5.9.07

Mengalami Literasi Lewat Hobi


Oleh: Tarlen Handayani, Program Director Tobucil & Klabs


Banyak orang bertanya kepada saya, pada awal-awal klab hobi diadakan di Tobucil. "Apa hubungan, buku dengan merajut dan melipat kertas?' Dengan motto tobucil pada 'supporting local literacy movement', seringkali orang memaknai literacy movement hanya sebatas kegiatan yang berhubungan dengan buku melulu.

Saya jadi teringat sebuah buku percobaan-percobaan sederhana di masa kecil dulu. Buku sederhana yang menjelaskan hukum-hukum fisika lewat percobaan-percobaan kecil yang bisa dijalankan anak-anak seusia saya pada waktu itu. Percobaan-percobaan selain menarik untuk dilakukan, membuat hukum-hukum fisika yang saya pelajari di sekolah, menjadi lebih 'nyata' dan terbayang bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula, pengalaman sejak masa kecil, dimana saya dan teman-teman sepermainan biasa membuat mainan sendiri dari barang-barang bekas. Dari mulai menemukan bahan yang semula tidak terbayang bisa di jadikan apa, sampai memikirkan ide yang menarik untuk bahan itu, sampai cara untuk membuatnya. Pengalaman-pengalaman itu memberi saya proses eksprimentasi dari mulai menemukan ide sampai realisasinya. Itu sebabnya, kegiatan hobi menjadi penting untuk dilakukan.

Bagi saya, hobi adalah bagian dari proses eksperimentasi dari ide yang abstrak menjadi hal yang konkrit. Karena sering kali apa yang saya bayangkan di kepala, ketika di realisasikan, tidak semudah yang di bayangkan. Ada persoalan teknis dan hal-hal yang tak terduga yang akhirnya antara ide dan hasil akhir tidak seperti yang dibayangkan.

Aktivitas hobi seperti merajut atau melipat kertas yang saya rasakan, ternyata membantu saya memahami banyak hal. Terutama persoalan bagaimana mengamalkan apa yang selama ini saya baca dan saya pelajari. Kesadaran bahwa semua ide besar yang tertulis di buku, selalu berawal dari hal-hal kecil dan sederhana. Lewat hobi, saya diajarkan untuk setia dan tekun pada proses. Ketika saya bercita-cita membuat sebuah syal seperti yang ada di buku-buku hobi, saya harus memulainya dari tusukan pertama dan tusukan tusukan berikutnya. Jika ada kesalahan, saya harus mengulanginya lagi, karena jika ngotot saya teruskan, hasilnya pasti tidak seperti yang saya harapkan. Terus dan terus, meski pada prosesnya, saya seringkali cape dan kesal: 'mengapa syal ini ngga selesai-selesai sih?'. Namun pengalaman menjalani hobi ini memberi energi pada saya untuk belajar menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Dan ketika selesai, rasanya begitu puas. Ada persaan bahwa ternyata saya bisa mengerjakannya. Ada kepercayaan diri yang baru, tumbuh dalam diri saya.

Beberapa waktu terakhir ini, aktivitas hobi dan kerajinan tangan ini memang menjadi marak kembali di kalangan anak muda dunia. Saya melihat ini, bukan semata-mata trend global. Yang menarik untuk di cermati justru munculnya kesadaran untuk berkontribusi pada perubahan melalui aktivitas hobi yang dianggap sepele dan sederhana. Kesadaran bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil dan dimulai dari setiap individu. Ketika sayamemilih untuk menjahit sendiri pakaian yang saya pakai, atau syal yang saya gunakan, bukan semata-mata karena saya tidak mampu membelinya. Kesadaran bahwa saya punya kekuatan untuk mengendalikan hasrat konsumsi saya dan memilih menghargai potensi diri saya sendiri, saya kira itu hal penting yang perlu saya sadari daripada sekedar alasan hobi sekedar mengisi waktu luang. Setiap detik yang saya jalani di dunia ini tak akan pernah kembali, karenanya selama saya mampu mengerjakannya mengapa tidak saya lakukan.

Betsy Geers pencetus konsep craftivism (buka: www.craftivism.com) dalam distertasi master sosiologinya, memberikan paparan yang menarik tentang craft (kerajinan) dan aktivisme. Menurut Betsy yang penting dari aktivitas hobi atau kerajinan tangan ini, adalah kesadaran bahwa dalam tingkat yang paling kecil, kita mampu melakukan sesuatu untuk diri kita dan juga untuk sekeliling kita untuk membuatnya menjadi lebih baik. So Let's get crafty!
Tulisan ini untuk publikasi di Media Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails