2.11.10

Meruang Bersama Daluang


Tak banyak yang pernah mendengar daluang. Berasal dari kulit pohon Saeh (paper mulberry), pada masa keemasannya, ia memiliki beragam manfaat. Mulai dari bahan pakaian sampai bahan untuk membuat kertas. Tanaman yang memiliki nama latin Broussonetia papyrifera ini sekarang sudah cukup langka dan sulit dijumpai. konon, pada jaman dahulu pembuatan kertas tradisional ini di Jawa Barat hanya dilakukan di daerah Garut, yaitu di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja. Selain di Garut, di pulau Jawa pembuatan kertas ini disinyalir terlebih dahulu berkembang di Madura dan Ponorogo. Pembuatan deluang dari kulit kayu telah berlangsung lama dalam masyarakat Nusantara, termasuk dalam masyarakat Sunda, bahkan sebelum Islam masuk ke Nusantara. Pada masa pra-Islam, daluang dari kulit kayu itu digunakan untuk bahan pakaian, terutama pakaian khas para pemimpin agama. Pada masa Hindu daluang digunakan untuk acara sakral, seperti dijadikan selendang dan ikat kepala perempuan, dan kertas suci pada upacara Ngaben. Daluang juga digunakan untuk kajang atau kain untuk jenazah di Bali. 

Meski masih mendapat tempat di masyarakat Bali, namun menjadi hal yang cukup sulit untuk menemui seorang perajin daluang, apalagi jika pencarian itu dipusatkan di belantara Bandung. Beruntunglah saya ketika tanpa sengaja berhasil menemui salah satunya. Bermula dari iseng sembari cuci mata melihat sekumpulan ABG, sebuah malam minggu pun kemudian dihabiskan untuk mengunjungi sekelompok komunitas teater yang tengah mengadakan Pendidikan Dasar. Udara dingin Dago Pojok bukan halangan. Wow, ini daun muda brad! Yap, setidaknya semangat itu menyala sampai kemudian hujan seperti menghalangi niat mulia kami. Dalam kegamangan khas pemuda, sebuah bangunan kayu yang tepat berada di belakang tempat pelatihan teater tersebut menjadi satu-satunya sarana yang nyaman untuk berteduh. Lembaran kertas aneh (yang kemudian saya ketahui bernama daluang) menyambut kami. Adalah Kang Mufid yang mendiami pemondokan itu. Sembari menikmati rokok lintingan dan sibuk mengupas kulit kayu, Kang Mufid dan saya pun meruang bersama daluang…

Kang Mufid pertama tertarik dengan daluang semenjak kapan?
Saya pertama diajari oleh Tedi Muhtadi (dosen UPI). Ya, hanya dasar-dasarnya saja. Saya kemudian mendalami sendiri proses pembuatan daluang.
 Bedanya kertas daluang dengan kertas sekarang apa sih, Kang?
Ya, kertas daluang lebih terlihat “handmade” dan lebih berkarakter. Daya tahan yang dimilikinya juga lebih kuat karena ia dibuat dari satu kulit yang utuh, berbeda dengan sistem pembuatan kertas jaman sekarang yang bahan dasarnya dicerai beraikan terlebih dahulu. Daluang itu lebih murni.

 Cara pembuatannya?
Pertama-tama dengan mengupas kulit bagian dalam lalu direndam semalam. Setelah itu, kulit kayu dipukul-pukul dengan pameupeuh (alat pemukul kulit kayu yang terbuat dari perunggu atau kuningan). Lama pemukulannya bergantung pada keinginan yang hendak dicapai. Kalau pengennya tipis, maka harus lama. Hasil “pukul-pukulan” itu kemudian ditempelkan dengan punggungnya dan dijemur. Usai dijemur, kulit kayu tersebut dilembabkan dengan cara direndam semalaman dan dibungkus daun pisang selama 7-10 hari untuk lebih menguatkan. Terakhir, ia dijemur lagi selama setengah hari barulah ia jadi selembar daluang.

Bahannya sendiri Kang Mufid dapat darimana?
Saya ngambil dari Lembang. Ya, sudah jarang sih memang bahan dan juga perajin daluang. Setahu saya, di Garut ada satu keluarga yang masih aktif. Untuk Bandung sendiri katanya ada satu orang selain saya. Itu pun saya tidak tahu apakah orangnya masih ada atau tidak. Kalau pohon yang bisa dikatakan bagus itu biasanya berdiameter 4-5 cm. Untuk kualitas, daluang kualitas satu itu buatan Madura, yang kedua buatan Ponorogo. Sunda sendiri diwakili oleh Garut yang menempati posisi ketiga.

Kreasi apa yang biasanya dibuat dari daluang untuk saat ini?
Kebanyakan yang memesan menggunakan daluang sebagai media grafis. Seperti STDI, misalnya, yang memesan daluang karena hendak membuat karya cerita Sunda. Ada juga yang memesan untuk membuat undangan atau sertifikat. Macam-macamlah. Daluang juga bisa dikreasikan untuk membuat lampion atau tas.
 Ups, hujan yang telah reda kemudian seolah menjadi penanda bahwa percakapan kami telah usai. Kang Mufid sepertinya harus beristirahat, sedang saya dan kawan-kawan sudah semestinya pula memulai meratapi kegagalan mengintip dedaunan muda, Aww! Ah, Sebelum beranjak, beberapa jepretan foto daluang pun menjadi korban kebiadaban kamera pelipur lara kegagalan hari. Nah, selamat menikmati daluang J
(Nunuw)


1 komentar:

  1. Artikle yang sangat keren, semoga sukses selalu

    Ingin Liburan Ke paket wisata karimunjawa dengan aman dan nyaman di karimunjawa ? Ingin Paket Wisata Karimunjawa dan gak murahan? Hubungi Kami "Raja Karimunjawa" biro lokal asli Karimun jawa . Untuk Book Paket Karimunjawa dan karimun jawa , silahkan hubungi kami karena kami biro karimunjawa dan trevel karimunjawa terpercaya. Paket wisata karimunjawa Murah tapi mewah, murah tapi gak murahan. Kepuasan Wisata Karimunjawa anda di pulau Karimunjawa adalah kebahagia'an dan tujuan kami. Terimakasih telah mempercayakan paket wisata karimunjawa bersama kami Agen Wisata Karimunjawa dan toko furniture. silahkan Untuk booking paket lebaran karimunjawa dan paket tahun baru karimunjawa

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails