10.12.10

Memahami Kolase Menggagas Dekontruksi

Terus terang, akhir-akhir ini saya sedang sedikit melankolis. Potongan-potongan hidup tengah begitu sendu membius mengalahkan roman-roman serial Korea. Hidup memang seperti kolase. Berburu potongan-potongan, menyajikan kedalaman yang meminta untuk dijadikan satu ruh yang utuh. Sore yang membunuh, gerap ritmis yang gagap menggarap derap. Ini kali, seniman kolase menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada saya mengenai potongan, tentang bagaimana bersahabat dengan potongan. 

dan Billy Anjing pun Mengolase diri sendiri
 Namanya Billy. Maaf, jika kamu berpikir kepanjangannya adalah Billy The Kid, kamu salah besar. Billy yang satu ini punya panggilan lengkap Billy Anjing. Entah galak entah jinak, tapi karya-karya kolasenya memang “anjing” bagi saya. “Anjing” yang khas keluar dari mulut remaja tanggung seperti saya (ah, ngaku-ngaku ABG) ketika meracap kagum. Dari karya kolasenya, gerilya pameran dijalani. Mulai dari Ruang Rupa sampai melanglang buana ke negeri Mr. Bean. Kawan-kawan, ini adalah obrolan ringan mengenai kolase. Sebuah obrolan di sejuknya udara Lembang. Potongan-potongan percakapan yang saya utuhkan menjadi catatan pendek. Catatan yang digempur berita sedih tentang kepergian Norvan Super Kondom. Selamat jalan kawan Norvan. Semoga pencarianmu tuntas di alam sana. Kamu pernah membuat potongan-potongan hidup yang menakjubkan. Ya, kamu Norvan! Hupp.. buat kawan-kawan, selamat membaca.

Mail Me Art
Kenapa, sih, kamu memilih kolase dalam ladang untuk berekspresi? (yeah, akhirnya saya tertawa demi mengeluarkan gelinjang kata ladang ekspresi, hahaha).
Lebih gampang. Hehe. Modalnya cuma gunting dan lem dan semangat mencuri kertasnya. Ya, saya kurang bagus kalau mengekspresikannya dalam bentuk lain seperti drawing atau painting. Tidak sehebat orang lain. Jadi saya memilih untuk merombak karya orang lain menjadi karya baru. Rasanya lebih enak.

Off The Bowl
Memangnya sejak kapan berkolase ria?
Dari SMA. Sukanya dari dulu, dari SD. Kan diajarin dulu menggunting dan menempel. Cuma jadi keterusan. Awalnya iseng, belum tahu ada istilah kolase. Nah, waktu SMA, ketika mulai kenal punk, banyak melihat cover album punk yang menggunakan kolase. Dari sana, saya jadi tahu esensinya. Sebenarnya, kolase sekarang juga sudah berkembang dalam bentuk digital dengan teknik cut and paste. Saya membuat juga kolase digital tapi enggak terlalu fokus. Mmm.. ya karena menurut saya esensi kolasenya enggak dapet. Rasa gunting dan lem di tangannya yang tidak ditemukan pada kolase digital.

Enough Movies
Teknik membuat kolase itu seperti apa aja, sih?
Ya, tekniknya ada banyak, sih. Kalau yang umum itu ada yang namanya teknik kliping. Jadi mengumpulkan gambar sebanyak-banyaknya tanpa harus memikirkan hendak membuat apa. Ketika ada ide dan pengen berkarya barulah stock gambar yang udah dikumpulin dikeluarin. Kebanyakan, sih, kliping. Lalu ada juga yang tematik. Jadi ini menemukan ide dulu baru berburu gambar. Ada juga teknik repetitif. Jadi ada dua bentuk yang sama di dalam satu karya kolase dengan cara. Misalnya, memfoto kopi dulu sebuah gambar, terus gambar itu di tempelkan dalam satu karya.

Ballroom Dancing
Pas kamu memotong-motong itu, biasanya menemukan idenya sedari awal sebelum menempel atau justru main potong-potong aja tanpa memikirkan hendak mengangkat sebuah tema?
Kadang kalau memang tujuannya tematik, ya, idenya harus ada dari awal. Kalau saya kebanyakan tematik. Berpikir temanya, kemudian buat, dan kasih judul. Ya, kan kalau tematik penyampaiannya lebih kuat. Tapi dalam proses mah bisa aja dibalikin juga. Bikin judul dulu baru digarap. Kan seniman ada juga yang pinter bercuap-cuap. Hihihi. Bikin dulu karyanya, tempel-tempel. Baru nanti kepikiran pembenarannya bagaiamana dalam karya tersebut. Saya pun kadang-kadang seperti itu.  Ya, bagi saya proses itu bisa dalam bentuk apa saja. Yang penting berproses.

Jangan Pake Esia
Apa sih serunya kolase?
Tantangan di kolase itu kan sebenarnya menciptakan objek yang baru dari objek yang sudah ada. Bukan dari nol.  Ya itu serunya.

Dream World Resize
Kolase berarti dekontruksi? Atau justru rekontruksi?
Bisa jadi dekontruksi. Sebagian besar sih memang begitu. Karena kolase bukan sekadar merombak, tapi “menjatuhkan” citra awal dari sebuah objek. Ya, semangat kolase memang semangat dekontruksi. Selalu seperti itu. Sampai ada juga kolase yang dirombak lagi. Di potong-potong untuk dijadikan kolase baru. Dekontruksi didekontruksi lagi. Bahkan kolase melawan hukum juga. Menghancurkan copyright dari karya orang lain, hehehe.

A Week of Speak
 Punya role model di dunia perkolasean? (hahaha saya ketawa lagi karena menyemburkan kata-kata role model :p)
Geefaucher. Dia seniman kolase hitam putih. Bukan yang pertama, sih. Kan kalau gaya kolase hitam putih awalnya berkembang dari gerakan dadaisme dan surealis. Geefaucher ini namanya menjadi besar karena berkembang di scene punk. Kolasenya banyak di CD atau di propaganda. Selain dari kertas, dia juga bikin kolase dalam bentuk audio visual. Karya-karyanya lebih tematik. Jadi proses yang dilakukannya itu bikin kliping-kliping dari objek dulu lalu disatukan. Tema-tema yang diangkatnya lebih kuat. Dia merombak postmodern art.
Tawaran
Kolase sendiri di dunia seni bagaimana? Kan masih jarang, tuh.
Kalau di seni lebih ke dadaisme dan sureal. Seperti yang tadi saya bilang, merombak suatu citra dari objek yang ada menjadi citra baru. Di luar Indonesia gaungnya lebih gede, sih. Scene-nya besar. Ya, di Indonesia emang masih jarang. Tapi justru ada untungnya. Karena masih jarang, jejaring yang kita punya lebih kuat karena lebih saling mengenal. Untuk di Bandung sendiri kita gabungnya bareng dengan seniman kertas. Seniman yang berkesenian dengan menggunakan media kertas.

Time Goes By
Kalau kita mau membuat karya kolase, apa, sih, yang harus dipersiapkan?
Hmm.. Ah, berpikir gila weh. Memahami objek. Apa yang ingin disatukan. Apa kekurangan dari satu objek yang dilihat dan harus ditambahi apa untuk melengkapinya.

Kontra-Nogod
Hmm… percakapan ini harus diakhiri di detik “gila”.  Saya sudah sangat mengantuk didera mie rebus campur nasi yang menemani pertemuan kami. Perut kenyang obrolan tuntas, saatnya memikirkan potongan untuk melengkapi hidup! Ups, maaf, maksud saya kolase! Ciaoo!

1 komentar:

  1. aku suka sekali postingan ini.
    sangat menginspirasi buatku untuk membuat kolase.
    juga buat episode terakhir workshop Play Your Magic Hands (acara sok sok workshop di salah satu resto di Jogja itu). hihi..

    btw terima kasih sekali ya..

    o iya, salam kenal juga ya buat mas Billy Anjing. :D hihi.

    -ojan-

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails