2.10.10

Mengenal rajutan (4): Benang (1)

Banyak yang tanya soal benang sih, jadi tulisan ini spesial buat yang pengen tau tentang perbenangan di dunia rajut.

Gimana cara milih benang? Apa bedanya benang katun, akrilik, wol, dll dsb? Apa maksudnya worsted weight, sport weight, dll, dan apa padanannya di Indonesia? Benang apa yang cocok untuk projek rajutan tertentu?
Gitu kali ya pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar benang rajut. Sini sini, saya coba jelasin.

Dalam hal benang, ada beberapa segi yang bisa dijadikan acuan pengkategorian *halah..ini bahasa Indonesia bukan?*:
a. bahan pembuatnya (seratnya), yang lalu pengaruh ke sifatnya
b. struktur dan tekstur
c. ketebalan

Bahas satu-satu ya...

Berdasarkan seratnya, secara umum benang dibagi menjadi tiga kategori: alami, sintetis, dan campuran. Oiya, buat ngetes apakah seratnya alami atau sintetis, coba benangnya dibakar sedikit. Benang alami akan habis jadi abu. Benang yang ada unsur sintetisnya atau sintetis keseluruhannya, akan meleleh seperti plastik.

Serat alami, yaitu yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan, diantaranya adalah:

1. Wol --> dari bulu binatang, umumnya dari keluarga kambing-kambingan. Sifatnya elastis dan tahan lama. Selain itu bahan wol juga menyerap kelembaban dan merupakan insulator yang baik, sehingga terasa sejuk saat cuaca panas, dan hangat saat cuaca dingin. Benang jenis ini juga harus dicuci secara hati-hati dengan tangan, sebab jika dicuci dengan mesin akan mengerut dan berbulu (kecuali superwash wool, yang diolah sedemikian rupa sehingga tahan cucian mesin).

Oiya, yang sering disebut wol di Indonesia, biasanya adalah akrilik, bukan wol beneran. Buktinya? murah, dan begitu dibakar dia meleleh.

Ada macam-macam jenis wol, ada yang lembut, ada yang agak kasar, tergantung jenis binatang yang diambil bulunya. Wol yang kasar yang sering bikin orang ngerasa gatel dan 'alergi'.
Merino wool, berasal dari biri-biri jenis Merino, yang kalo bulunya ga dicukur, dia ga akan bisa berdiri saking beratnya itu bulu.
Cashmere, dari kambing Kashmir. Ini termasuk benang luxurious dan mahal, soalnya produksi bulu kambingnya sedikit, tapi kualitasnya super. Biarpun tipis tapi super hangat.
Mohair, dari kambing Angora. Benangnya biasanya tipis dan berbulu. Kualitasnya dinilai dari kilau bulu-bulunya.
Angora, bukan dari kambing Angora (hayooo, ketipu!). Yang ini dari kelinci Angora. Super hangat juga, tapi relatif mudah berbulu. Perawatannya harus super juga.
Alpaca, berasal dari binatang Alpaca (keluarga unta-llama gitu deh). Tidak seelastis wol-nya biri-biri. Unta, llama, dan vicuna, mereka sekeluarga juga suka diambil bulunya untuk dijadikan benang.
Qiviut, berasal dari bulu binatang Musk Ox (semacam bison asli Alaska). Seperti cashmere, dia termasuk benang langka. Katanya sih lebih lembut dari cashmere dan 8 kali lebih hangat dari wool biasa. Makanya mahal juga.

2. Sutra --> dari kepompong ulat sutra. Seperti wol, sutra juga menyerap lembab dan merupakan insulator yang baik sehingga nyaman dipakai saat cuaca dingin maupun panas. Benangnya halus, berkilau, dan kuat, tetapi kurang elastis dan tidak mudah dirajut. Benang sutra harus dirajut sangat rapat, sebab hasil rajutan akan melar pada saat pertama kali dicuci.

3. Katun --> dari serat kapas. Seratnya halus, tetapi tingkat kehalusan seratnya berbeda-beda tergantung tumbuhan kapas sumbernya. Katun Mesir dianggap yang paling halus dan tinggi kualitasnya. Katun bersifat menyerap keringat sehingga sejuk dipakai saat cuaca panas. Sifat lainnya, dia kuat, tapi tidak elastis. Dia akan melar setelah beberapa lama, makanya sering dicampur dengan serat lain.

4. Linen --> dari serat flax; Hemp --> dari serat tumbuhan.....marijuana! Tapi terjemahan bahasa Indonesianya rami dua-duanya...sigh, kamusnya jelek. Sifat keduanya mirip katun.

5. Rayon/Viscose --> berasal dari selulosa tumbuhan, tapi diproses secara sintetis di pabrik. Bersifat kuat, dingin, halus, dan menyerap kelembaban. Seratnya licin, memiliki kilau yang baik, dan mudah dicelup berbagai warna. Tapi dia tidak elastis, mudah melar.

Selain yang 5 ini, sekarang makin banyak jenis benang yang diambil dari bahan alami seperti bambu (mirip serat sutra), serat pisang, serat ganggang laut, serat jagung, malah juga dari ampas pembuatan tahu. Katanya di Indonesia juga ada benang dari serat eceng gondok.

Serat sintetis, misalnya:

1. Akrilik. Bersifat ringan, kuat dan tahan lama. Mudah perawatannya, bisa dicuci dengan mesin cuci dan pengering, cocok untuk pakaian bayi yang mudah kotor. Harganya relatif murah. Tetapi selain itu ia juga mudah berbulu.
2. Nilon. Benang nilon biasanya berkilau, sangat kuat, tahan lama.
3. Poliester, dan lain lain lain lain...

Serat campuran, ya banyak lah macemnya, campur ini campur itu. Tujuan mencampur-campur itu biasanya untuk mengambil sifat-sifat baik dari masing-masing serat. Misalnya katun yang gampang melar, dicampur dengan wol supaya lebih elastis (bisa balik lagi ke bentuk semula). Katun dicampur rayon, supaya berkilau. Dan lain sebagainya.

bersambung ya...

keterangan foto: Merino sheep yang gondrong...

Knitting 101, rubrik khusus untuk mengetahui apapun tentang merajut. Persembahan klab merajut tobucil & klabs dan Dydy: pendiri milis mari_merajut, Perpustakaan Art & Craft Tobucil & Klabs dan merajut.com 

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails