6.9.07

Ketika Hal Terbaik dalam Hidup Bisa dibuat Oleh Tanganku Sendiri



Oleh: Andre Purnomo, sukarelawan klabs

Beberapa bulan yang lalu, Kansha, keponakan saya yang berusia 5 tahun dengan antusias memamerkan kalung dari sedotan yang baru dibuatnya di TK. Kalung model tasbih yang terdiri dari plastik sedotan aneka warna berbentuk piramida. Langsung terbayang kenangan pribadi saya waktu masih di TK. Sama seperti dia, saya pun diajarkan membuat kalung dari sedotan oleh ibu guru, dan juga aneka keterampilan tangan sederhana lainnya, seperti membentuk patung dari lilin malam, melipat perahu dari kertas, dan membuat stempel dari kentang. Ketika hal ini saya ceritakan kepada Kansha, dia langsung minta diajarkan cara melipat perahu dari kertas. Setelah saya mengambil koran bekas dan bersiap untuk mengajarkan dia, saya baru menyadari satu hal: saya lupa cara membuat perahu dari kertas.

Malam harinya, saya cari diagram origami (seni melipat kertas asal jepang) perahu lewat internet. Ternyata tak sulit menemukannya, karena banyak sekali situs tentang origami di internet yang menawarkan ratusan diagram cara melipat aneka wujud. Selain diagram perahu, saya simpan juga berbagai diagram bentuk lain di hard drive untuk saya pelajari nanti dan saya ajarkan kepada Kansha. Setelah beres, mata saya tertuju pada link-link lain yang muncul yang berhubungan dengan hasta karya. Iseng-iseng saya klik link tersebut satu persatu dan muncullah macam-macam hasil kreasi keterampilan tangan yang lucu dan menarik. Ada tas dari rajutan benang wol, boneka binatang dan monster imut dari kain felt, stationary yang dihiasi aneka gambar hasil cetak sederhana, ada juga sarung bantal dan kain sprei dengan sablon berbagai motif yang keren. Benar-benar kagum saya dibuatnya. Ternyata masih banyak orang yang senang membuat macam-macam kreasi keterampilan tangan yang tak hanya bagus, tapi juga fungsional.

Terbersit sedikit kesedihan dalam diri saya. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menggunakan tangan saya untuk melakukan kegiatan semacam itu. Padahal ketika saya kecil, saya gemar membuat aneka hasta karya: mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, rumah boneka dari kardus bekas untuk kakak, atau vas bunga dari lempung yang saya cat warna-warni dan saya hadiahkan untuk ibu di hari ulang tahunnya. Malam itu, saya bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya membungkus kado sendiri karena rekan-rekan saya yang menikah lebih suka diberi 'mentahnya' saja. Tangan saya sudah terlalu terbiasa mengetik diatas keyboard dan menekan tombol ponsel. Tubuh saya sudah terlalu sering mengkonsumsi makanan instan dari restoran siap saji. Otak saya sudah terlalu dimanjakan oleh barang-barang hasil produksi bikinan pabrik memang tidak dapat dipungkiri sangat membantu dan mempermudah hidup saya, namun disisi lain membuat saya tidak mandiri dan menimbulkan tingkat ketergantungan yang tinggi. Dan ada satu hal yang saya rasakan mereka tidak miliki: sentuhan manusia. Ketidakadaan sentuhan manusia ini menciptakan kesan bahwa hidup saya semakin terasing dan diseragamkan dengan manusia-manusia lain. Ciri khas saya sebagai individu mulai luntur. Tiba-tiba muncul kerinduan untuk mandiri, keinginan untuk berkreasi dengan tangan saya sendiri.

3 bulan telah berlalu dan saat ini saya sudah bergabung dengan klub merajut di kota saya.
Awalnya, sebagai seorang laki-laki, saya agak minder ikut kelompok merajut yang selama ini hampir selalu dikonotasikan dengan kegiatan perempuan. Tapi tak disangka ada juga beberapa anggota laki-laki lain dalam klub merajut kami. Ternyata laki-laki juga tidak mau ketinggalan. Wah, senang rasanya! Sekarang saya sudah berhasil membuat sebuah syal dan kantong mp3 player, dan saat ini saya sedang merajut sarung dari benang wol untuk laptop. Senang rasanya bisa kembali berkarya dengan kemampuan sendiri. Ada kenikmatan pribadi yang saya rasakan ketika sedang merajut, hati serasa tenang dan dingin. Saya pun merasa jadi lebih teratur dalam menjalani hidup. Apalagi ketika melihat hasil karya saya selesai dibuat. Bangga bercampur tak percaya karena bisa membuat sesuatu yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Yang pasti, saya bisa membuat sesuatu yang berbeda dan tidak ada di pasaran. Kansha pun kini sudah bisa melipat perahu dari kertas dan juga aneka bentuk sederhana lainnya. Ingin saya ajarkan kepada Kansha dan keponakan-keponakan saya yang lain berbagai keterampilan tangan lain yang bisa mereka kerjakan di waktu senggang. Supaya, sama seperti pamannya, mereka bisa merasakan bahwa ada kegiatan lain yang mereka bisa lakukan yang tak kalah menyenangkan dibanding bermain Play Station atau boneka Barbie. Dan mudah-mudahan suatu hari nanti mereka bisa menyadari bahwa, “Sometimes, the best things in life are still made by hand”.

Tulisan ini untuk publikasi di halaman tentang Media Indonesia

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails