30.10.09

Mulyana dan Keluarga Mogu Sigarantang

 
Foto dokumentasi pribadi

Moelyana. Mahasiswa semester 9 jurusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Lebih memilih menjadi seniman daripada guru. Pembawaannya riang, kocak dan penuh semangat. Menyukai makanan-makanan enak dan lebih memilih keceriaan daripada kesepian, itu sebabnya Mulyana punya teman segudang. Lebih fasih menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dalam bahasa Sunda daripada dalam bahasa Indonesia. Berikut obrolan saya yang mungkin paling serius yang pernah saya lakukan bersama Mulyana di sela-sela jadwal Praktek Kerja Lapangan sebagai guru di SMUN 22 Bandung.



'Badak Origami', Acrylic, Kertas, karya Mulyana


Bisa ceritakan latar belakang kenapa kamu bikin soft toys figure?
Prinsip saya dalam berkarya itu 'Art for Fun dan Art are Fun'  dan itu membuat saya bisa menikmati dan merasa senang membuat karya. Kalau soft toys yang saya bikin itu, karena ada benang nganggur trus juga karena ada banyak dukungan juga dari teman-teman. Trus ada kesempatan untuk memamerkannya. Saya beruntung karena selalu di kelilingi oleh orang-orang yang mendukung apa yang saya lakukan.  Untuk tokoh-tokohnya sendiri, kenapa saya tertarik gurita, karena buat saya gurita itu unik dan banyak orang menyukainya. Dia punya banyak tangan, gesit dan kesannya lucu. Dan yang paling mudah di buat dengan pom-pom adalah gurita. Makanya tokohnya saya ambil dari figur gurita.
 

Seperti apa karakter monster gurita (Mogu) ini akan dikembangkan?
Kemaren sih baru munculin tokohnya saja. Nah sekarang saya ingin membuat ceritanya juga. Saya masih pusing mencari nama. Kalau yang pertama ada yang membaptis, teman saya Yuchan kasih nama: Mogu (Moster Gurita) Sigarantang (Seperti rantang red), Sigasaya (seperti saya red).. hahahahah... Saya pengen si Mogu nanti ada filmnya, ada soundtracknya.. gitu lah cita-cita saya dengan si Mogu..



Kolaborasi karya Origami bersama Tania Fitriani untuk display Airplane System

Kamu kan pria multi talenta, coba ceritakan keahlian kamu apa aja?
Sebenarnya karena saya belajar di Seni Rupa UPI, jadi memang saya belajar macem-macem tapi ya cuma dasarnya aja dan ga dalam. Mungkin karena arahnya nanti untuk jadi guru. Dan untuk pengembangannya ya harus cari di luar kampus. Saya beruntung karena bisa menemukan banyak kesempatan berkembang di luar kampus. Kalau mau jadi seniman mungkin memang harus banyak gaul ya.. heheheh.. Buat saya semakin banyak teman, semakin banyak referensi dan semakin banyak juga yang mendukung. Terasa sama saya, bahwa saya bisa belajar banyak dari teman-teman saya itu. Ya sedikit-sedikit sambil mempraktekan ajaran silaturahmi lah.. Oya saya bisa Origami, Silk Painting, Merajut dan lain-lain..

Dari sekian banyak keahlian kamu itu, mana yang paling menyenangkan buat kamu dalami?

Mmm.. apa ya? sebenarnya saya suka yang 'merangkai menjadi sesuatu'. Pas SMP saya pernah ikut lomba 'tazos' (mainan berbentuk modul kepingan bulat  pipih yang bisa dirangkai jadi bentuk-bentuk tertentu-red). Waktu itu saya daftar sendiri yang lain di temani orang tua. Trus waktu itu saya udah hampir menyerah dan males-malesan. Malah hampir memutuskan pulang sebelum waktunya, tapi dilarang panitia. Eh ternyata saya menang juara ke satu. Dapat hadiah piala, uang dan bingkisan. Dan ketika saya dikirim mewakili jawa barat untuk lomba tazos di tingkat nasional, saya waktu itu bersikap menggampangkan dan menyepelekan kesempatan yang ada. Akibatnya saya ga juara sama sekali. Sejak itu saya belajar bahwa jangan menyepelekan dan menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun yang datang, karena kesempatan seringkali ga datang dua kali. Pengalaman saya sekolah di Pesantren (Gontor), saya belajar soal percaya diri untuk mengaktualisasikan diri dengan berbagai kemampuan yang saya bisa. Selain itu juga saya bisa membangun jaringan dengan banyak teman.
 

Gimana dengan dukungan keluarga?
Kalau paman dan bibi, karena saya tinggal sama mereka sejak kecil, mereka  mendukung saya. Tapi kalau papah, dia sebenernya ingin saya meneruskan bisnisnya dia, meski dia ga melarang saya jadi seniman.

Kamu lebih tertarik jadi guru sesuai dengan background pendidikan kamu, atau jadi seniman?

Heheheh.. ya sekarang saya cobain aja semuanya dulu. Bikin jaringan seluas mungkin. Sekarang saya lagi nyiapin karya untuk pameran bersama di ITB. 



Mulyana yang sangat menyukai gambar ikan 

Bisa ceritakan sedikit soal karya kamu untuk pameran 'Black and White di ITB?'
Black and White sendiri kan perspektifnya bisa luas. Saya rencananya mau bikin monster lagi, tapi dengan temannya manusia yang memakai kostum yang nanti saya sesuaikan dengan karakter monsternya.

Ceritakan dong, apa yang kamu temukan dari  perbedaan material atau bahan yang kamu gunakan untuk berkarya?
Sebenarnya saya masih  coba teknik dan memahami karakter-karakter bahannya dan menemukan teknik yang pas buat saya. Dan memang kerasa kalau saya menguasai secara teknis juga daripada sekedar punya konsep terus orang lain yang mengerjakannya. Seperti pom-pom yang saya kerjakan. Beda orang akan beda cara mengikatnya dan itu akan mempengaruhi karyanya nanti.

Selain benang, bahan apa yang senang kamu pergunakan?
Kertas dengan teknik modular origami. Saya ingin bikin tema karnaval. Jadi ada ceritanya, ada figur-figur yang bisa jalan juga.. karena origami kan macam-macam ya jadi itu bisa di gabungkan.

Kamu sepertinya lebih tertarik bikin karya yang membentuk cerita ya satu set gitu daripada karya tunggal..

Iya saya suka yang 'ramai' dan meriah. Mungkin karena saya orang yang takut kesepian hahahaha... Makanya saya suka keadaan yang ramai.  Itu juga saya selalu jadi koordinator untuk mengumpulkan teman-teman, karena saya senang di kelilingi banyak orang. Kalau waktu untuk menyendiri itu waktunya saya dan Tuhan heheheh...



'The Mogus' Keluarga Monster Gurita karya Mulyana yang di pamerkan di Crafty Days #3

Perbedaan karakter seperti apa sih yang kamu temukan dari merangkai modul-modul origami dan pom-pom?
Secara referensi jelas lebih banyak referensi tentang modular origami daripada pom-pom. Kita bisa mengambangkan bentukan-bentukan modular origami berdasarkan referensi yang ada aturannya juga lebih baku. Kalau pom-pom sebenernya lebih leluasa dalam hal menyusun bentuk, tantangannya kita harus  mencari dan menemukan sendiri bentukan dan tekniknya, bikin standar sendiri. Kalau modular origami pengembangan dan eksplorasinya bisa lebih ke penggunaan material yang bebeda, seperti akrilik, kain, lembaran almunium, sementara kalau pompom lebih ke mencari bentuk-bentuk baru materialnya lebih terbatas.

Sebagai koordinator Klab Origami Tobucil & Klabs, bisa ceritakan kegiatan dan programnya apa saja?
Saya ingin untuk tahun depan bikin program pameran kecil-kecilan yang bisa merespon ruangan di tobucil. Saya juga mau bikin display kecil buat memamerkan  bentukan-bentukan baru. Origami itu luas dan menyenangkan. Materialnya bisa macam-macam. Aplikasinya juga bisa ke fashion, interior, jadi sangat menarik untuk dipelajari. Jadi ayo belajar origami di Tobucil hehehehe..

Bagaimana pendapat kamu sendiri tentang dunia pendidikan seni di Indonesia?

Waduhh.. menyedihkan. Karena menurut seni itu selalu di sisihkan. Padahal seni bisa jadi media pembelajaran yang ampuh. Saya suka gregetan sendiri kalau membicarakan hal ini. Padahal belajar lewat seni itu bisa sangat menyenangkan. [t]


Lebih dekat dengan Mulyana bisa kunjungi blognya atau add Mulyana di Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails