam wilayah kekaryaan. Contohnya misalnya ketika memfoto bencana. Kita harusnya berpikir bahwa korban ini harus ditolong, bukan semata-mata ingin mengeksploitasi bencana. Dengan foto kita menyampaikan pesan bahwa ada pesan humanitas yang harus dibangun. Okelah jika ingin komersil, tapi jangan sampai memotret itu karena tren.


Fotografer di Bandung saat ini dalam kacamata kamu?
Mengerikan, euy. Karena pada akhirnya banyak fotografer yang ada tidak memahami konsepsi fotografi. Jika saya lihat hasilnya, saya bertanya, ini kemampuan memotret atau kemampuan olah digital? Apakah dia seorang fotografer atau “photoshoper”? Era digital ini memang menciptakan beribu fotografer dadakan. Mereka tidak pernah mengalami dan belajar fase analog atau manual. Padahal, dengan memelajari analog, kita belajar bagaimana ekonomisasi gambar dibangun dengan 36 frame.

   
Nah, kalau pengajaran fotografi di kalangan akademis, di kampus-kampus saat ini gimana?
Ngaco. Kebanyakan hanya teorisasi. Prakteknya banyak anak muda yang stres karena tidak memahami kondisi di lapangan. Dosen-dosennya pun kebanyakan hanya dosen teori yang tidak pernah berada di lapangan. Mereka hanya diajari pemahaman apa itu fotografi. Pada akhirnya, ketika di lapangan, mereka kebingungan. Di suruh memfoto pertandingan sepakbola, misalnya. Semua pada bingung bagaimana cara mengambil gambar sedemikian banyak orang dan semuanya berlari. Kan, lucu jadinya.


Jadi pengajaran fotografi harusnya seperti apa?
Kalau saya memberikan workshop, biasanya yang pertama saya lakukan adalah membuat mereka tertarik pada fotografi karena proses ketertarikan itu bisa menggiring orang yang pada awalnya tidak berpikir. Artinya, bukan berarti kita harus kembali ke era analog di jaman serba digital ini. Tapi, bagaimana proses analog itu dihadirkan ke kamera digital. menggunakan tombol-tombol manual.


Harapan kamu di masa nanti?
Ya, kliselah. Semoga banyak lahir fotografer handal. Jaman selalu menciptakan nabinya sendiri, hahahaha.


Ups, jangan tertawa terlalu lama… Malam sudah menjelang. Bebeng pun mulai mengelinjang. Bersiap-siap untuk menemui peristiwa keseharian lainnya. Yap, saatnya berpisah! Seorang Bebeng harus menemui realitas, saya mau menemui imajinasi! Rental PS, saya datang!!!! Buat kawan-kawan? selamat menikmati foto-foto bebeng dan menyelami makna fotografi...
Google Twitter FaceBook

Sentra Rajut Binongjati, Merajut Semangat Usaha Kecil


Sebuah gapura besar bertuliskan Sentra Rajutan Binongjati seolah menyambut kedatangan saya hari itu. Geliat usaha kecil dan menengah di Bandung sepertinya terus menyala. Tak hanya sentra sepatu Cibaduyut yang melibatkan ratusan perajin sepatu dan sandal kulit, sentra usaha rajut Binong Jati pun tetap menjadi salah satu andalan Kota Bandung. Sebagai kota mode dan fesyen, Bandung memang memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan industri pakaian. Salah satunya adalah pakaian yang diproduksi para perajin usaha kecil dan menengah (UKM) di sentra industri rajut Binongjati Bandung. Mungkin tak banyak yang mengetahui bahwa Binongjati adalah nirwana bagi para pencari baju rajut berkualitas dan berharga murah. Meski telah menjadi salah satu wilayah yang masuk ke dalam revitalisasi lima sentra industri di Kota Bandung, gaungnya masih kalah dibandingkan dengan toko-toko baju modern yang tersebar di seluruh pelosok Bandung.


Seiring langkahan kaki, rajutan-rajutan nan indah seakan  menjadi teman perjalanan saat itu. Penyusunan tempat yang kurang representatif dan tidak terlalu memerhatikan kenyamanan para pengunjung sepertinya menjadi sebuah alasan mengapa tempat ini tak begitu populer di tengah masyarakat. Walaupun demikian, sentra rajutan ini kini lambat laun mulai dikunjungi oleh wisatawan, apalagi pada saat liburan akhir pekan. Jarak dan aksesnya yang tak terlalu sulit untuk dicapai ditengarai menjadi penyebab ia mulai kembali dikunjungi. Ya, Binongjati memang hanya berjarak 3 kilometer dari pusat kota, hanya 15 menit perjalanan dari pintu tol Buah Batu.


 Menurut tuturan seorang perajin yang saya jumpai hari itu, Cikal bakal industri rajutan Binongjati muncul pada 1965. Sebelumnya, penduduk Binongjati banyak yang menjadi buruh di pabrik-pabrik rajutan yang ada di kota Bandung. Namun, dengan meningkatnya permintaan rajutan, para majikan meminta agar para buruh mengerjakan rajutan di rumah. Mereka dibekali mesin rajut dan wajib menyetorkan produksinya sesuai dengan permintaan majikan. Tingginya permintaan membuat sejumlah buruh bisa menabung sehingga mampu membeli mesin sendiri. Sambil mengerjakan pesanan majikan, mereka juga mengajar beberapa orang di Binongjati membuat baju rajutan.


 “Dahulu ia sempat jaya. Ia menjadi salah satu tempat industri rajut yang terbesar di Kota Bandung. seiring dengan meredupnya industri tekstil dan produk tekstil di Kabupaten Bandung, bisnis rajutan berbahan utama benang ini pun terkena imbas. Di samping itu, sejak tahun 2006 bisnis di sentra itu meredup akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Oktober 2005. Kenaikan itu mengakibatkan tingginya harga bahan baku benang. Diperkirakan sekitar 40 persen dari 400 perajin di kawasan ini tidak mampu meneruskan bisnis rajutannya akibat kenaikan harga BBM,” ungkapnya kepada saya, “beruntung pemerintah memasukkan Binongjati sebagai salah satu titik revitalisasi industri Bandung. Akses kini jadi lebih mudah, ya, setidaknya dari sisi infrastruktur, Binongjati telah mengalami perkembangan yang cukup berarti,” tambah sang pedagang tersebut dengan nada optimis.


 Saat ini, 4 ribu lusin produk bisa dihasilkan setiap harinya, mulai dari blus, jaket, sweater, cardigan, sampai produk terbaru yaitu kerudung. Dengan kuantitas produksi yang sedemikian banyak, omzet yang bisa dihasilkan pun bisa mencapai Rp 700 juta-Rp 1 miliar per harinya. Umumnya pedagang Binongjati menjual hasil produksinya dalam skala lusinan, namun jangan terlalu khawatir, beberapa pedagang kini telah mulai membuka toko-toko yang melayani para pembeli satuan. Kisaran harga yang ditawarkannya pun akan menggoda siapapun untuk berbelanja. 


Satu hal lagi yang cukup menarik mata saya hari itu sebenarnya tak hanya sekadar baju-baju rajutan yang terdapat di sini. Binongjati menawarkan nuansa lain, tak hanya nuansa berbelanja, di sini para pengunjung pun dapat secara langsung melihat proses pembuatan rajutan. Bagaimana tangan-tangan ahli tersebut bergerak lincah memainkan mesin di hadapannya untuk menghasilkan baju rajutan menawan. Satu hari seolah tak cukup bagi saya untuk bermesraan dengan Binongjati. Ah, tapi setidaknya saya berjanji satu hal, akan ada hari lain dimana saya akan kembali mengunjungi. Mungkin Anda mau menemani saya berpelesir ke Binongjati? Saya akan dengan senang hati menerima ajakan tersebut.

Google Twitter FaceBook

Jumat, 19 November 2010

Kota Bunga Cihideung, Romantis Itu Gatal!

Sore hari dan tancap gas pol ke Lembang! Aih, tolong jangan bercuriga saya tengah menculik anak gadis seseorang dan mencari aura-aura kemesuman di lembut dinginnya udara Lembang. Ah, sekali-kali ada baiknya berbicara agak serius, siapa tahu ada anggota dewan yang membaca tulisan ini dan terpesona dengan “ke-sok seriusan” saya. Siapa tahu, ini siapa tahu, lho, Karena “ke-sok-an” itu saya ditawari jadi staf ahli. Hahaha, amboi, pasti nikmat rasanya memeras rupiah-rupiah mereka. Baiklah, mari kita mulai ceritanya… Bercerita dengan gaya “sok serius” dimulai, hehehe…

Jajaran bunga di pinggir jalan itu terlihat begitu penuh sesak namun menyejukkan mata. Udara sekitar yang sejuk pun kian terasa sejuk demi melihat warna-warni yang begitu menentramkan hati. Mungkin itu adalah hal pertama yang terlintas ketika mengunjungi Kota Bunga Cihideung yang terletak di Kecamatan Parongpong, Lembang ini. Dahulu, Cihideung hanyalah merupakan tempat bercocok tanam ala kadarnya saja, namun, beberapa tahun belakangan ini, Cihideung mulai bersolek. Ia kemudian diresmikan pada tahun 1997 dan menjadi tempat wisata bunga yang begitu digemari pecinta tanaman, julukan Kota Bunga pun akhirnya melekat pada tempat yang satu ini.


Tentu saja, sebutan “kota” tersebut bukanlah hanya sekadar pemanis nama belaka. Bagaimana tidak disebut kota jika sepanjang jalan wilayah Cihideung kita akan disuguhi hamparan kios-kios bunga yang dimiliki oleh warga sekitar. Dengan luas wilayah wisata 50 hektar, pantas saja rasanya jika Cihideung kemudian disebut kota bunga. sepanjang desa ini terlihat berbagai tanaman bunga yang dikembangbiakkan. Berbagai jenis tanaman bunga bisa kita temui di desa Cihideung ini, dari tanaman hias hingga tanaman potong. Tanaman hias biasanya adalah tanaman yang digunakan untuk memperindah taman, dan tanaman potong biasanya adalah tanaman yang diperlukan untuk keperluan dekorasi. Di desa Cihideung ini lebih dari 80 persen warganya menjadi petani bunga. Memang, bunga bagi penduduk Desa Cihideung Lembang telah menjadi nafas kehidupan dan dari kembang-kembang cantik inilah mereka mencari nafkah. Kawasan ini pun kini telah begitu terkenal sebagai pemasok bibit tanaman hias di Nusantara. Setidaknya, seminggu dua kali truk-truk besar datang mengambil bibit-bibit tanaman, untuk dipasarkan ke berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, bahkan hingga ke pulau Sumatera.


”Ya, sebagian dari kami memang berusaha dari nol sampai menjadi seperti sekarang,” kecap Agus Ridwan, salah seorang perajin bunga yang menjadi peneman saya sore itu. ”Ini asli kami yang merawat dan membuatnya sedemikian rupa sehingga menjadi bunga-bunga cantik,” lanjutnya sejurus kemudian.

Terletak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Bandung, Kota Bunga Cihideung adalah sebuah tempat wisata persinggahan yang wajib dikunjungi oleh kelompok penyayang tanaman. Tempatnya pun tak sulit untuk dicari. Carilah jalan bernama Sersan Badjuri yang tepat terletak di seberang terminal Ledeng dan di sanalah Cihideung berada. Uniknya Cihideung, ia tidak memiliki fasilitas wisata sebagaimana umumnya tempat-tempat wisata lainnya. Untuk bisa berkeliling di area kebun bunga ini kita hanya tinggal memarkirkan kendaraan di pinggir–pinggir jalan di sepanjang desa Cihideung. Setelah itu, kita dapat dengan bebas menelusuri kios demi kios yang tersebar di seluruh desa.


”Pengunjung yang datang berasal dari berbagai kota, sebagian dari mereka adalah perajin bunga di wilayahnya masing-masing, sedang sebagian lainnya adalah pecinta bunga yang memang mencari bunga untuk ditanam di rumahnya masing-masing,” kali ini perajin lainnya bernama Ahmad Sumitra ikut bersuara. Lelaki yang semenjak 10 tahun silam melakoni usahanya ini lalu bertutur pula bahwa selain tanaman bunga, terdapat pula berbagai jenis bibit buah-buahan seperti mangga, jeruk, pepaya, sawo, dan berbagai jenis bibit buah-buahan lainnya. Bibit buah-buahan ini biasanya diburu oleh orang-orang yang hobi berkebun atau orang–orang yang hanya ingin menambah koleksi tanaman buah-buahan di tamannya.


Ehem, Cihideung memang beraura romantis dengan bunga-bunganya. Ini serius, lho. Sangat serius!  Saking romantisnya, ”ngiung-ngiung” nyamuk jelang maghrib pun seperti mendapat berkah dengan kedatangan saya. Uh, sebaiknya saya bergerak pulang! Karena romantisme jelang maghrib bersama bunga-bunga menghasilkan kegatalan! Nah, sekarang giliran kalian berkunjung ke Cihideung!
Google Twitter FaceBook

Aksi Koboi Johnny Zebra


Saya mohon, jangan salah sangka dengan judul di atas. Sekali lagi saya mohon. Tulisan ini bukan hendak bercerita mengenai kuda zebra bernama Johnny! Yeah, Tuan dan Puan, ini adalah tulisan mengenai Johnny Zebra, sebuah label independen maha dahsyat yang lahir dari tangan seorang desainer (merasa) kondang seentaro Indonesia berjuluk Permata Yudha.  Mengapa aksi koboi? Keliaran tuturnya seperti laso yang membelit! Produk-produknya bak desingan peluru Lucky Luke! Gosh.. just read it guys!


Pertanyaan basa-basi dulu, ya. Johnny Zebra sebenarnya produknya apa, sih?
Johny Zebra itu brand, sih. Sejauh ini kita dah buat t-shirt, sepatu, dan baju untuk cowok dan cewek. Soon, kita juga akan buat barang-barang lainnya.


Abstraksi Johnny Zebra versi kamu?
Johnny zebra itu anak hilang. Dia sangat nakal. Dari anak nakal seperti Johnny Ramones atau Johnny Knoxvile, penjahat bak  Johnny Indo, Atauuuuuu…. mungkin sahabat nakal semua orang kayak "Johnny Walker" (ups…) . Jadi, buat saya Johnny itu nama yg akrab. Bisa jadi teman, bisa jadi musuh, bisa jadi bukan siapa-siapa,


Kalau abstraksi Johnny Zebra versi rebel?
Dia enggak punya pendirian, kadang suka musik keras kadang dengerin musik melayu. Kadang nonton berita politik, kadang nonton gosip dan sinetron. Intinya, saya ingin menghadirkan Johnny zebra hadir di sekitaran kita. Johnny zebra itu pandangan, visi saya terhadap terhadap lingkungan kita.

Kenapa milih nama itu?
Iya, karena saya enggak mau buat sesuatu yg ga akrab dengan kita. Buat apa?

Atas nama pasar juga intiny itu nama dipilih, ya?
Itu pujian atau hinaan? Hahaha… sebenernya nama dipilih bukan atas pasar, tapi berdasarkan doa dan harapan. “Johnny” itu, kan, punya makna famous, akrab, ce-es. Nah, kalau “Zebra”, menurut Wikipedia, nih,  artinya wild. Jadi Simplenya, nama itu dipilih karena famous and wild.

Oalah, boleh juga tuh jawabannya, hehe. Nah, konsep produk-produk kamu gimana, tuh, kalau disambungin dengan makna famous and wild?
Konsepnya, kita selalu desain sesuatu yg kita suka aja... having fun. Enggak ada misi apa-apa selain menyampaikan ekspresi pribadi aja. Most influence-nya dari musik.

Ceritain, dong, awal mulanya kamu membuat Johnny Zebra sampai jadi seperti sekarang.
Awalnya karena iseng aja.. Bosen ngedesain untuk corporate. Saya  pengen punya sesuatu yg “gue” banget. Jadi satu-satunya cara yang memungkinkan  ya dengan membuat brand. Awalnya dulu masuk ke pasar Bali, lama-lama masuk Jakarta, dan akhirnya jualan online untuk pembeli yang di luar negeri. Tapi bukan ekspor. Beberapa orang luar yang suka memang memesan khusus. Ada yang dikirim ke Belanda, Rusia, dan Aussie. Ada juga loh brand Lily Zebra yang khusus untuk cewek. Kalau yang ini, sih, digarapnya ama my girl friend. Ya, rencananya sih nanti Lily Zebra bakal melebur ke Johnny Zebra.


Mantap! ah iya. Tentang dunia desain kamu.  Latar belakang kamu, kan, bukan dari sekolah desain atau seni rupa. Kok tiba-tiba nyemplung ke dunia desain, dan denger-denger kamu juga  berprofesi sebagai desainer.
Awalnya sih suka aja dengan “desain”.  Keren dan penasaran gimana cara buatnya. Abis itu otodidak aja belajar segala sesuatunya.  Jujur , saya enggak bisa untuk sket tangan, gambar gua lebih parah dr anak TK kaleee,  hehehe. Tapi some how, gue  (jadi gue-gue-an nih, wikikikik) nemuin cara untuk mewujudkan ide yg ada di kepala begitu berkenalan dengan photoshop dan ilustrator. Panjanglah perjuangannya. dulu pas baru seneng ama desain, gue enggak punya komputer. Akhirnya nyolong-nyolong waktu minjem komputer temenSatu kata yg selalu jadi penyemangat gue adalah kata-kata dari tutor gue di Aussie, namanya Steve Gorrow. Dia kiblat gue banget. Doi selalu bilang desain itu bukan tentang skill. desain itu tentang taste. all you need is a good taste and have some fun with it.

Kamu pernah jadi desainer di Bandung, Bali, dan Jakarta. Menurut kamu desainer muda di Indonesia gimana, sih?
Kerenn! Indonesia banyak banget desainer keren. Gue seneng banget industri kreatif Indonesia maju. Bahkan, banyak yg jadi desainer untuk brand luar juga, kerenlah pokoknya. Sayangnya, pemerintah kita lebih asik ngurusin salaman Tifatul atau Gayus kabur. They just don't relize how creative things can change people, contohnya gue, hahaha narsisssss.
Eh, katanya kamu pernah ngerap? Pernah punya band yang agak-agak ngetop juga, ya? Ceritain sedikit, dong…
Nah, itu salah lagi. Gue enggak banyak bisa, tapi banyak maunya! Hahaha. Selain bercita-cita jadi desainer kondang, gue pengen jadi rockstar juga. Berhubung enggak bisa main alat musik apa lagi nyanyi, akhirnya genre rap lah yang gue pilih. Genre itu enggak populer dan mau enggak mau gue satu-satunya orang yang mainin musik itu :p. Tapi sekarang gue pengen serius mainn musik, sih. Bareng sobat gue. Rencananya gue mau bikin band post psychadelic ma dia. Nama proyeknya Southern Vanguard. Watch your back we'll steal your love!

Pssst! Udah, ah. Lu mah make d woro-woro lagi, Da. Ntar ketahuan belangnya kita. Hahaha. Cukup dengan kenarsisan desainer yang satu ini. Ouch Hati-hati dengan Johnny Zebra, gigitannya berbisa, nagih ibarat LSD! Selamat menikmati!!!
Google Twitter FaceBook

Knitting Pattern: Hole

Pola gratis dari By Hand Kinkin untuk para rajuters

Knitting 101, rubrik khusus untuk mengetahui apapun tentang merajut. Persembahan Klab merajut tobucil & klabs dan Dydy, pendiri milis mari_merajut, Perpustakaan Art & Craft Tobucil & Klabs dan merajut.com.
Google Twitter FaceBook

Selai Organik Resep Oma Anna

Selai Stroberi Oma Anna dibuat dari buah stroberi organik dengan campuran kayumanis dan dimasak selama 6-7 jam. Selain itu untuk menambah kelezatan rasa selai ini, saya memilih untuk memakai hanya bahan-bahan alami seperti gula tebu, pectin dari sari buah apel, perasan air jeruk lemon dan tidak memakai pengawet dan pewarna makanan. 

Tekstur selai ini juga kaya dengan bongkahan kecil buah stroberi yang masih dapat dirasa oleh lidah, tidak terlalu padat seperti selai biasanya, sehingga bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti roti, pancake, crepe, waffel maupun topping es krim, sorbet maupun yogurt.

Tersedia dengan harga:
IDR 35.000/botol/200 ml
IDR 100.000/botol/750 ml
Dapat dibeli di Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung atau online shopnya di sini http://omaanna.multiply.com/
 
 
Catatan: 
Selai harus disimpan di dalam kulkas dan bertahan 1.5 bulan dari tanggal produksi.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 12 November 2010

Berwacana Kawas “Nu Heu’euh”

“Ini adalah cerita tentang sebuah kongsi dagang mikro yang rentan mengalami kecelakaan dalam setiap konsep produksinya. Ide namanya saja merupakan sebuah kecelakan yang bermula dari percakapan kecil dua orang mahasiswa tingkat akhir yg tengah dirundung krisis kuartal hidup pada akhir tahun 2009, dari percakapan tak jelas itu keluarlah kata umpatan dalam bahasa sunda  “kawas nu heu’euh wee..” , bila diartikan dalam bahasa Indonesia umpatan itu mengandung arti “kayak yg bener  aja lah…” dan kental dengan konotasi sindiran akan sebuah keseriusan dalam berbagai konteks”

Di balik layar Kaos Nu Heu'euh
 Oh yes, oh no. Yeah,wawancara singkat dengan penuh filosofis ini adalah sebuah wawancara yang tertunda sebenarnya. Berminggu-minggu lalu, janji-janji palsu tercipta dan menghasilkan pertemuan-pertemuan semu yang memabukkan hingga akhirnya sebuah malam kami habret sejenak. Bersama pemilik ide dan pembuat kaos dengan brand “Nu heu’euh”, obrolan-obrolan liar ini kami mulai dalam remangnya malam dan canggihnya teknologi bernama internet.


Siapa sebenarnya kalian dan kaos seperti apa, sih, sebenarnya yang kalian buat?
Kaos Nu Heu’euh awalnya diawaki oleh  dua orang mahasiswa  Jurnalistik fikom Unpad. Setiap konsep dalam berbagai produksinya dikerjakan oleh Sahrul yang kemudian di diskusikan bersama dengan awak lainnya. Namun perlahan mulai pertengan bulan September kaos nu heu’euh mulai membuat proyek proyek “part side season” yang kemudian diawaki oleh dua orang baru. Kalo untuk kaosnya sendiri kaos yg kita buat biasanya bertemakan tentang sebuah isu. Isu-isu yang diangkat pun mulai beragam. Namun secara garis besar semua konsep yang akan ditawarkan adalah berbicara tentang hal-hal penting tapi terdengar mikro di pasaran..Hal yang dilupakan orang dan berbicara tentang sindiran akan kemunafikan.

Desain-desain kaos kalian terlihat nyeleneh. Sebenarnya ide awalnya seperti apa? Perenungannya seperti apa?
Desainnya mah kebanyakan spontan, kecelakaan. Jadi awalnya dari hereuyan (bercanda-red) barudak kalo lagi nongkrong di kosan, atau di kampus. Ide munculnya justru kalau lagi galau atau curhat masalah jodoh dan akademis. Hehehe… Ya, gitu. Dari obrolan santai dengan kawan-kawan  biasanya muncul jargon-jargon hereuy yang kami pikir lucu untuk diangkat di kaos.

Edisi Sampul Buku
 Salah satu kaos karya kalian yang pernah saya lihat melakukan distorsi terhadap ikon Bobo. Lalu ada juga mengambil ikon Tintin. Kesemuanya adalah sesuatu yang hip di dekade 90-an. Kenapa harus mengangkat “romantisme? Gelisah terhadap apa, sih?
Karena romantisme itu cukup mengena di hati setiap orang dan tanpa di sadari di hal terkecil dalam sampul itu ada narasi yg lambat laun menjadi sebuah mitos. Kalau kami ngeliatnya sih masalah yang kami hadapi sebenarnya masalah standar yang juga pasti dihadapi oleh orang2 sebaya kami. Kerennya mah ”twenty something life crisis”. tapi kami mencoba untuk tidak terlalu meratapi nasib. Ya, dibawa santai aja dan kaos menurut kami media yang asik buat menyantaikan kegalauan kami. Kalau dituangkan ke dalam bentuk lisan mungkin jadi seperti ini “anjir bodor juga menyatakan diri sedang galau lewat kaos. biar orang2 pada tau”.

Edisi Tintin Jurnal-Jurnil
Kenapa harus romantisme? Kenapa enggak futuristik skalian? atau jangan-jangan punggawa kaos Nu Heu’euh masuk dalam golongan pesimistis?
kesannya memang seperti itu sih…  Mungkin karena atmosfir kami memang sedang suram, jadi yang timbul malah pesmisitis, tapi dari pesimistis timbul harapan.


 Harapan seperti apa, tuh? Kalau dikaitkan dengan kaos kalian gimana?
Harapan kami itu disalurkan dalam bentuk sindiran. Misalnya kayak edisi kemaren, sampul buku “sukses bagi si rajin”. ibaratnya mah kami nyindir dan sinis kepada diri sendiri dan mudah2an dengan begitu kami jadi termotivasi.


Terakhir, nih. Kalau ke orang lain gimana? Kalian ada target-target tertentu atau “ah, terserah orang aja menafsirkannya”.
untuk orang lain juga sama, tapi dengan jargon atau istilah yang kami angkat, diharapkan orang bisa melihat sisi komedi dari situ. Ya, lebih ke satir kali, ya? Mudah-mudahan orang bisa menciptakan ruang kontemplasi di dirinya. contoh, edisi sukses bagi si rajin yang sampul buku. Secara gamblang mah orang bakal nerjemahin "oh,ya. Saya bakal sukses kalau saya rajin tapi jaman sekarang, ngejamin gitu rajin doang? jadi secara terselubung emang ada muatan-muatan tertentu, tapi urusan interpretasi orang sih bebas-bebas saja.

Sebenarnya saya masih ingin bercakap-cakap dengan para pemuda genit penuh inovasi ini. Uh, tapi malam terlalu galau sekaligus terlalu memilukan plus internet yang seperti hidup segan mati tak mau. Well, apapun itu, yang pasti, selamat menikmati Kaos “Nu Heu’euh”!
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails