2.11.10

Membaca Cerita Sang Ahli Gambar

“Ketika orang2 Belanda tahu bahwa pasukan Bau datang. Maka J.P Coen memerintahkan bumi hangus di kota yang paling depan, hanya benteng Hollandia yang mereka sisakan. Dan belanda dengan 24 orang serdadunya bisa mempertahankan benteng tsb…”
(Kira-kira Begini Latar Belakang- S. Sudjojono)

Kira-kira Begini Latar Belakang
Penggalan paragraf di atas bukanlah sebuah kutipan dari novel atau cerpen. Ia adalah bagian dari sketsa karya Sudjojono, seorang pelukis dengan julukan Bapak Seni Lukis Modern Indonesia, yang diberi judul “Kira-kira Begini Latar Belakang”. Melihat karya-karyanya dalam pameran “Sang Ahli Gambar” di Galeri Soemardja beberapa waktu lalu kontan saya merasa menemukan sosok penangkap hari yang sangat tekun. Aura buku harian mungkin adalah gambaran tepat yang saya sematkan kepadanya. Melalui gurat sketsa hitam putih, Sudjojono melakukan reka ulang berbagai peristiwa. Dari peristiwa sejarah yang mengubah dunia sampai ranah personal penuh romantisme. 

Beberapa karya S. Sudjojono
Diselingi dengan orasi Wawan Sofwan, pameran ini membuat saya teringat pada sebuah kumpulan cerpen Keajaiban di Pasar Senen karangan Misbach Yusa Bihran yang berkisah mengenai gerakan senimanisasi di era akhir tahun 50-an. “Jangan jadi seniman jika ingin mencari uang!” Ucap Wawan di tengah orasi. “Pergilah ke liang kubur dengan senyummu untuk memertahankan ide-idemu!” Cecar Sudjojono pada cuplikan kata-katanya di sebuah seminar seni rupa di tahun 1977. Dalam benak saya, lahirlah pengembaraan imajinasi tentang kisah seorang perupa yang mengabdikan keseluruhan hidupnya hanya untuk seni, seperti halnya seniman-seniman Senen yang digambarkan oleh Bihran dan menjadi sebuah ironi pada orasi Wawan Sofwan. 
Orasi Wawan Sofwan
Menyelami S. Sudjojono
Namun, saya adalah orang yang sederhana dan tak terbiasa untuk njlimet dalam memahami dunia berkesenian. Lupakan sejenak mengenai pembicaraan seni level mutakhir. Bagi saya, coretan maestro yang telah berpulang pada tahun 1986 ini adalah sebuah kisah keabadian yang secara sederhana pula belajar menggambarkan realitas keseharian yang kerap terlupakan ketika bicara sudah terlalu tinggi dan perputaran dunia sudah teramat memilukan. Sudjojono mengingatkan para pelihatnya bahwa hidup adalah sketsa, sebuah guratan setengah bentuk yang dapat dijelmakan berbeda oleh setiap kepala. Sudjojono pada akhirnya adalah seorang seniman yang berhasil menggunakan seni untuk menampilkan pergumulan ironi dan kebahagiaan. Mengajak siapapun untuk “berdiskusi” melalui sketsa-sketsa. Yeah, andai si seksi Angel Helga (yang berbicara dengan keyakinan imitasi di televisi beberapa waktu yang lalu tentang film Rintihan Kuntilanak Perawan  adalah sebuah seni yang patut dinikmati) melihat pameran ini, saya jamin ia akan berhenti main film dan belajar membuat sketsa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails