2.6.15

Lebih Artistik Dengan Teknik Cetak Manual


Empat belas orang berkumpul di meja Tobucil, terbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok duduk berhimpitan, sementara pandangan mata tertuju pada dua mesin yang mirip dengan mesin giling kue. Bukan kue yang mereka giling melainkan kertas.

Para peserta workshop letter press di Tobucil itu dengan sabar menunggu giliran untuk mencoba mencetak kertas dengan cara kuno. Sambil menunggu, mereka ikut memperhatikan peserta lain menggunakan berbagai plat yang disediakan oleh Tarlen Handayani dan Suryanti sebagai fasilitator.

Saat kertas mulai terbentuk sesuai dengan plat yang mereka gunakan, antusiasme peserta pun makin meningkat. Mereka kembali mencoba mencetak dengan plat lain. Mereka juga berimprovisasi dengan tinta yang digunakan. Beberapa peserta bahkan mencoba mencetak kertas tanpa tinta (emboss).

Mencetak kertas dengan mesin letter press ini cukup membantu para crafter. Terutama para penyuka paper crafting. Bagi Suryanti yang akrab dipanggil Isur, mencetak kertas dengan cara kuno itu membawa kepuasan tersendiri. Terlebih hasilnya pun lebih artistik ketimbang mesin cetak digital.

“ Dengan letter press ini, kita juga bisa berkreasi sendiri sesuai dengan selera,” katanya.
Pada awal kemunculannya, mesin letter press ini berupa rangkaian dari besi kokoh. Ukurannya sedikit lebih besar dari mesih jahit antik. Selain kurang praktis, butuh tenaga ekstra untuk menggunakannya. 

Kelebihannya, mesin letter press besar ini lebih mudah digunakan untuk mencetak dalam jumlah banyak.
Seiring dengan perkembangan jaman, mesin letter press pun ikut bertransformasi. Bentuknya terlihat lebih manis sesuai dengan ukurannya yang mini. Tentunya hal tersebut membuat para crafter lebih gembira karena mereka bisa membawanya dengan mudah dan menyalurkan ide-idenya di manapun mereka suka. Meskipun begitu, mesin portable yang juga bisa digunakan untuk membuat berbagai jenis kartu itu tidak bisa digunakan untuk mencetak dalam jumlah banyak.

Berkreasi dengan mesin cetak mini ini membutuhkan berbagai alat pendukung. Pendukung utamanya tentu saja kertas. Isur menyarankan untuk menggunakan kertas yang beratnya di atas 200  gram. Alat lain yang dibutuhkan untuk mencetak adalah tinta dengan aneka warna serta plat dengan berbagai bentuk.
“Biasanya toko yang menyediakan peralatan membuat scarpbook juga menyediakan plat-plat dari rubber. Tapi kalau mau yang berbeda, kita bisa memesannya di tempat percetakan,” ujarnya.

Isur yang semula membeli mesin letter press portable hanya untuk kebutuhan pribadi, kini ikut memasarkannya di toko Scrappetizer Craft & Craft miliknya di Jalan Ciumbuleuit. Dia berharap, teman-teman yang memiliki hobi serupa dengannya bisa berkreasi lebih banyak dengan teknik cetak kuno dari tempatnya.

Salah satu peserta workshop yang terpikat dengan teknik cetak kuno ini adalah Sirom. Ketertarikan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional itu pada letter press sudah terjadi sejak dirinya membeli note book Vitarlenology.

“Awalnya saya beli note book yang di print. Waktu itu saya beli di Kineruku, kemudian saya ke Tobucil dan makin tertarik setelah melihat note book yang menggunakan letter press,” ujarnya.
Saat Tobucil membuka workshop letter press, Sirom pun langsung mendaftar. Hasilnya, dia terpikir untuk membuat kartu undangan sendiri. (megha)


Google Twitter FaceBook

21.1.15

Locavore: Jika Bisa Makan Yang Lokal, Kenapa Harus Makan Yang Impor?

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Siapa yang mengira 'Mocav' adalah nama jenis tepung singkong. Dari namanya, orang bisa dengan mudah mengira ini sejenis nama makanan impor. Selama ini, tidak banyak orang menggunakan jenis tepung lokal ini untuk bahan olahan makanan.  Padahal mokav adalah bahan olahan pangan asli Indonesia selain tepung sukun, gayong atau sagu.

Selama ini tepung sebagai bahan pangan, di dominasi oleh tepung terigu yang berbahan gandum yang di impor dari luar negeri.  “Banyak kuliner yang booming di Indonesia, tetapi bahan dasarnya impor. Bahan-bahan pangan lokal kini harus bersaing ketat dengan bahan import, padahal negara ini kaya. Isu pangan ini sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia yang harus diperjuangkan,” jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Indonesia Berseru dan juga penggiat Aliansi Untuk Desa Sejahtera. 

Berdasarkan data BPS pada 2003 hingga 2013, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar 10 persen atau sekitar 130 triliun rupiah dari APBN hanya untuk mengimport kebutuhan pangan seperti terigu, beras, gandum, jagung. Tejo Wahyu Jatmiko berpendapat isu pangan menjadi satu masalah yang perlu dipecahkan. Menurutnya,  jika tidak segera bertindak, maka Indonesia akan berubah dari negara penghasil menjadi negara pengimpor.

Mengubah pola makan seperti inilah yang terus dikumandangkan oleh Indonesia Berseru. Tujuannya hanya satu, supaya Indonesia tidak berubah menjadi negara kaya yang kerap mengimpor kebutuhan pokok. Misalkan, mokav bisa menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, bakpao, dan cake roll. Bahkan tepung sukun bisa menjadi pengganti untuk membuat kroket. Meskipun  dibuat dari bahan tepung lokal, cemilan-cemilan ini tidak kalah lezat di banding ketika dibuat dari bahan terigu.



“Produk lokal kita tidak kalah dengan produk import, tepung-tepung lokal kita juga bisa digunakan untuk membuat panganan kelas internasional. Tapi kenapa kita harus selalu bergantung pada produk import?” ujar Program Manager Indonesia Berseru, Ida Ronauli dalam acara Bincang Sore, Locavore 100% Local Food yang diselenggarakan di Tobucil & Klabs, awal Januari lalu.

Ida juga berpandangan, berbagai macam tepung asli Indonesia juga lebih memiliki keunggulan, yakni  ramah terhadap tubuh. Artinya, kandungan karbohidratnya lebih rendah ketimbang terigu lantaran terbuat dari umbi-umbian.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Bukan hanya terigu saja yang memungkinkan untuk diganti dengan tepung lokal. Makanan pokok masyarakat Indonesia juga perlu diubah, dari nasi ke umbi-umbian.  Selain lebih menyehatkan, umbi-umbian juga tahan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Iklim di Indonesia kan mulai berubah drastis. Kemaraunya lebih panjang dan sangat panas, sementara ketika hujan, curahnya makin tinggi. Dan hanya umbi-umbian yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca seperti itu,” tambah Ida.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Hanya saja mengubah cita rasa impor ke cita rasa lokal, bukanlah hal yang mudah. Pola pikir masyarakat Indonesia sudah terlanjur dimanjakan dengan berbagai prodak import demi tujuan kepraktisan. Masyarakat kekinian juga kerap mengganggap, makanan dari umbi-umbian berada pada kasta terendah. “Anak-anak sekarang memiliki pemikiran sendiri, bahwa umbi-umbian adalah makanan kelas rendah yang biasa dimakan supir dan pembantu di rumahnya. Nah, ini juga jadi tantangan untuk mengubah pola pikir mereka, bahwa sebenarnya umbi lebih baik ketimbang kentang goreng,” tegas Ida. (Mega/TH)


Locavore = orang yang mengkonsumsi produk-produk lokal.

Baca tulisan terkait lainnya:
Google Twitter FaceBook

Locavore: Workshop Buku Resep Kolektif 'Menjaga Pengetahuan, Mewariskan Rasa'

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Salah satu yang menjadi kegiatan di acara ini adalah workshop book binding membuat buku kumpulan resep bersama vitarlenology.  

Setiap peserta membawa minimal satu resep masakan favoritnya dan menuliskannya kembali dengan tulisan tangan mereka masing-masing dalam secarik kertas. Kemudian lembaran-lembaran resep tulisan tangan ini dipindai, di susun lalu di cetak dengan mesin printer dan setelah itu di jilid dengan teknik 'jahit sederhana'. Setiap peserta  yang berpartisipasi dalam workshop ini, membawa satu salinan buku kumpulan resep.

Selama ini, kita seringkali menerima begitu saja makanan yang tersaji di atas meja, tanpa berpikir bagaimana makanan itu tersaji. Dan seringkali pengalaman rasa itu hilang ketika orang yang memasaknya sudah tidak ada lagi. Dengan mencatat resepnya dan pengetahuan rasa itu bisa terjaga dan di teruskan  dari generasi ke generasi.

Kembali ke bahan pangan lokal juga berarti kembali mengumpulkan dan mencatat kembali rasa dan ingatan yang 'lokal' itu, mengumpulkan dan mencatat pengetahuannya. Dan itu bisa dimulai dari apa yang biasa dimakan di rumah, bisa dimulai dari mengumpulkan dan mencatat resep-resep masakan rumah. Yuk..! (TH)

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe


Google Twitter FaceBook

Locavore: Resep-Resep Cemilan Dari Tepung Mokav dan Tepung Ketan Hitam

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Di acara tersebut hidangan-hidangan cemilan buatan Relsa Kukis dari bahan tepung non gandum (mokav, sukun, tapioka, beras) tersaji dan menemani diskusi sore yang berlangsung hangat dan akrab. Yang belum sempat mengicipi cemilan-cemilan lezat ini, Kenti Prahmanti dari Relsa Kukis berbagi resep cara membuat hidangan-hidangan ini. Selamat Mencoba :)


Brownies Mokav

Bahan:
125 gr  Palm Suiker/gula palem
75   gr  Gula Pasir
250 gr  Dark Cooking Chocolate/DCC  (cincang)
125 gr  Butter/Margarine
250 gr  Tepung Mokav (tepung berbahan singkong yang sudah di olah)
125 gr  Minyak Sayur
25   gr  Coklat bubuk
4  butir Telur
Almond/kenari/oreo/kacang mete secukupnya

Cara Membuat:
1. Masukan Dark Cooking Chocolate + butter dalam mangkok kaca, taruh di atas panci yang berisi air. Panaskan hingga lumer.
2. Dalam mangkuk terpisah, kocok gula palem + gula pasir + telur. Kocok kurang lebih 10 menit (Jangan sampai putih dan kental).
3. Masukan DCC yang sudah di lumerkan ke dalam mangkuk kocokan gula palem, gula pasir dan telur. Lalu kocok sampai merata.
4. Setelah itu tambahkan tepung mokav + coklat bubuk, bergatian dengan minyak sayur. Kocok sampai tercampur rata. 
5. Masukan ke dalam loyang yang telah diolesi mentega. 
6. Taburi adonan yang sudah siap di panggang dengan almond/kenari/oreo/kacang mete.
7. Panggang pada suhu 180 derajat celsius hingga matang, kurang lebih 40 menit.

Hasil adonan ini untuk 2 loyang brownies.

---

Bolu Gulung Mokav

Bahan:
5  butir telur
3  kuning telur
50 gr Gula pasir
75 gr Tepung mokav
125 gr mentega di cairkan
1 sendok teh SP (bisa diperoleh di toko bahan kue)

Cara membuat:
1. Kocok telur + gula pasir + tepung mokav + SP menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi hingga putih dan kental.
2. Masukan mentega yang telah dicairkan, aduk rata.
3. Siapkan kertas roti dan olesi dengan minyak loyang atau mentega
4. Masukan adonan ke dalam loyang 30 x 30 cm yang telah di lapisi oleh kertas roti.
5. Panggang pada suhu 180 derajat celsius hingga adonan matang berwarna coklat kekuningan. Kurang lebih 50 menit.
6. Angkat  adonan, dinginkan.
7. Siapkan kertas roti lain. Balikan adonan di atas kertas roti lain. Lepaskan kertas roti yang menempel pada adonan yang telah matang. Olesi adonan tersebut dengan selai atau krim, lalu gulung .
---

Risoles Kornet Keju

Bahan:
300 gr tepung beras + 150 gr tepung tapioka + 50 gr tepung maizena  --> campur lalu di ayak jadi satu.
4 butir telur
400 cc susu cair
2 Sendok Makan Mentega dicairkan
garam secukupnya
250 gr tepung panir

Isi:
1 kaleng kornet
100 gr keju ceddar parut

Cara Membuat:
1. Aduk campuran tepung + garam secukupnya, aduk tambahkan susu cair sedikit demi sedikit. Aduk menggunakan pengaduk adonan 'ballon whisk' hingga rata. 
2. Tambahkan telur. Aduk rata.
3. Masukkan mentega cair, aduk rata.
4. Panaskan pan, olesi minyak/mentega, masukkan adonan satu sendok sayur, ratakan hingga terbentuk kulit risoles. 
5. Setelah mendapatkan kulit risoles isi dengan satu sendok teh kornet dan keju parut, lipat lalu gulung. 
6. Celupkan risoles ke dalam adonan pencelup yang berupa kocokan telur, lalu masukan ke tepung panir.
7. Goreng dengan menggunakan minyak panas.

----

Cupcake Ketan Hitam

Bahan:
6 Butir Telur
250 gr Gula pasir
1 sendok makan SP
200 gr tepung ketan hitam + 50 gr Maizena  --> campurkan
250 gr butter di lelehkan.

Cara Membuat:
1. Kocok telur + gula + Sp hingga putih dan kental.
2. Masukkan campuran tepung ketan hitam + maizena, aduk.
3. Tambahkan butter cair, aduk hingga rata.
4. Siapkan loyang cupcake, beri paper cup.
5. Isi hingga 3/4 bagian saja.
6. Panggang pada suhu 160 derajat celsius (kurang lebih 30 menit).
7. Hidangkan. 

Anda juga bisa menambahkan krim pada bagian atas cupcake.

Butter Cream

Bahan:
125 gr mentega putih tawar
125 gr mentega putih asin
1/2 kaleng susu kental manis

Cara Membuat:
1. Kocok semua bahan hingga putih dan mengembang.
2. Masukkan ke dalam piping bag, dan keluarkan  di atas cupcake ketan hitam.
3. Taburi krim dengan sprinkle sugar atau cerry atau strawbery sesuai selera.


Baca tulisan terkait lainnya: 

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Google Twitter FaceBook

Locavore: Fakta-fakta Seputar Padi

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.

Padi Sumber kebudayaan kita sebagai makanan pokok dan mendapatkan penghormatan khusus dalam banyak kebudayaan di Indonesia. Sayangnya nilai ini perlahan menghilang saat pertanian padi moderen di terapkan. 

Kisah tentang padi dan nasi yang secara khusus dipaparkan dalam satu wawacan tersendiri menggambarkan bagaimana padi sangat terhormat bagi masyarakat Sunda. 

Asal-usul padi yang berkaitan degnan Nyai Sri Pohaci atau Nyai Asri, Dewi yang dipercaya menciptakan padi di dunia. 

Ada Sulanjana, yang mengasihi orang Sunda dengan cara melindungi padi dari hama. Sementara Semar rela turun ke bumi untuk mengajarkan manusia bagaimana menanak nasi, setelah Nawang Wulan dalam kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari pergi tanpa memberi tahu manusia bagaimana cara menanak nasi. 

Ritual-ritual ini kian hilang kecuali masih dijalankan oleh penganut kepercayaan Sunda Lama (Sunda Wiwitan). Upacara penghormatan Dewi Sri yang paling tekenal pada Masyarakat Sunda adalah Seren Taun di Kasepuhan. 

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Dewi Sri selalu dikaitkan dengan Dewi Lakshmi dalam Agama Hindu. Sejumlah desa di Yogjakarta masih menggelar upacara Wiwitan, upacara sebelum menanam bibit di sawah. 

Sementara bersih desa atau Majemukan dilakukan setelah panen raya, sebagai ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri yang sudah menjaga keamanan petani, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan berkah melimpah. 

Di Bali sedikitnya ada 27 nama upacara terkait penanaman padi. Setiap upacara berhubungan degnan dewa tertentu, seusuai tahap demi tahap. Pada fase Biyukukung, doa dipanjatkan kepada Bharata Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan atau Nedunang Pari restu diminta dari Bhatari Sri. Saat ada hama, diusir dengan mantra dan sesajennya. 

Selain dalam bentuk upacara penghormatan pada padi ditunjukan dalam berbagai pamali. Di antaranya tabu untuk membuang-buang beras atau nasi. Beberapa orang tua masih mengajarkan anaknya agar tidak membuang nasi karena nasi akan menangis sedih, sebagai personifikasi dari Dewi Sri. Ada larangan untuk bersiul di dekat lumbung karena akan membuat takut sang dewi. 

Masyarakat Dayak Loksado menerapkan bahuma. menanam padi gunung secara bersama dalam siklus waktu 3-12 tahun.  Bahuma merupakan cara berkomunikasi dengan pencipta. 

Di Bima, NTB ada tradisi sagele, gotong royong menanam padi, sehingga pekerjaan menjadi ringan dan hemat biaya. 

Konsumsi sehari-hari  Orang Indonesia menghabiskan rata-rata 113 kg beras per tahun (teringgi di dunia) Malaysia 90kg/orang/tahun. Thailand 70 kg/orang/tahun. Jepang 50 kg/orang/tahun. Rata-rata dunia 60kg/orang/tahun.

Menghasilkan padi tidak mudah lagi. Tinggal 14,1 juta rumah tangga petani padi. Jumlah ini berkurang sebanyak 60.000 kepala keluarga selama 10 tahun terakhir. Di desa umur petani di atas 35 tahun. Angkatan muda memilih meninggalkan sawah karena dianggap tidak dapat memberikan penghasilan yang layak. 

Penurunan produksi di Pulau jawa karena terjadi penurunan luas wilayah produksi, serangan hama (wereng, tikus), cuaca yang semakin tidak pasti. 

Produksi Gabah kering giling 71,29 juta ton. Impor beras tahun 2013 472 ribu ton senilai 246 juta dolar = Rp. 2,7 Triliun.


Beberapa jenis padi lokal Jawa
Pandan wangi (unggulan Cianjur)
Banyumas: Hitam, Gandamana, Kidangsari, Konyal, Cere Unggul, Cere Kuning, Sari Wangi, Pandan Wangi, Mentik Wangi, Mendali, Sri Wulan, Wangi Lokal.
Bantul: gajah rante, mampu menghasilkan panen 9,6 ton/ha (April 2014) tertinggi di kawasannya)
Banyuwangi: Genjah Arum (Genjah Arum dan Sri Kuning), Ho’ing Jaher, Untup (untup Ruyung, Untup Jelun); Pelang (Pelang Cemeng, Pelang Abang dan Pelang Gini). 

Beberapa Jenis Padi Lokal Kalimantan
Kalimantan terkenal dengan sistem ladang berpindah yang disertai dengan pengetahuan trasidional. Kini selain menghadapi tantangan lahan yang semakin berkurang akibat perkebunan kelapa sawit dan tambang, dampak perubahan iklim kian menyulitkan mereka bertanam padi. 

Kalimantan Barat
memiliki 100 varietas padi lokal dibudidayakan secara turun temurun oleh petani di Kalbar, Sirendah/seredah, Beras Hitam, Pulut (ketan), Beras Merah, Beliah Seluang.

Kalimantan Timur:
Mayas, Adan.

Kalimantan Selatan:
Beras Unus dikenal masyarakat Banjar seabagai satu-satunya beras berkualitas tinggi. 

Kalimantan Tengah
Piasmi dengan keunggulan berumur genjah atau pendek sekitar 100 hari sudah bisa dipanen. 

Beberapa Jenis Padi Lokal Sulawesi
Pulau Sulawesi khususnya  Sulawesi Selatan merupakan lumbung beras Indonesia. 

Beras Lokal: Kamba mete, ketan hitam, lamala Banggai, Kamba yang wangi dan pulen (Lore Lindu, Sulteng). Pare Kaloko, Pare Bulan Pare Mandi, pare tingke, Pare Baea Bonga, Pare Lontong dan Pare Battan (Sulawesi Barat)

Padi gogo Sulawesi Tenggara yang tahan kering: Paebiukolopua, Paebiu Sitoro, Paebiu Tamalaki, Paebiu Angata, Bul0-bulo, Apolo, Wagamba, Sala Bali, Eangko’ito, Wakawondu, Wamengkale, Wangkariri, Ereke-1, X-Guali, Celerang, Y-Bungi, Z-Lapodidi. 

Beberapa jenis padi lokal NTT
Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai propinsi jagung dan beragam umbi-umbian. Tetapi beberapa wilayah seperti Lembor, Manggarai di Pulau Flores, Sumba Timur, Sumba Barat Daya dan Rote Ndao merupakan wilayah penghasil padi. Kawasan lainnya di NTT cocok untuk menanam padi gogo yang tahan kering. 

Padi Kodi, padi Gogo dari Sumba Barat, sudah dipas menjadi varietas unggulan nasional. 

Beras Hitam: Aen Metan. Aen Metan lebih enak dan lebih harum. Hare Kwa yang berumur pendek, Wajolaka. 

Beras kita bukan hanya putih saja. Kini masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi beras yang puth bening/transparan. Hal ini merupakan hasil dari penjajahan yang menyatakan putih itu lebih unggul, serta perdagangan beras yang mengikis habis bagian kulit ari agar beras lebih tahan lama. Tidak heran, saat ini kerap dilakukan penambahan bahan pemutih kimia yang berbahaya pada beras agar tampilan beras lebih berkilau. 

Beras putih pun bervariasi. Ada yang putih bening, ada yang putih susu. Saat kulit arinya tidak disosoh, beras putih dikenal sebagai beras pecah kulit, atau sebagian orang mengenalnya sebagai Brown Rice. Kulit ari beras (bekatul) merupakan sumber vitamin B15 terbaik.

Beras Merah, manfaat yang berlimpah. Varian dari coklat kemerahan, coklat muda, beras merah memiliki gen yang memproduksi antosianin pada lapisan uar beras (aleuron) yang merukan sumber warna merah. Antosiamim merupakan antioksidan yang dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, memperiki kerusakan sel hati (hepatitis dan sirosis), memperlambat penuaan. Kandungan serat lebih tinggi dari beras putih. Sementara kadar gulanya lebih rendah. 

Beras Hitam:
Beras para raja, beras terlarang warna hitam atau keunguan pada beras terjadi karena antosianin yang tinggi (paling tinggi diantara beras lainnya) lebih sedikit gula dan lebih banyak serat serta zat antioksidan lain (vitamin E). Tinggi mineral untuk menanggulangi gizi buruk. 

Bekatul merupakan lapisan sel terluar yang kaya gizi dan bagian terdalam dari sekam. Pada beras yang ditumbuk seara tradisional bekatul menyatu dengan beras menyebabkan warna beras kecoklatan. Pada beras merah dan hitam, bekatul tetap ada. Proses pemisahan bekatul dari bagian beras lainnya dikenal sebagai penyosohan (poslishing) dilakukan untuk memperpanjang masa penyimpanan beras sekaligus membuatnya berwarna putih. 

Kandungan gizi bekatul: Vitamin B1 (tiamin) yang dapat mencegah penyakit beri-beri. Bekatul kaya serat pangan, pati, protein serta mineral. Vitamin B15 berguna untuk mengoptimalkan fungsi organ-organ tubuh. Dulu masyarakat di pedesaan membuat bekatul menjadi dodol dan menjadi cemilan sehari-hari. Kini bekatul banyak dipasarkan sebagai makanan tambahan bagi kesehatan. 


Oryza Sativa L (nama latin padi) yang ditanam di Indonesia memiliki dua subspesies (golongan) yaitu Indica (padi bulu) dan sinica (padi cere)

Padi cere: produktivitasnya tinggi, tahan musim kering dan dapat ditanah yang kurang subur, mudah rebah. 
Padi Bulu/berambut ada ekor pada gabahnya, kualitas tinggi 

Jenis padi berdasarkan tempat tumbuhnya:
Padi Kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi/kering.
Padi Sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan dan Padi rawa yang membutuhkan sistem pengairan pasang surut.

Keunggulan Padi Lokal + Sistem penanaman yang ramah lingkungan:
Kedaulatan pangan diwujudkan petani dengan benih lokal dan penerapan teknologi yang ramah lingkungan salah satunya SRI (Sytem of Rice Intensification). 

SRI merupakan sistem penanaman padi yang memadukan tiga faktor pertumbuhan agar padi sehat dan mencapai produktivitas maksimal: 
-maksimalisasi jumlah anakan, 
-pertumbuhaan akar
-dan suplai unsur hara, air, oksigen.

Para petani hebat:

Joharipin (38) Indramayu berhasil membuat 60 varietas baru. Salah satunya Bongong. Menghasilkan padi 11.3 ton per ha lebih tinggi dari benih hibrida yang rata-rata 10 ton perhectare.

SusatyoKetua APPOLI  bersama kelompoknya menerapkan sistem Internal Control System (ICS) sistem yang harus dipatuhi dalam menghasilkan beras organik. Tahun lalu beras yang dihasilkan oleh Susatyo berhasil menembus pasar Eropa. 

Mbah Suko (almarhum) dan Mbah Gatot: petani-petani lokal yang mengumpulkan benih padi lokal di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Prof. Surono Danu penemu bibit padi unggul 'Sertani'



Fakta-fakta ini dikumpulkan oleh Perkumpulan Indonesia Berseru /TH

Baca Tulisan terkait:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails