Follow by Email

Rabu, 21 Januari 2015

Locavore: Jika Bisa Makan Yang Lokal, Kenapa Harus Makan Yang Impor?

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Siapa yang mengira 'Mocav' adalah nama jenis tepung singkong. Dari namanya, orang bisa dengan mudah mengira ini sejenis nama makanan impor. Selama ini, tidak banyak orang menggunakan jenis tepung lokal ini untuk bahan olahan makanan.  Padahal mokav adalah bahan olahan pangan asli Indonesia selain tepung sukun, gayong atau sagu.

Selama ini tepung sebagai bahan pangan, di dominasi oleh tepung terigu yang berbahan gandum yang di impor dari luar negeri.  “Banyak kuliner yang booming di Indonesia, tetapi bahan dasarnya impor. Bahan-bahan pangan lokal kini harus bersaing ketat dengan bahan import, padahal negara ini kaya. Isu pangan ini sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia yang harus diperjuangkan,” jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Indonesia Berseru dan juga penggiat Aliansi Untuk Desa Sejahtera. 

Berdasarkan data BPS pada 2003 hingga 2013, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar 10 persen atau sekitar 130 triliun rupiah dari APBN hanya untuk mengimport kebutuhan pangan seperti terigu, beras, gandum, jagung. Tejo Wahyu Jatmiko berpendapat isu pangan menjadi satu masalah yang perlu dipecahkan. Menurutnya,  jika tidak segera bertindak, maka Indonesia akan berubah dari negara penghasil menjadi negara pengimpor.

Mengubah pola makan seperti inilah yang terus dikumandangkan oleh Indonesia Berseru. Tujuannya hanya satu, supaya Indonesia tidak berubah menjadi negara kaya yang kerap mengimpor kebutuhan pokok. Misalkan, mokav bisa menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, bakpao, dan cake roll. Bahkan tepung sukun bisa menjadi pengganti untuk membuat kroket. Meskipun  dibuat dari bahan tepung lokal, cemilan-cemilan ini tidak kalah lezat di banding ketika dibuat dari bahan terigu.



“Produk lokal kita tidak kalah dengan produk import, tepung-tepung lokal kita juga bisa digunakan untuk membuat panganan kelas internasional. Tapi kenapa kita harus selalu bergantung pada produk import?” ujar Program Manager Indonesia Berseru, Ida Ronauli dalam acara Bincang Sore, Locavore 100% Local Food yang diselenggarakan di Tobucil & Klabs, awal Januari lalu.

Ida juga berpandangan, berbagai macam tepung asli Indonesia juga lebih memiliki keunggulan, yakni  ramah terhadap tubuh. Artinya, kandungan karbohidratnya lebih rendah ketimbang terigu lantaran terbuat dari umbi-umbian.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Bukan hanya terigu saja yang memungkinkan untuk diganti dengan tepung lokal. Makanan pokok masyarakat Indonesia juga perlu diubah, dari nasi ke umbi-umbian.  Selain lebih menyehatkan, umbi-umbian juga tahan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Iklim di Indonesia kan mulai berubah drastis. Kemaraunya lebih panjang dan sangat panas, sementara ketika hujan, curahnya makin tinggi. Dan hanya umbi-umbian yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca seperti itu,” tambah Ida.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Hanya saja mengubah cita rasa impor ke cita rasa lokal, bukanlah hal yang mudah. Pola pikir masyarakat Indonesia sudah terlanjur dimanjakan dengan berbagai prodak import demi tujuan kepraktisan. Masyarakat kekinian juga kerap mengganggap, makanan dari umbi-umbian berada pada kasta terendah. “Anak-anak sekarang memiliki pemikiran sendiri, bahwa umbi-umbian adalah makanan kelas rendah yang biasa dimakan supir dan pembantu di rumahnya. Nah, ini juga jadi tantangan untuk mengubah pola pikir mereka, bahwa sebenarnya umbi lebih baik ketimbang kentang goreng,” tegas Ida. (Mega/TH)


Locavore = orang yang mengkonsumsi produk-produk lokal.

Baca tulisan terkait lainnya:
Google Twitter FaceBook

Locavore: Workshop Buku Resep Kolektif 'Menjaga Pengetahuan, Mewariskan Rasa'

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Salah satu yang menjadi kegiatan di acara ini adalah workshop book binding membuat buku kumpulan resep bersama vitarlenology.  

Setiap peserta membawa minimal satu resep masakan favoritnya dan menuliskannya kembali dengan tulisan tangan mereka masing-masing dalam secarik kertas. Kemudian lembaran-lembaran resep tulisan tangan ini dipindai, di susun lalu di cetak dengan mesin printer dan setelah itu di jilid dengan teknik 'jahit sederhana'. Setiap peserta  yang berpartisipasi dalam workshop ini, membawa satu salinan buku kumpulan resep.

Selama ini, kita seringkali menerima begitu saja makanan yang tersaji di atas meja, tanpa berpikir bagaimana makanan itu tersaji. Dan seringkali pengalaman rasa itu hilang ketika orang yang memasaknya sudah tidak ada lagi. Dengan mencatat resepnya dan pengetahuan rasa itu bisa terjaga dan di teruskan  dari generasi ke generasi.

Kembali ke bahan pangan lokal juga berarti kembali mengumpulkan dan mencatat kembali rasa dan ingatan yang 'lokal' itu, mengumpulkan dan mencatat pengetahuannya. Dan itu bisa dimulai dari apa yang biasa dimakan di rumah, bisa dimulai dari mengumpulkan dan mencatat resep-resep masakan rumah. Yuk..! (TH)

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe


Google Twitter FaceBook

Locavore: Resep-Resep Cemilan Dari Tepung Mokav dan Tepung Ketan Hitam

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Di acara tersebut hidangan-hidangan cemilan buatan Relsa Kukis dari bahan tepung non gandum (mokav, sukun, tapioka, beras) tersaji dan menemani diskusi sore yang berlangsung hangat dan akrab. Yang belum sempat mengicipi cemilan-cemilan lezat ini, Kenti Prahmanti dari Relsa Kukis berbagi resep cara membuat hidangan-hidangan ini. Selamat Mencoba :)


Brownies Mokav

Bahan:
125 gr  Palm Suiker/gula palem
75   gr  Gula Pasir
250 gr  Dark Cooking Chocolate/DCC  (cincang)
125 gr  Butter/Margarine
250 gr  Tepung Mokav (tepung berbahan singkong yang sudah di olah)
125 gr  Minyak Sayur
25   gr  Coklat bubuk
4  butir Telur
Almond/kenari/oreo/kacang mete secukupnya

Cara Membuat:
1. Masukan Dark Cooking Chocolate + butter dalam mangkok kaca, taruh di atas panci yang berisi air. Panaskan hingga lumer.
2. Dalam mangkuk terpisah, kocok gula palem + gula pasir + telur. Kocok kurang lebih 10 menit (Jangan sampai putih dan kental).
3. Masukan DCC yang sudah di lumerkan ke dalam mangkuk kocokan gula palem, gula pasir dan telur. Lalu kocok sampai merata.
4. Setelah itu tambahkan tepung mokav + coklat bubuk, bergatian dengan minyak sayur. Kocok sampai tercampur rata. 
5. Masukan ke dalam loyang yang telah diolesi mentega. 
6. Taburi adonan yang sudah siap di panggang dengan almond/kenari/oreo/kacang mete.
7. Panggang pada suhu 180 derajat celsius hingga matang, kurang lebih 40 menit.

Hasil adonan ini untuk 2 loyang brownies.

---

Bolu Gulung Mokav

Bahan:
5  butir telur
3  kuning telur
50 gr Gula pasir
75 gr Tepung mokav
125 gr mentega di cairkan
1 sendok teh SP (bisa diperoleh di toko bahan kue)

Cara membuat:
1. Kocok telur + gula pasir + tepung mokav + SP menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi hingga putih dan kental.
2. Masukan mentega yang telah dicairkan, aduk rata.
3. Siapkan kertas roti dan olesi dengan minyak loyang atau mentega
4. Masukan adonan ke dalam loyang 30 x 30 cm yang telah di lapisi oleh kertas roti.
5. Panggang pada suhu 180 derajat celsius hingga adonan matang berwarna coklat kekuningan. Kurang lebih 50 menit.
6. Angkat  adonan, dinginkan.
7. Siapkan kertas roti lain. Balikan adonan di atas kertas roti lain. Lepaskan kertas roti yang menempel pada adonan yang telah matang. Olesi adonan tersebut dengan selai atau krim, lalu gulung .
---

Risoles Kornet Keju

Bahan:
300 gr tepung beras + 150 gr tepung tapioka + 50 gr tepung maizena  --> campur lalu di ayak jadi satu.
4 butir telur
400 cc susu cair
2 Sendok Makan Mentega dicairkan
garam secukupnya
250 gr tepung panir

Isi:
1 kaleng kornet
100 gr keju ceddar parut

Cara Membuat:
1. Aduk campuran tepung + garam secukupnya, aduk tambahkan susu cair sedikit demi sedikit. Aduk menggunakan pengaduk adonan 'ballon whisk' hingga rata. 
2. Tambahkan telur. Aduk rata.
3. Masukkan mentega cair, aduk rata.
4. Panaskan pan, olesi minyak/mentega, masukkan adonan satu sendok sayur, ratakan hingga terbentuk kulit risoles. 
5. Setelah mendapatkan kulit risoles isi dengan satu sendok teh kornet dan keju parut, lipat lalu gulung. 
6. Celupkan risoles ke dalam adonan pencelup yang berupa kocokan telur, lalu masukan ke tepung panir.
7. Goreng dengan menggunakan minyak panas.

----

Cupcake Ketan Hitam

Bahan:
6 Butir Telur
250 gr Gula pasir
1 sendok makan SP
200 gr tepung ketan hitam + 50 gr Maizena  --> campurkan
250 gr butter di lelehkan.

Cara Membuat:
1. Kocok telur + gula + Sp hingga putih dan kental.
2. Masukkan campuran tepung ketan hitam + maizena, aduk.
3. Tambahkan butter cair, aduk hingga rata.
4. Siapkan loyang cupcake, beri paper cup.
5. Isi hingga 3/4 bagian saja.
6. Panggang pada suhu 160 derajat celsius (kurang lebih 30 menit).
7. Hidangkan. 

Anda juga bisa menambahkan krim pada bagian atas cupcake.

Butter Cream

Bahan:
125 gr mentega putih tawar
125 gr mentega putih asin
1/2 kaleng susu kental manis

Cara Membuat:
1. Kocok semua bahan hingga putih dan mengembang.
2. Masukkan ke dalam piping bag, dan keluarkan  di atas cupcake ketan hitam.
3. Taburi krim dengan sprinkle sugar atau cerry atau strawbery sesuai selera.


Baca tulisan terkait lainnya: 

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Google Twitter FaceBook

Locavore: Fakta-fakta Seputar Padi

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.

Padi Sumber kebudayaan kita sebagai makanan pokok dan mendapatkan penghormatan khusus dalam banyak kebudayaan di Indonesia. Sayangnya nilai ini perlahan menghilang saat pertanian padi moderen di terapkan. 

Kisah tentang padi dan nasi yang secara khusus dipaparkan dalam satu wawacan tersendiri menggambarkan bagaimana padi sangat terhormat bagi masyarakat Sunda. 

Asal-usul padi yang berkaitan degnan Nyai Sri Pohaci atau Nyai Asri, Dewi yang dipercaya menciptakan padi di dunia. 

Ada Sulanjana, yang mengasihi orang Sunda dengan cara melindungi padi dari hama. Sementara Semar rela turun ke bumi untuk mengajarkan manusia bagaimana menanak nasi, setelah Nawang Wulan dalam kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari pergi tanpa memberi tahu manusia bagaimana cara menanak nasi. 

Ritual-ritual ini kian hilang kecuali masih dijalankan oleh penganut kepercayaan Sunda Lama (Sunda Wiwitan). Upacara penghormatan Dewi Sri yang paling tekenal pada Masyarakat Sunda adalah Seren Taun di Kasepuhan. 

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Dewi Sri selalu dikaitkan dengan Dewi Lakshmi dalam Agama Hindu. Sejumlah desa di Yogjakarta masih menggelar upacara Wiwitan, upacara sebelum menanam bibit di sawah. 

Sementara bersih desa atau Majemukan dilakukan setelah panen raya, sebagai ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri yang sudah menjaga keamanan petani, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan berkah melimpah. 

Di Bali sedikitnya ada 27 nama upacara terkait penanaman padi. Setiap upacara berhubungan degnan dewa tertentu, seusuai tahap demi tahap. Pada fase Biyukukung, doa dipanjatkan kepada Bharata Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan atau Nedunang Pari restu diminta dari Bhatari Sri. Saat ada hama, diusir dengan mantra dan sesajennya. 

Selain dalam bentuk upacara penghormatan pada padi ditunjukan dalam berbagai pamali. Di antaranya tabu untuk membuang-buang beras atau nasi. Beberapa orang tua masih mengajarkan anaknya agar tidak membuang nasi karena nasi akan menangis sedih, sebagai personifikasi dari Dewi Sri. Ada larangan untuk bersiul di dekat lumbung karena akan membuat takut sang dewi. 

Masyarakat Dayak Loksado menerapkan bahuma. menanam padi gunung secara bersama dalam siklus waktu 3-12 tahun.  Bahuma merupakan cara berkomunikasi dengan pencipta. 

Di Bima, NTB ada tradisi sagele, gotong royong menanam padi, sehingga pekerjaan menjadi ringan dan hemat biaya. 

Konsumsi sehari-hari  Orang Indonesia menghabiskan rata-rata 113 kg beras per tahun (teringgi di dunia) Malaysia 90kg/orang/tahun. Thailand 70 kg/orang/tahun. Jepang 50 kg/orang/tahun. Rata-rata dunia 60kg/orang/tahun.

Menghasilkan padi tidak mudah lagi. Tinggal 14,1 juta rumah tangga petani padi. Jumlah ini berkurang sebanyak 60.000 kepala keluarga selama 10 tahun terakhir. Di desa umur petani di atas 35 tahun. Angkatan muda memilih meninggalkan sawah karena dianggap tidak dapat memberikan penghasilan yang layak. 

Penurunan produksi di Pulau jawa karena terjadi penurunan luas wilayah produksi, serangan hama (wereng, tikus), cuaca yang semakin tidak pasti. 

Produksi Gabah kering giling 71,29 juta ton. Impor beras tahun 2013 472 ribu ton senilai 246 juta dolar = Rp. 2,7 Triliun.


Beberapa jenis padi lokal Jawa
Pandan wangi (unggulan Cianjur)
Banyumas: Hitam, Gandamana, Kidangsari, Konyal, Cere Unggul, Cere Kuning, Sari Wangi, Pandan Wangi, Mentik Wangi, Mendali, Sri Wulan, Wangi Lokal.
Bantul: gajah rante, mampu menghasilkan panen 9,6 ton/ha (April 2014) tertinggi di kawasannya)
Banyuwangi: Genjah Arum (Genjah Arum dan Sri Kuning), Ho’ing Jaher, Untup (untup Ruyung, Untup Jelun); Pelang (Pelang Cemeng, Pelang Abang dan Pelang Gini). 

Beberapa Jenis Padi Lokal Kalimantan
Kalimantan terkenal dengan sistem ladang berpindah yang disertai dengan pengetahuan trasidional. Kini selain menghadapi tantangan lahan yang semakin berkurang akibat perkebunan kelapa sawit dan tambang, dampak perubahan iklim kian menyulitkan mereka bertanam padi. 

Kalimantan Barat
memiliki 100 varietas padi lokal dibudidayakan secara turun temurun oleh petani di Kalbar, Sirendah/seredah, Beras Hitam, Pulut (ketan), Beras Merah, Beliah Seluang.

Kalimantan Timur:
Mayas, Adan.

Kalimantan Selatan:
Beras Unus dikenal masyarakat Banjar seabagai satu-satunya beras berkualitas tinggi. 

Kalimantan Tengah
Piasmi dengan keunggulan berumur genjah atau pendek sekitar 100 hari sudah bisa dipanen. 

Beberapa Jenis Padi Lokal Sulawesi
Pulau Sulawesi khususnya  Sulawesi Selatan merupakan lumbung beras Indonesia. 

Beras Lokal: Kamba mete, ketan hitam, lamala Banggai, Kamba yang wangi dan pulen (Lore Lindu, Sulteng). Pare Kaloko, Pare Bulan Pare Mandi, pare tingke, Pare Baea Bonga, Pare Lontong dan Pare Battan (Sulawesi Barat)

Padi gogo Sulawesi Tenggara yang tahan kering: Paebiukolopua, Paebiu Sitoro, Paebiu Tamalaki, Paebiu Angata, Bul0-bulo, Apolo, Wagamba, Sala Bali, Eangko’ito, Wakawondu, Wamengkale, Wangkariri, Ereke-1, X-Guali, Celerang, Y-Bungi, Z-Lapodidi. 

Beberapa jenis padi lokal NTT
Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai propinsi jagung dan beragam umbi-umbian. Tetapi beberapa wilayah seperti Lembor, Manggarai di Pulau Flores, Sumba Timur, Sumba Barat Daya dan Rote Ndao merupakan wilayah penghasil padi. Kawasan lainnya di NTT cocok untuk menanam padi gogo yang tahan kering. 

Padi Kodi, padi Gogo dari Sumba Barat, sudah dipas menjadi varietas unggulan nasional. 

Beras Hitam: Aen Metan. Aen Metan lebih enak dan lebih harum. Hare Kwa yang berumur pendek, Wajolaka. 

Beras kita bukan hanya putih saja. Kini masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi beras yang puth bening/transparan. Hal ini merupakan hasil dari penjajahan yang menyatakan putih itu lebih unggul, serta perdagangan beras yang mengikis habis bagian kulit ari agar beras lebih tahan lama. Tidak heran, saat ini kerap dilakukan penambahan bahan pemutih kimia yang berbahaya pada beras agar tampilan beras lebih berkilau. 

Beras putih pun bervariasi. Ada yang putih bening, ada yang putih susu. Saat kulit arinya tidak disosoh, beras putih dikenal sebagai beras pecah kulit, atau sebagian orang mengenalnya sebagai Brown Rice. Kulit ari beras (bekatul) merupakan sumber vitamin B15 terbaik.

Beras Merah, manfaat yang berlimpah. Varian dari coklat kemerahan, coklat muda, beras merah memiliki gen yang memproduksi antosianin pada lapisan uar beras (aleuron) yang merukan sumber warna merah. Antosiamim merupakan antioksidan yang dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, memperiki kerusakan sel hati (hepatitis dan sirosis), memperlambat penuaan. Kandungan serat lebih tinggi dari beras putih. Sementara kadar gulanya lebih rendah. 

Beras Hitam:
Beras para raja, beras terlarang warna hitam atau keunguan pada beras terjadi karena antosianin yang tinggi (paling tinggi diantara beras lainnya) lebih sedikit gula dan lebih banyak serat serta zat antioksidan lain (vitamin E). Tinggi mineral untuk menanggulangi gizi buruk. 

Bekatul merupakan lapisan sel terluar yang kaya gizi dan bagian terdalam dari sekam. Pada beras yang ditumbuk seara tradisional bekatul menyatu dengan beras menyebabkan warna beras kecoklatan. Pada beras merah dan hitam, bekatul tetap ada. Proses pemisahan bekatul dari bagian beras lainnya dikenal sebagai penyosohan (poslishing) dilakukan untuk memperpanjang masa penyimpanan beras sekaligus membuatnya berwarna putih. 

Kandungan gizi bekatul: Vitamin B1 (tiamin) yang dapat mencegah penyakit beri-beri. Bekatul kaya serat pangan, pati, protein serta mineral. Vitamin B15 berguna untuk mengoptimalkan fungsi organ-organ tubuh. Dulu masyarakat di pedesaan membuat bekatul menjadi dodol dan menjadi cemilan sehari-hari. Kini bekatul banyak dipasarkan sebagai makanan tambahan bagi kesehatan. 


Oryza Sativa L (nama latin padi) yang ditanam di Indonesia memiliki dua subspesies (golongan) yaitu Indica (padi bulu) dan sinica (padi cere)

Padi cere: produktivitasnya tinggi, tahan musim kering dan dapat ditanah yang kurang subur, mudah rebah. 
Padi Bulu/berambut ada ekor pada gabahnya, kualitas tinggi 

Jenis padi berdasarkan tempat tumbuhnya:
Padi Kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi/kering.
Padi Sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan dan Padi rawa yang membutuhkan sistem pengairan pasang surut.

Keunggulan Padi Lokal + Sistem penanaman yang ramah lingkungan:
Kedaulatan pangan diwujudkan petani dengan benih lokal dan penerapan teknologi yang ramah lingkungan salah satunya SRI (Sytem of Rice Intensification). 

SRI merupakan sistem penanaman padi yang memadukan tiga faktor pertumbuhan agar padi sehat dan mencapai produktivitas maksimal: 
-maksimalisasi jumlah anakan, 
-pertumbuhaan akar
-dan suplai unsur hara, air, oksigen.

Para petani hebat:

Joharipin (38) Indramayu berhasil membuat 60 varietas baru. Salah satunya Bongong. Menghasilkan padi 11.3 ton per ha lebih tinggi dari benih hibrida yang rata-rata 10 ton perhectare.

SusatyoKetua APPOLI  bersama kelompoknya menerapkan sistem Internal Control System (ICS) sistem yang harus dipatuhi dalam menghasilkan beras organik. Tahun lalu beras yang dihasilkan oleh Susatyo berhasil menembus pasar Eropa. 

Mbah Suko (almarhum) dan Mbah Gatot: petani-petani lokal yang mengumpulkan benih padi lokal di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Prof. Surono Danu penemu bibit padi unggul 'Sertani'



Fakta-fakta ini dikumpulkan oleh Perkumpulan Indonesia Berseru /TH

Baca Tulisan terkait:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Google Twitter FaceBook

Locavore: Fakta-fakta Seputar Sagu

Sagu (Metroxylon sp.) diduga berasal dari Maluku dan Papua. Di wilayah Indonesia Timur, terutama di Maluku dan Irian Jaya menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk di wilayah pesirir. 

Nama lokal sagu diberbagi wilayah Indoneisa:
Kirai di Jawa Barat
Bulung, Kresula, Bulu, Rembulung atau Resula di Jawa Tengah
Lapia atau Napia di Ambon
Tumba di Gorontalo
Pagalu atau Tabaro di Toraja
Rambiam atau Rabi di Kepulauan Aru

51,3% Indonesia memiliki areal tanaman sagu terluas di dunia: Sekitar 1,2 juta hektar. 

Sebaran hutan sagu alam: Papua (771,716 ha, sekitar 85% dari luas hutan Sagu nasional).
Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. 

Luas hutan sagu terus berkurang.  Sagu paling baik ditanam pada wilayah pasang surut dengan air tawar. Daerah rawa yang berair tawar, daerah rawa bergambut, daerah sepanjang aliran sungai. Dalam satu hamparan hutan sagu terdapat beragam jenis sagu dan tanaman lainnya. 
Sagu digunakan juga dalam industri perekat, industri farmasi dan bahan baku bioetanol. Pengembangan sagu yang optimal dapat menghasilkan produktivitas sekitar 6 ton per hektare. Mampu mengurangi 30 persen impor gandum nasional. 

Panen dilakukan saat pohon berumur 6-7 tahun. Tandanya ujung batang mulai membesar, disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berubah putih. Tinggi pohon 10-15  m, diameter 60-70 cm, tebal kulit luar 10 cm dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm.

Batang sagu merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang menghasilkan pati sagu.  Dalam tiap 100 gram Sagu terdapat 94 gram karbohidrat dan kalori sebesar 353 kkal, sementara beras sebesar 364 kkal per 100 gram bahan. 


Ada 20 jenis produk olahan sagu yang dikembangkan masyarakat. 
Papeda, soun dan ongol-ongol, roti, kue kering, biskuit, kerupuk, pempek, bakso dan mi, sirup bekadar fruktosa tinggi. 

Inovasi pengolahan sagu mampu menggantikan gandum, Impor gandum menjadi salah satu pemicu utama tingginya inflasi. 

Sagu digunakan juga dalam industri perekat, industri farmasi dan bahan baku bioetanol. 

Di pulau Tebing Tinggi, Riau, penanaman Sagu rakyat, terbukti dapat membantu upaya pelestarian lingkungan.  Sayangnya perusahaan yang membuat kanal di tempat itu, justru membahayakan hamparan sagu yang dikelola oleh masyarakat. 



Google Twitter FaceBook

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Ada raja tempe di Jepang, Rustono dari Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia yang memberi merek untuk produk tempe buatannya 'Rusto's Tempe'.

Jepang bersemangat menggarap tempe sejak tahun 1996, saat terjadi wabah diare akibat E-Coli O-175 yang memakan korban jiwa anak-anak. Sejak itu mereka menggarap tempe sebagai tempe bakar, tempe tempura, tempe miso, tempe steak, tempe burger dan tempe kroket.

Jepang punya buku tentang tempe 'The Book of Tempeh' ditulis William Shurtleft dan Akiko Aoujaga tentang pembuatan dan manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia terutama Jawa.

Berbagai penelitian di sejumlah negara seperti Jerman, Jepang dan Ameria Serikat berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe dengan lebih cepat, berkualitas atau memperbaiki kandungan gizi tempe. 

Universitas North Carolina, Amerika Serikat. Temuan: genestein dan fitoestrogen dalam tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Tempe dimulai di Indonesia, kemudian mendunia. Kaum vegetarian menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indoensia.

Generasi Tempe
1. Generai I seperti tempe saat ini yang kita makan sehari-hari.
2. Gerasi II baru sebatas penelitian di Indonesia: Pengembangan tempe oleh lembaga penelitian di Indonesia:
- Jus tempe (LIPI)
- Tempe yang dikalengkan untuk memperpanjang waktu simpan tempe (BPPT)
Sementara Jepang sudah mengembangkannya dalam bentuk kacang goreng tepung, karinto, abon, miso tempe/tauco.
3. Generasi III tempe dijadikan bahan bahan isolasi superoksida. Dismutase untuk mencegah penuaan dini dan penyakit degeneratif lainnya. Dikembangkan oleh Jerman.

Kepang Rhizopus atau ragi tempe yang biasa digunakan: Rhizopus Oligosporus, Rh. Oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti) atau Rh. Arhizus.

Seperti tahu telah menyelamatkan kesehatan rakyat Cina, demikian pula tempe telah menyelamatkan rakyat Jawa. 
(Dr. Onghokham di Kompas, 1 Januari 2000: 'Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia")

Tempe merupakan makanan asli Jawa yang berkembang di abad ke19. Hal ini disebabkan oleh kenaikan jumlah penduduk yang amat tinggi, hutan yang mengecil karena diubah menjadi perkebunan kolonial, paksaan menjadi kuli tanam paksa, sehingga sulit untuk berburu, memancing, berternak, sehingga makanan orang Jawa menjadi tanpa daging. Kondisi inilah yang memaksa munculnya tempe.  Penyebaran kedelai secara luas di Jawa kemungkinan besar dimulai pada abad ke 19.


Catatan tertua tentang tempe: Ensyclopeaedia van Nederlandsch Indie (1922). Mencatat tempe sebagai "kue" yang terbuat dari kacang kedelai melalui proses peragian dan merupakan makanan kerakyatan (volk's voedsel)'.

Manfaat dalam sepotong Tempe
  • Penelitian Jepang menyebutkan kandungan gizi tempe tidak kalah dari daging sapi. 
  • Protein nabati yang tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga bisa menjadi pengganti protein daging, telur maupun susu. 
  • Asam lemak esensial, antioksidan yang dapat menghambat proses penuaan
  • Isoflavon yang berfungsi sebagai anti kanker, vitamin B-12 yang tinggi, yang biasanya hanya terdapat pada sumber pangan hewani. 
  • Antibiotik alami yang dapat menghambat munculnya berbagai penyakit. Jamur Dhizipus memproduksi zat antibiotika alami untik melawan sejumlah organisme mrugikan. Zat antibiotika alami dlam tempe ini bisa jadi obat untuk disentri saat rutin dikonsumsi.
  • Mudah dicerna, baik bagi orang yang punya keseulitan mencerna makanan berportein tinggi yang berasal dari tumbuhan. Proses fermentasi tempe membuat kacang kedelai menjadi lebih lembut, karena enzim yang dihasilkan ragi sudah mencerna nutrisi di biji kedelai. 
  • Baik bagi pengidap diabetes yang kerap bermasalah dengan sumber protein hewani. Protein dan seratnya juga dapat mencegah gula darah dan menjaga kadar gula darah tetep terkontrol. 


Google Twitter FaceBook

Jumat, 31 Oktober 2014

Obat Jiwa Ala Veve’s World



Bermula dari membuat alat peraga untuk keperluannya yang dahulu beprofesi sebagai guru, ia memulai kecintaannya pada dunia craft. Baginya, handmade itu adalah obat bagi jiwa-jiwa yang kreatif.

Dari kapankah Mbak Betty memulai Veve’s World?
Awalnya Veve's World adalah blog yang isinya tentang keseharian saya dengan veve serta cerita seputar anak didik saya. Ketika saya mengajar dulu,  saya sering harus membuat alat peraga sendiri. Maklum yang diajar anak anak jadi harus kreatif. Dari situlah kecintaan craft saya dimulai. Setelah anak kedua lahir, saya iseng membuat kreasi dari sisa bahan mengajar. Ketika diupload kok dikira jualan. Dari situlah Fanspage veve's world lahir untuk memfasilitasi jualan saya.




Karya-karya apa aja nih yang dibuat Mbak Betty?
Sebagian besar terbuat dari kain felt. Mulai dari bros, gantungan kunci, sampai hiasan pensil.
Belakangan aja lagi bikin bunga - bunga dari pita tapi enggak banyak sih. Yang sering sih membuat aplikasi boneka yang saya beri nama Pururu.


Oh, ya. Menurut mbak apa hal paling inspiratif dari dunia handmade?
Handmade itu obat jiwa, hehe… Membuat atau melahirkan suatu karya bagi saya adalah cara menghargai hidup. Setiap karya yang dihasilkan dengan cinta saya percaya pasti memberikan manfaat, bukan hanya untuk yang membuatnya tapi juga bisa menginspirasi bahkan untuk yang hanya melihatnya.


Nah, kalau mbak esndiri biasanya dapat ide atau inspirasi dalam berkarya dari mana nih?
Dari mana aja. Dari film, dari komik, dari sawah, dari blogwalking, dari googling. Tapi kalau untuk Pururu saya menghindari blogwalking dan googling soalnya saya mudah terbawa..jadi kalau mau bikin Pururu. Internet haram dijamah, hehe.


Menurut Mbak hal apa sih yang enggak boleh dilupain saat kita berkarya?
Yang paling penting adalah menjadi diri sendiri. Tak bisa dipungkiri dalam berkarya pasti ada karya lain yang menjadi acuan. Tapi menjadi diri sendiri itu penting. Karya kita adalah identitas kita. Bebaskan diri dan berimajinasilah setinggi mungkin.

Mbak Betty sndiri punya mimpi apa nih dengan Veve's World
Tentunya ingin memberi manfaat untuk orang banyak, membantu orang orang di sekitar saya dengan orderan yang ada, dan kalau bisa menginspirasi siapa saja dengan-karya karya yang dibuat.

Kelebihan yang dimiliki dari setiap karya Veve’s World?
Dibuat dengan cinta. Saya berusaha sepenuh hati dalam membuat setiap karya. Passionnya pasti terlihat di setiap karya yang dibuat dengan cinta.
https://www.facebook.com/vevesworld
Google Twitter FaceBook

Senin, 13 Oktober 2014

Impresi The Circus Clown



Merajut asa dari sebuah kota kecil, The Circus Clown justru memiliki keunikan yang mungkin tak banyak dimiliki oleh orang lain. Mulai dari kegemarannya yang seringkali memanfaatkan barang-barang tidak terpakai untuk dikreasikan sampai membuat komunitas untuk saling mendukung dan membantu para crafter di tempat asalnya.

Namanya unik nan menggoda banget nih, hehe… Apa sih filosofisnya sampai diberi nama The Circus Clown?
Filosofi dari nama ini adalah, sama seperti badut sirkus, bahwa sebenarnya si badut yang kita lihat di panggung sebagai sesuatu yang 'wah' dan selalu menghibur. Sebenarnya pelakunya sendiri belum tentu lagi happy atau belum tentu sehebat itu. Selama ini yang ditampilkan di luar itu hanya sebagai kulit. Jadi karya The Circus Clown sekarang ini memang nggak mau bertujuan meng-impress semua orang. Saya ingin berkarya di TCC ini karena dorongan dari hati dan berusaha membuat pemesan ikutan senang ketika menerima hasilnya, Entah menurut orang hebat atau nggak, saya nggak peduli, hehe...

Apa aja nih karya-karya yang dibuat The Circus Clown?
Produk utamanya adalah custom notebook, yaitu buku bersampul kain. Lalu notebook cover, yaitu sampul buku. Buat kawan-kawan yang takut bukunya kotor, jadi sampulnya bisa dicuci gitu... Ada juga guest book atau buku tamu yang juga bersampul kain beraneka motif sesuai keinginan pemesan. Kemudian ada Mimimi Doll, yaitu boneka anak kecil lucu berjenis cowo dan cewe. Selain itu, produk-produk selingan seperti bros, kreasi flanel, pouch, kadang juga desain logo atau desain print untuk kebutuhan kawan-kawan crafter. Tergantung permintaan teman-teman deket aja sih, kalau ada yang minta bikinin, ya saya bikinin.


Konsep seperti apa yang ditawarkan dalam karya-karya The Circus Clown?
Konsepnya dari karya TCC adalah cute dan glamour, tapi dengan harga yang reasonable. Enggak terlalu mahal, juga enggak terlalu murah. Saya juga suka memanfaatkan barang-barang bekas dalam karya saya, karena dasarnya pelit beli bahan, hahaha…. Dari kecil juga sempat dapet julukan "pemulung" dari bapak saya. Karena kamar selalu penuh barang-barang bekas yang mau dijadikan kreasi.


Apa hal paling unik yang terdapat dalam karya-karya The Circus Clown?
Proses finishing karya TCC selalu dikerjakan oleh saya sendiri. Jadi 'taste' nya terasa. Saya sendiri enggak tau uniknya dimana, hehe. Tapi temen-temen biasanya hafal, ini hasil kreasi Saya atau bukan.

Oh ya, menurut Mbak, gimana nih cara paling ampuh untuk mempertahankan konsistensi agar bisa terus berkarya handmade?
Menurut saya konsistensi dalam berkreasi berasal dari dalam hati, kalau kita cinta terhadap sesuatu, nggak ada unsur apapun dari luar yang bisa mempengaruhinya. Bisa lebih kuat atau memudar, tapi nggak bisa dengan mudah hilang. Kalau dengan kerajinan tangan ini mulai dari tahun 2007 Saya sudah mulai serius. Pasang surut tetap ada. Tapi kalau pisah dengan craft terlalu lama, pasti rasa kangen akan segera datang, dan disitu kita kembali berkreasi lagi, aktif lagi, begitu seterusnya. Kalau sudah mulai pudar mood nge-craftnya, biasanya didongkrak dengan baca blog favorit, buka pinterest, instagram, etsy, pokoknya lihat gambar-gambar lucu yang menginspirasi. Bisa juga ngobrol sama kawan-kawan sesama crafter, buka-buka grup craft, sampai pada akhirnya panas pengen bikin kreasi juga, hehe…

Usaha kreatif seringkali diidentikkan untuk sekadar hobi belaka. Gimana nih pandangan The Circus Clown terhadap pendapat tersebut?
Sebenernya saya juga menjalankan TCC ini sekedar hobi. Suka kelabakan kalau ada pesanan. Karena usaha primer saya sebenarnya bukan di handmade ini. Tapi nggak bisa dipungkiri, pendapatan dari handmade juga lumayan banget. Bisa dijadikan lahan sumber penghasilan kalau orangnya rajin. Tapi sayangnya saya kurang rajin dan cenderung moody. Jadi ya, sekedar hobi boleh. Tapi sayang banget kalau buang-buang uang hanya karena hobi. Harusnya sebuah hobi selain menghibur, juga bisa menghasilkan. Jadi nggak rugi waktu, tenaga, dan terutama uang.


Terakhir, impian yang tengah dirajut oleh The Circus Clown?
Impian jangka panjang sebenernya ingin bikin sekolah craft. Semacam IKJ gitu deh, tapi khusus craft. Nanti ada museum alat, perpustakaan, laboratorium praktek, pameran, dan sebagainya. Kalau impian saya bersama TCC sekarang ini, cuma ingin hasil kerajinan tangan saya bisa menginspirasi banyak orang. Makin banyak yang terkena 'virus' berkreasi handmade, makin senang. Belakangan saya bersama teman-teman di Sidoarjo dan sekitarnya juga membuat perkumpulan pecinta craft, yaitu Komuter Ijo (Komunitas Crafter Sidoarjo). Jadi para crafter yang baru kenal dunia handmade, para pemula yang mau belajar, atau yang sudah mahir bisa saling tukar informasi dengan dengan cepat. Alhamdulillah sejauh ini sudah banyak crafter dan pebisnis handmade baru yang Kami munculkan dari perkumpulan ini. Masing-masing crafter dengan keterbatasannya bisa terus semangat berkarya karena banyak rekan yang mendukung. 
http://www.circusclown.info/
http://the-circusclown.blogspot.com/
http://blog.circusclown.info/
Twitter @hayouroxa
https://www.facebook.com/pages/Komuter-IJO-Komunitas-Crafter-Sidoarjo/458831064169535

(Nugraha Sugiarta)
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails