18.10.10

Mengudara Bersama Layang-layang


Beberapa waktu yang lalu, account twitter saya dibombardir oleh tweet-tweet dalam rangka peringatan hari Kesaktian Pancasila yang kontroversial itu, mulai dari tweet penuh caci maki hujatan sampai pemujaan berlebih terhadap Garuda. Twitter memang selalu tampak super sibuk pada tiap-tiap tanggal penting. 17-an, semua heboh pekik merdeka. Bulan puasa semua menyahut kelaparan. 10 Oktober? Well, yang pasti twitter saya adem ayem pada hari itu. Tak ada keributan berarti kecuali pergosipan di akhir pekan, padahal tepat pada tanggal tersebut, seluruh dunia tengah asyik masyuk menikmati hari layang-layang sedunia! Jenis permainan yang berumur cukup tua ini kian dikenal namanya ketika ilmuwan besar Benjamin Franklin menggunakannya untuk meneliti petir dengan menerbangkan sebuah layang-layang yang dikaitkan dengan tiang besi.


Alkisah, layang-layang ditemukan pada abad ke-5 SM oleh ilmuwan Yunani dari Tarentum. Akan tetapi, legenda menyebutkan bahwa bangsa-bangsa di Asia sudah mengenalnya jauh sebelum itu. Sebuah dugaan lainnya mengungkapkan bahwa benda yang memiliki bentuk konvensional persegi ini berasal dari Cina semenjak 3000 tahun yang lalu, tepatnya pada masa pemerintahan Dinasti Han. Layang-layang pada masa ini digunakan untuk keperluan perang. Ya, konon,  militer Cina menempelkan potongan batang bambu pada layang-layang mereka. Saat "pasukan" layang-layang melintasi pasukan musuh, angin yang menerobos rongga bambu mengeluarkan bunyi siulan penuh gemuruh yang dapat mengecoh dan menjatuhkan mental lawan. Pada perkembangannya, layang-layang pun menyebar ke kawasan Asia lain. Baru tahun 1500-an muncul bentuk jajaran genjang yang kemudian menjadi populer di Eropa.


Mungkin jauh dari riuh rendah, tapi beberapa pecintanya sempat merayakan hari bersejarah tersebut dengan menggelar sebuah festival layang-layang yang dipusatkan di kawasan Kp. Gajah Kabupaten Bandung Barat. Sayang, saya tak sempat melongok barang sekejap festival tersebut. Namun, beruntunglah beberapa hari sebelumnya, di sebuah sore paling hangat yang pernah saya temui, pertemuan tanpa sengaja dengan segerombolan manusia yang tergabung dalam Art Kite Indonesia (AKI) memuaskan sedikit keingintahuan mengenai dunia layang-layang.

“Kita sudah lama bergelut di dunia layang-layang. Semenjak tahun 80-an”, ungkap Kang Acong, salah seorang anggota AKI membuka percakapan. Kalimat itu sedikit miris menyentuh telinga. Bagaimana tidak, kalimatnya tersebut disajikan di hadapan beberapa manusia paruh baya yang tengah tekun menjalin untaian-untaian keringatnya demi menciptakan layang-layang. Bagi Kang Acong dan kawan-kawan, menekuni mainan yang kerap memercantik udara ini adalah sebuah hasrat yang dibalut kesabaran tingkat tinggi. Lelaki mungil itu kemudian berujar pula bahwa untuk memproduksi sebuah layang-layang kecil hanya dibutuhkan waktu satu hari, namun lain halnya jika membuat layang-layang berukuran besar. Bisa sebulan lamanya mereka berjibaku menyelesaikannya.
Anggota AKI tengah asyik membuat layang-layang
 “Proses awalnya yang lama seperti menentukan desain dan rangka. Selain itu, keseimbangannya juga mesti diukur senti persenti. Belum lagi menimbang berat yang pas bagi sang layang-layang. Membuatnya juga harus bersama-sama. Ada yang memegang bagian gambar, membuat rangka, serta mengurusi pengeleman dan penjahitan,” terangnya berpanjang-panjang, “penggunaan bahannya pun masih impor. Bahan kain parasit dan benang sejenis tambang khusus didatangkan dari Cina. Sebenarnya ada produk lokal, hanya saja kualitasnya kurang bagus,” tambah Kang Acong sejurus kemudian.


Dengan anggota aktif yang hanya bisa dihitung dengan jari, AKI ternyata telah pula menyentuh dunia internasional dengan mengikuti beragam festival. Terakhir, dengan menerbangkan layang-layang model anjing, AKI berhasil memenangkan sebuah festival layang-layang yang digelar di Hongkong. 


Hmm.. penasaran dengan layang-layang? Coba simak www.2geek.net/eMart/index.php?c=48 untuk menikmati karya AKI! Ups, saya juga merekomendasikan situs www.museum-layang.com agar lebih syahdu bermesraan dengan layang-layang. Sore kian petang. Ada yang mau menemani saya menerbangkan layang-layang di tengah sabana nan luas? :)

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails