2.11.10

Belajar Sambil Bermain Bersama Permainan Tradisional


Tubuhnya yang mungil tengah asyik menikmati sore bersama sekelompok bocah dan beberapa kawan. Senyumnya yang ramah kemudian menyambut kedatangan saya. Percakapan kami kemudian dimulai di tengah hamparan padang rerumputan yang berada tepat di sebelah Taman Hutan Raya Juanda yang berada di kawasan Dago Pakar. 
Foto oleh Komunitas Hong

Bagi banyak pihak, nama Zaini Alif yang akrab dengan sapaan Kang Zae ini bukanlah sosok asing, apalagi jika dikaitkan dengan “mainan dan permainan” tradisional. Minat dan kecintaan terhadap budaya lokal ini telah pula mengantarkan lelaki yang sehari-harinya disibukkan pula dengan mengajar di Sekolah Tinggi Seni Bandung (STSI) dan menjadi dosen luar biasa di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) ini sampai ke mancanegara.
Foto oleh Komunitas Hong
 Mainan dan permainan memang sudah berkembang demikian pesat. Dunia modern membuat dunia “main-main” ini berevolusi super cepat. Kang Zae dan Komunitas Hong bukanlah sekadar pengumpul semata, bukan sekadar membuat ulang mainan-mainan yang kian jarang ditemui di tengah kota. Sedikit serius, ini adalah percakapan maha singkat mengenai sebuah komunitas yang dengan tangan kecilnya berusaha memertahankan tradisi melalui mainan dan permainan tradisional. Selamat menikmati…   

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan mainan dan permainan?
Ada dua pengertian, “mainan” dan “permainan”. Mainan berorientasi pada “toys”, sesuatu yang biasa dikerjakan dan menyenangkan, sedangkan permainan orientasinya adalah menang-kalah, lazimnya disebut “games”. Berbeda dengan pengertian kompetisi dalam permainan-permainan modern yang hanya menekankan dan menargetkan pada menang dan kalah, menang-kalah dalam permainan tradisional memiliki sisi di mana anak-anak diajak bermain sambil mengeluarkan potensi diri yang dimilikinya, baik potensi motorik maupun potensi kreativitasnya.

Sejak kapan tertarik dengan dunia yang sekarang Akang geluti?
Wah, sudah sejak lama, sekitar tahun 1996. Ya, memang, dahulu, ketika mengerjakan tugas kuliah saya selalu mengangkat masalah mainan dan permainan. Awalnya, saya meneliti mainan secara umum. Barulah pada tahun 1999 saya mulai fokus pada permainan tradisional. Keinginan ini sendiri muncul dari pemikiran yang sangat sederhana, didasari karena saya sadar bahwa di Indonesia tidak ada peneliti untuk masalah ini dan permainan khas Indonesia yang mulai punah.

Darimana Kang Zae memeroleh mainan dan permainan tradisional?
Saya biasanya main dan berkeliling ke kampung-kampung adat. Mewawancara pihak-pihak yang masih mengerti tentang hal itu. Untuk mainan yang sudah punah, saya biasanya melakukan rekontruksi, dibuat ulang.
 Untuk  saat sekarang, permainan tradisional terasa kurang populer. Menurut Kang Zae sendiri bagaimana? Lalu bagaimana perbedaan antara permainan modern dan permainan tradisional jika dilihat dari sisi psikologis anak?
Ya, karena masyarakat beranggapan bahwa permainan tradisional atau permainan rakyat dianggap kotor, rendah, kampungan, dan permainan dari luar itu yang terbaik. Padahal, jika ditinjau dari sisi psikologis dan edukasi, permainan modern hanya menyajikan bentuk lahiriah semata, sedangkan permainan tradisional, selain mengetengahkan sesuatu yang lahiriah, ia juga mengolah rasa seperti empati dan mendekatkan diri dengan alam. Itu adalah keunggulan permainan tradisional.

Mengapa dinamai “Hong”?
Hong dalam bahasa baheula (dahulu-red) berarti pertemuan kita dengan Tuhan. Di dunia permainan tradisional, ada sebuah permainan yang dinamai Hong-hongan (petak umpet-red). Secara filosofis, ternyata ada permainan yang memiliki nama yang bermakna yang besar. Jadi permainan itu bukan hal yang “main-main”. Dari sanalah sebenarnya nama Hong digunakan untuk komunitas yang saya gagas.
Apa cita-cita terbesar Kang Zae untuk sekarang?
Membuat kantung (wadah atau jaringan-red) permainan dan membuat museum mainan. Saya kini sedang membangun museum. Lokasinya di rumah saya. Ada sekitar 250 jenis permainan yang sudah terdata, untuk mainan, jumlahnya sangat banyak, ada ribuan. Memang, mula-mula, sesuai dengan penelitian saya, saya meneliti jenis-jenis permainan yang ada di Jawa Barat, tapi setelah saya melakukan penelitian lebih lanjut, saya menemukan fakta bahwa permainan di Indonesia, bahkan seluruh dunia, antara satu dan yang lainnya sangat mirip. Dari sana, saya kemudian benar-benar terjun untuk meneliti permainan-permainan yang ada di seluruh di Indonesia.

Sore nyaris tuntas. Seusai bercakap-cakap dengan Kang Zae, Bersama beberapa kawan baru, saya menyempatkan untuk bermain gasing. Tawa yang lepas dan proses pembelajaran yang begitu mengasyikkan membuat saya setidaknya tersadar betapa hari itu saya telah memelajari sesuatu, belajar pada tradisi, belajar mengenai kekayaan dunia permainan tradisional di tanah nusantara yang sudah sepatutnya tak terlupakan begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails