5.9.07

Laki-laki Merajut? Kenapa tidak!



Oleh : Wiku Baskoro, kordinator klabs tobucil

Kalau Anda berpendapat bahwa merajut adalah dunia perempuan, atau setidaknya Anda melihat aneh jika laki-laki merajut, sepertinya sekarang saatnya Anda benar-benar bercermin dan bertanya, apakah masih pantas Anda disebut sebagai manusia abad 21.
Dunia, dimana kreatifitas menjadi sandaran utama kini sedang berkembang. Dan tentu, pelaku utama dunia ini adalah anak muda. Kreatifitas semakin dihargai dan menjadi dasar dalam semua aktivitas anak muda. Salah satunya merajut. Kenapa?

Begini ceritanya :
Dalam konteks di Indonesia sebagai Negara berkembang, tentu perkembangan dunia global akan mempengaruhi perkembangan dunia muda lokal. Industri kreatif disini pun berkembang pesat. Band bermunculan bagai jamur di musim hujan, produk fashion lokal pun bermunculan tanpa kita ketahui, tau-tau produknya sudah nongol di TV, dipakai oleh presenter terkenal, dan gerakan DIY semakin merajalela. Bila pada perkembangannya gerakan yang menghasilkan produk dari usaha sendiri ini menjadi sebuah perusahan yang berorientasi bisnis, saya pikir ini hanya perkembangan yang wajar, ini tergantung dari ideaslisme si pemilik usaha itu sendiri. Ada yang bertahan di jalur indie, ada yang mengembangkan diri menjadi korporat yang lebih besar. Namun pada intinya semangat yang meraka usung adalah kepercayaan diri dalah membuat sebuah brand dan produk yang bisa dijual dan menghasilkan.

Di tobucil sendiri, semangat DIY sangat didukung dan dijaga agar tetap menjadi semangat utama yang mengerakan berbagai kegiatan yang diselengarakan disini, yang kami sebut sebagai klabs. Salah satunya adalah klabs merajut, yang isinya tentu, tidak melulu perempuan.
Di klabs ini kami diajarkan cara-cara merajut, perkenalan terhadap alat-alatnya sampai bahannya berupa benang, sebagai bahan utamanya. Semuanya dikemas dengan semangat anak muda, mulai dari pembuatan produk yang bertema anak muda, seperti kupluk, syal, tas laptop, sampai dompet mungil. Semua dikemas dalam sebuah forum yang santai, sambil ditemani oleh suasana sore Bandung yang segar dan secangkir kopi atau teh.

Di klabs merajut tobucil anggotanya tentu tidak hanya diikuti oleh kaum perempuan, ingat ini bukan klabs biasa, maka di klabs ini sebagian anggotanya adalah laki-laki, yang kadang berjenggot (termasuk saya), berbadan tegap, dan bersetelan metal. Kami berkumpul, belajar merajut bersama, mengembangkan motif-motif rajut baru, dan membuat kegiatan yang khas anak muda seperti Crafty Day’s –Let’s Get Crafty- yang akan diadakan tanggal 8-9 september 2007 ini.

Di era dimana kreativitas di hargai lebih, klabs ini memberikan saya ruang berimajinasi yang sangat luas, bagi saya merajut adalah sebuah medium dimana saya bisa mengembangkan pola pikir kreatif sambil tetap produktif. Dan tentunya, bisa memproduksi produk yang bisa dijual dan menghasilkan.

Yang di utamakan dalam era sekarang adalah bagaimana kita menjadi manusia yang kreatif, bagaimana kita mengolah hal disekitar kita, dengan usaha mandiri, menjadi sebuah produk yang berguna, baik bagi diri sendiri (dipakai sehari-hari), atau bagi orang lain (dijual).
Saya sangat setuju dengan Pramoedya Ananta Toer, beliau pernah bilang bahwa bangsa kita hanya kurang satu hal, yaitu kurang produktif, kita bisa menjadi bangsa yang besar, jika kita berproduksi. Bukan hanya menjadi masyarakat yang mengkonsumsi namun menjadi masyarakat yang membuat produk. Masyarakat yang menghasilkan. Apa lagi yang kurang dari bumi Indonesia? Tinggal kita sebagai penghuninya yang mengolahnya agar berguna.
Nah, sentimen gender tentu tidak punya tempat di ranah ini. Laki-laki atau perempuan akan berbaur saling bertukar ide, saling berdiskusi mengenai barang rajutan apa yang di buat selanjutnya serta pola apa yang cocok pakai dengan bahan itu.

Merajut kemudian membawa saya pada level berikutnya dari perjalanan hidup, disana saya belajar bersabar, tekun dan fokus pada hal yang sedang kita kerjakan. Mencoba tusukan yang pas untuk membuat sebuah pola mengajarkan saya bahwa, jika kita berpikir kreatif maka semua hal bisa kita hadapi. Jalan menuju mimpi yang ingin kita capai tidak hanya satu, kreatifitas bisa membuka jalan-jalan baru dan menyenangkan yang belum pernah kita lewati untuk menggapai mimpi itu.

Klabs merajut mungkin jauh dari isme merubah dunia, namun klabs ini berkembang di ranah mikro, dimana pola pikir kreatif dan produktif individu dengan semangat DIY-nya yang ingin dikembangakan. Dan disinilah, kami laki-laki berjenggot, berbadan tegap, berstelan metal berkumpul merangkai benang dengan jarum rajut menjadi sebuah produk, yang mungkin sekarang Anda pakai. Jadi, jika Anda melihat atau sebagai laki-laki tertarik untuk merajut? Kenapa tidak!

Nah, cerita selanjutnya dilanjutkan sambil merajut.

Tulisan ini untuk publikasi di Media Indonesia

1 komentar:

  1. Halo mas Wiku, salam kenal ya. kapan2 klab merajut di tobucil gabung sama yg jakarta yuuuuuk ;)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails