18.10.10

Kami The Men Who Knit dan Kami Rock!


Apa jadinya jika segerombolan preman, pewarta, mahasiswa, pengangguran, seniman, dan rupa-rupi jenis laki-laki lainnya berkumpul? Ow, tolong jangan katakan bahwa saya tengah membicarakan Parpol atau Ormas! Apalagi organisasi sempalan semacam Satpol PP!  Apa yang saya bicarakan sekarang jauh… jauh… lebih mantap. Yap, Toean dan Njonja, saya hadirkan ke tengah Anda komunitas paling menggelinjang abad ini dan sekaligus paling menggegerkan dunia per-handmade-an tanah air! This is “The Man Who Knit (TMWK)!”
Rudi, perajut dan aktor di video-video TMWK
Sebenarnya saya terlalu berlebihan, karena pertemuan saya dengan para penggiatnya tidaklah seheboh itu. Ah, ya. Gelayut agak mendung memang mewarnai pertemuan kami. Di tengah keriuhan Pasar Seni ITB kemarin, muka-muka lusuh namun penuh semangat itu tampak agak lelah. Tapi jangan sebut saya penggosip kelas ikan hiu jika tak berhasil berpanjang-panjang berbalas kata dengan TMWK. Sambil mengikuti syuting dadakan untuk video tutorial terbaru  mereka, obrolan kami pun berlanjut di bawah pohon rindang dengan semut-semut yang pelan-pelan merayap ke punggung. Hoho… sepertinya si semut sudah lupa lagu Obbie Messakh yang mengajarkan mereka untuk berbaris di dinding! Ah, sudahlah, mari bercakap-cakap dengan para perajut berotot ini!
Lagi pada ngapain, nih, di ITB?
Kami sebenarnya diundang panitia untuk menggelar workshop yubiyami (salah satu teknik di jagad merajut dengan menggunakan jari), tapi karena ada kesalahan teknis kita gagal workshop di sini. Jadi diem aja, terus bingung dan pusing ngeliat keramaian. Akhirnya kita manfaatin waktu deh buat bikin film pendek khas TMWK. Ya, untuk promosi video tutorial yubiyami. Di  pasar seni hari ini kami juga menjual video tutorial yang dikemas lengkap dengan benang.

Sering, ya, TMWK diundang workshop?
Ya… lumayan. Kita pernah workshop di kaki Gunung Manglayang, pernah diundang Club Nova Gramedia. Terus sering juga diundang untuk workshop di kampus-kampus.

TMWK itu sendiri sebenarnya apa, sih?
Sebenarnya, siapapun laki-laki yang merajut, ia berhak disebut sebagai “The Man Who Knit”. Tapi, karena kita yang pertama memploklamirkannya, makanya TMWK jadi seperti club atau komunitas. Akhirnya, kita mencoba untuk serius menggarap TMWK menjadi sebuah komunitas. Intinya kami adalah lelaki perajut. Kita pengen  ngasih tahu dunia bahwa ada loh ternyata laki-laki yang hobi ngerajut dan enggak jadi lebay plus tetep rock!

  
Berapa banyak, sih, anggota TMWK?
Ada lebih dari 20 orang. Tapi yang aktif sekitar sepuluh. Ya, dengan profesi yang beragam, tapi punya kesamaan, yakni ingin membuat sesuatu dengan tangan sendiri melalui merajut.

Emang kapan berdirinya?
Mmm… pas Tobucil pindah dari Kyai Gede Utama ke Jalan Aceh. Sekitar tahun 2007. Hey, tahu enggak? Sekarang, kan, ulang tahunnya TMWK. Iya, 10 Oktober! (Nah buat kawan-kawan yang butuh traktiran segera serbu TMWK :p)
Beberapa karya TMWK
 Ah, ada berapa macam cara merajut sebenarnya?
Kalau teknik sih ada yang menggunakan jarum dan ada juga yang menggunakan jari. Untuk motif dan pola sih ada banyak. Buat yang ngebet kepingin tahu, buka aja blog TMWK di www.themanwhoknit.blogspot.com (psttt.. buat yang mau mengundang TMWK untuk ngadain workshop jangan ragu-ragu. Langsung kontaks-kontiks sajah! Gabrets jangan pake lambreta!).
(Nunuw)

2 komentar:

  1. ahahha!! seruu!!! :D
    salam kenal, tobucil!!!
    udah lama banget nggak main kesana!

    BalasHapus
  2. Sendai nya d'kota aku ada yang kyak ginian....

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails